Sunday, August 21, 2022
Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan, Seberapa Jauh Kita Berkembang?
Tuesday, June 28, 2022
Literasi Tak Selalu Hanya Membaca. Yuk Menulis dengan Metode Write Around!
Hi, morning good people!
Manjadi guru artinya harus selalu
belajar. Entah meng-update ilmu pengetahuan terkait bidang kita masing-masing,
meng-upgrade kemampuan diri atau juga meng-update drama dan novel terhits tahun
ini. (dua terakhir sih kelakuanku aja ya…)
Di sisi lain, menjadi guru
artinya juga jadi muda dan jadi dewasa di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak,
kita harus paham seluk beluk siswa yang artinya kita harus masuk ke dunia
mereka. Kalau nggak tahu dunianya gimana caranya kita bisa memahami mereka? Tapi
disaat yang bersamaan kita juga adalah orang dewasa yang seharusnya bisa jadi
sandaran, tumpuan, acuan, tempat keluh kesah, dan lain sebagainya bagi mereka
(kadang kita juga jadi bahan untuk mereka menggosip di grup kelas, ye kan??
Hehehe…)
Beberapa kegiatan terkadang
memang melelahkan, ya jujur saja disaat-saat tertentu bahkan kadang aku merasa
kehilangan semangat. Salah satu kegiatan yang aku mulai dan sudah rutin
dilaksanakan di sekolah adalah kegiatan literasi. Sejak sekolah kami diizinkan
untuk mengadakan pertemuan tatap muka, kegiatan literasi ini rutin kami
lakukan. Harapanku nggak muluk-muluk, nggak setinggi langit, sementara aku cuma
berharap beberapa siswaku yang kurang lancar membaca ini akan lancar membaca, siswa-siswaku
yang buta nada (entah titik, entah koma, entah tanda tanya semua nadanya sama)
itu bisa membaca dengan intonasi yang benar, siswaku yang kemarin membacanya
masih mengeja (iya, nggak salah baca. Siswaku kelas VII ada yang membacanya
masih macam gini) bisa membaca tanpa mengeja. Apa harapanku terlalu tinggi?
Dalam kegiatan literasi ini aku belum
pernah memakai buku-buku science fiction atau non-fiction,
bisa-bisa mereka kabur duluan. Aku cuma memakai buku-buku fiksi yang aku ambil
dari beberapa situs online seperti www.letsreadathome.org
, https://storyweaver.org.in/ , atau https://buku.kemdikbud.go.id/ .
Kegiatannya pun nggak sulit, kami membaca nyaring di kelas, kemudian biasanya
aku tanya-tanya tentang kosakatanya (kalau ada kosakata yang menurutku sulit
atau baru bagi mereka selalu aku tuliskan di papan dan aku jelaskan artinya),
kalau satu buku sudah habis kami baca biasanya ada satu atau dua siswa
menceritakan Kembali di kelas. Satu buku bisa baru habis kami baca dalam lima
hari literasi. Kelihatannya mudah kan? Kelihatannya aja…
Berhasilkah tujuan yang ingin
kucapai? Well, nggak semua tapi lumayan. Satu siswaku masih sulit banget membaca,
aku bingung sudah harus gimana. Apalagi dihadapkan dengan tangisannya,
subhanallah, semoga aku selalu awet muda macam Son Ye Jin (hahahahaha….).
Aku paham anak-anak adalah makhuk
yang gampang bosan (aku juga sih), jadi kegiatan literasi ini biasa aku selingi
dengan kegiatan menulis. Ya tak bis akitapungkiri keterkaitan antara kemampuan
kita memahami bacaan dan kemampuan kita menuangkan ide. Beberapa kegiatan
menulis aku sesuaikan dengan buku yang sedang kami baca, misalnya:
1. 1. enuliskan
satu kesulitan hidup mereka dan bagaimana cara mereka mengatasinya (ketika
selesai membaca buku berjudul “Sang Penyembuh oleh Allyson Curro”)
2. 2. Menuliskan
mereka ingin jadi apa 10 tahun kedepan (ini kami lakukan ketika selesai membaca
buku “Sang Doctor oleh Allyson Curro”)
3. 3. Menuliskan
3 kelebihan dan 3 kelemahan mereka dan bagaimana itu berpengaruh dalam kegiatan
mereka sehari-hari.
4. Menulis
bebas dengan metode write around (disini aku menuliskan sebuah kalimat pembuka
di papan tulis, kemudian siswa secara bergiliran melanjutkan kalimat yang aku
tulis di papan supaya nantinya jadi satu cerita, setiap siswa bertanggung jawab
menuliskan satu kalimat yang kalimatnya seharusnya terkait dengan kalimat
selanjutnya dan nggak keluar dari topik.)
![]() |
| Riwan (siswa kelas VII) sedang melanjutkan cerita. |
![]() |
| Sofi (siswa kelas VIII) menutup cerita |
Write around ini yang biasanya seru, setelah beberapa siswa sudah menulis indah terkait kalimat sebelumnya, kadang ada aja siswa yang nulis out of topic dan itu jelas mengacaukan jalan cerita. Kadang bisa jadi kelahi juga ini, kawan yang dapat giliran setelahnya bisa ngamuk. (geli juga aku baca cerita mereka.)

Siswanya sedikti tapi suaranya "banyak"
![]() |
| Ceritanya berliku-liku meskipun kalimat awal yang aku tulis sangat sederhana |
Yaaaa, apapun hasilnya aku berusaha tetap semangat. Mencapai sesuatu sering tidak mudah, sering aku harus menguatkan diriku sambil mikirin gimana caranya supaya tujuan-tujuan pembelajaran ini tercapai (kadang sambal kutinggal nonton drama, baca novel atau nge-rant di blog sih biar aku tetap waras aja).
Nah beberapa tips dari aku untuk kegiatan menulis write around ini:
1. Untuk bapak/ibu guru, tulislah kalimat pertama yang sederhana. Sungguh nggak usah muluk-muluk menulis kalimat kompleks atau compound complex. Perhatikan kemampuan siswa kita, aku yakin bapak/ibu guru ini paling jago memahami.
2. Pilihlah topik yang menarik untuk siswa kita, topik yang sedang hits. Bisa juga disesuaikan dengan suasana. Nggak usah terlalu serius topiknya, ini bukan menulis essay, ini cuma salah satu usaha supaya anak-anak belajar menulis dengan mengembangkan ide.
3. Jangan lupa Bapak/ Ibu guru siapkan mental, siapa tahu tulisan siswanya melenceng dari jalur. Meskipun ini bisa saja terjadi (seperti di kegiatan write around kami yang pertama) tapi mohon bapak/ibu jangan marah-marah nanti cepat tua. Sabarlah, bimbing siswa kita.
Membaca dan menulis bisa seiring sejalan. Banyak buku bagus yang bisa kita akses online and free, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya saja.
Happy Weekdays! (Tapi ini lagi libur semester Genap ya... )
Sunday, February 6, 2022
Modul Bahasa Inggris Kelas VII. Cheer Up!
Monday, November 29, 2021
Tugas - Konsep Implementasi Numerasi dalam Pembelajaran
Apa sih pelajaran yang anak-anak
sukai? Olahraga? Seni? Matematika? Atau Bahasa Inggris?
Kebanyakan siswa menyukai mata
pelajaran yang menyenangkan. Entah yang materinya menyenangkan, dekat dengan
kehidupan mereka sehari-hari atau karena gurunya yang humoris sehingga
pelajaran yang sulit pun tidak terasa menegangkan.
Mata pelajaran Matematika, IPA,
atau Bahasa Inggris kebanyakan dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit,
apalagi jika gurunya tidak dapat menguasai kelas dan membuat kelas terasa
menegangkan.
Lalu apakah Matematika atau
Bahasa Inggris selalu menjadi mata pelajaran yang ditakuti? Hasilnya bisa berbeda
bergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Untuk mengembangkan kecakapan
literasi dan numerasi siswa perlu dilakukan berbagai macam alternatif kegiatan.
Materi mata pelajaran Bahasa
Inggris kelas IX salah satunya adalah “product label”. Materi ini dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Label produk dapat ditemukan pada berbagai jenis produk
yang dekat dengan siswa seperti makanan, minuman, obat-obatan, produk perawatan
wajah dan lain sebagainya.
Pada materi ini selain
mengembangkan kemampuan literasi siswa dapat pula digunakan untuk mengembangkan
kemampuan numerasi siswa.
Misalnya kita bisa tunjukkan dua
label produk yang berbeda dengan fungsi produk yang sama. Misalnya kitab isa menunjukkan
dua buah produk makanan ringan. Sebagai contoh guru bisa meminta siswa
untuk mengamati dua label produk dari dua merek makanan ringan yang sejenis
tapi beda merek. Dari kegiatan tersebut guru dapat meminta siswa untuk
membandingkan kandungan produk pada merek tersebut, setelah itu membandingkan
harga produknya, dan memilih mana yang lebih baik diantara produk A dengan
harga sekian dan produk B dengan harga sekian.
| Proses pembelajaran dengan materi "Product label" |
Dalam kegiatan pembelajaran ini guru perlu menyiapkan beberapa contoh produk yang nantinya akan diamati label produknya. Dalam pelaksanaannya siswa perlu waktu yang cukup lama untuk memahami produk label dan membandingkannya. Seharusnya kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelompok yakni dalam kelompok kecil sehingga setelah kegiatan dapat dilakukan diskusi dan pembahasan. Akan tetapi karena jumlah siswa kelas IX hanya tiga orang maka kegiatan dilakukan tidak dalam kelompok. Hasilnya siswa lebih bersemangat karena mereka mengamati produk nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Tapi apapun yang terjadi, guru harus tetap semangat mencari berbagai macam cara untuk mengembangkan kemampuan siswanya. Tak ada yang dapat kita capai tanpa berusaha.
Wednesday, July 14, 2021
PPKM, Online Class, Officially student. Yeay!
...Akupun tersenyum
Menanti esok hari
Tak sabar ingin bersama
Teman-temanku lagi...
Theme song series Belinda itu sering dinyanyiin anakku. Jangan pancing dia dengan lirik lagu itu, dia bakalan nyanyikan satu lagu penuh dengan nyaring.
Minggu ini sesuai kalender pendidikan sudah mulai masuk tahun ajaran baru ya, siap-siap nih anak-anak masuk sekolah. Yang anak-anaknya masih usia preschool atau primary school orang tuanya harus bersiap juga. Bersiap mendampingi anak belajar online. Yang anaknya dua atau tiga dan masih harus di dampingi, good job, you are a hero! 😂 Selama tahun ajaran kemarin, aku sudah merasakan gimana luar biasanya kegiatan belajar dan mengajar online untuk anak SMP, sekarang saatnya ngikutin Ziya belajar online.
Pertama dapat kabar dari wali kelasnya kalau Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS)-nya online hatiku langsung deg deg serrrr kayak mau ketemu Lee Seung Gi. Sesuai jadwal PLS nya tanggal 12-14 Juli 2021 online via zoom. Hari pertama masuk sekolah online, aku yang cenut-cenut. Aku nggak khawatir soal bangun, mandi atau sarapan karena Ziya memang sudah terbiasa bangun pagi, mandi pagi dan langsung sarapan setelah itu baru dia main atau yang lainnya. Yang aku khawatirkan adalah gimana kalau dia ngambek terus nangis, frekuensi nangis dia itu setara dengan seringnya Rafi Ahmad muncul di TV. Hari pertama dia PLS online, aku nggak bangun lebih pagi sih cuma aku nggak sepedaan setelah subuh. Ya ngepasin supaya sempat nyuci, masak, mandi, sarapan dan siap di depan laptop sebelum jam 7.30 pagi.
Hari pertama dijadwalkan untuk perkenalan baik perkenalan dari guru maupun dari siswa. Malam sebelumnya aku sudah bilang ke Ziya kalau besok dia harus memperkenalkan diri ke teman-temannya. Pada dasarnya dia sudah tahu dimana dia tinggal, dia umur brp, rumahnya dimana, siapa nama ayah dan ibunya. Tapi aku bilang perkenalannya singkat saja sebutkan nama lengkap, nama panggilan dan rumahnya dimana. Singkat cerita anak ini menambahkan Hai teman-teman setelah salam. Ya sudahlah, I think it's cute. Jadi di hari pertama itu setelah sekitar 30 menit dia mulai gelisah karena nama dia kok belum dipanggil. Aku berusaha memberi pengertian kalau perkenalannya gantian, bu guru manggil sesuai daftar dan daftar nama dia ada di bawah. Okelah dia kayaknya ngerti tapi sambil manyun-manyun gitu nunggunya. Sambil mainin action figur abahnya yg ada di atas meja lah, sambil coret-coret di bukunya, pokoknya ada aja. Akhirnya tibalah giliran dia, langsung berubah raut mukanya. Ceria. Kelas pertama PLS ini sekitar 1 jam, dan aku sudah bersyukur dia nggak lari-larian kesana kemari selama kelasnya. I couldn't ask more. Setelah kelas zoom selesai rupanya ada tugas untuk hari itu, siswa diminta untuk menyimak video PLS sekolah. Tadinya kupikir dia akan nolak, ternyata dia mau. Beberapa menit pertama dia masih datar-datar aja nyimak video nya, setelah beberapa menit dia jadi excited karena melihat kelasnya, yang dulu dia sudah pernah lihat waktu observasi untuk masuk TK. Syukurlah. Karena diminta untuk mengirimkan foto ketika anak-anak menyimak video PLS, maka jadilah foto dibawah ini.
Hari kedua PLS online, jadwalnya pengenalan lingkungan belajar. Hari kedua ini sejak bangun tidur Ziya sudah heboh "Ma, cepat ma Ziya sekolah nanti terlambat". OMG, masih belum jam 7 dia sudah heboh nyuruh mamanya siap-siap. Artinya dia senang sekolah, meskipun online. Dia mulai nanya apa temannya sama dengan yang kemarin, berapa banyak temannya, hari ini mau ngapain. Pokoknya banyak tanya anak ini. Kadang kalau pertanyaannya sulit kaya misalnya pas dia lihat aku bersihin udang galah terus aku ngeluarin kotorn dari kepalanya dia nanya kenapa kotorannya di kepala ma, kenapa udang nggak punya perut, kenapa capitnya ada yang besar ada yang kecil, I feel like I wanna dig a hole and hide there, aku menyesal kenapa waktu pelajaran biologi dulu aku bebal. Karena pertanyaan-pertanyaan dia aku banyak menyesali kenapa waktu sekolah dulu aku let it flow aja, nggak rajin-rajin membaca. Kalau aku lagi pegang HP bisa langsung nanya Google tapi pas enggak, rasanya aku selalu nyari jawaban yang masuk akal aja supaya pertanyaan dia terjawab. Maafkan aku.
Kelas PLS online hari kedua dimulai jam 7.30, ya agak molor dikit lah. Biasa nunggu peserta zoom nya. Zoom meeting orang dewasa aja sering nolor apalagi ini pesertanya anak-anak. Hari kedua lumayan oke. Ziya senang karena dia bisa melihat sekolahnya, meskipun online. Kelas kedua ini juga nggak se-chaos kelas hari pertama karena anak-anak nggak perlu ngomong satu per satu. Aku salut dengan gurunya, nggak mudah zoom dengan anak-anak. Bersyukur anak-anak ini beberapa bukan tipe pemalu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan gurunya. Bagiku, anak usia 4-5 tahun mau duduk ikut kelas zoom, mau menyahuti "semangat" ketika gurunya tanya "masih semangat sekolah?" itu udah luar biasa.
![]() |
| PLS hari kedua |
Sunday, June 20, 2021
Happy Birthday, My Lord!
Been in wonder what should I do on your birthday, considering that I'm not a kind of romantic person.
A cake sounds good but you seems like trail motorcycle more. 😂
Since I don't have enough money (yet) to buy you fancy things like trail motorcycle or Galaxy Tab S7+, I prefer writing on my blog to congratulate you.
The first time I saw you ten years ago wasn't the time I fell for you. That's not love at the first sight, but my love for you grows every day. I'm watching you willing to go up, doing everything you can to be better.
Congratulations My Lord, on your 34th, may Allah give you blessings.
Honestly I envy you, since the day we got married, you grows better than me. You achieve many things on your own, but I did with your help.
Congratulations My Lord to live your life to the fullest. Wish you can do all the things you love.
Let's grow better together, we may make mistakes but that won't take us apart.
Let's always stay clear headed in every conversation and discussion we have in order not to be insane in this damn difficult world.
From now on, wish you always be healthy and happier.
In my lifetime, I will always get your back. I may not on your side 24 hours a day, 7 days a week, 30 days a month or 365 days a year but I never leave you an inch in my prayer. I may watch k-drama or c-drama, but I'm into you.
Congratulations My Lord, let's always get each other back.
Ziya and I will always love you. 😘😘😘
Saturday, May 22, 2021
Prioritas Tanpa Batas, Semua Kegalauan Ada Masanya.
Hai hai hai....
Prioritas tanpa batas.
Kenapa tiba-tiba ngomongin prioritas?
Biasanya yang sering terdengar kreativitas tanpa batas, bukan prioritas. Saya kebetulan seorang guru, meskipun pasti tidak sempurna, satu hal yang saya pastikan juga adalah saya selalu ingin anak didik saya menjadi anak baik. Meskipun saya tidak seperti ibu peri di kelas, meskipun sekali dua kali tiga kali dan kali lain saya ngomel di kelas, tapi tidak pernah sekalipun saya mendo'akan anak didik saya tidak berhasil. Dan saya yakin, tidak ada satu pun guru, dosen, ustadz, ustadzah yang ingin anak didiknya gagal. No one.
Baru-baru ini ada satu kejadian yang membuat saya bilang "sayang sekali ya...". Karena pandemi covid-19, kegiatan belajar mengajar sudah satu tahun lebih diadakan online, baik yang memang full online classes ataupun yang offline, daring, luring maupun kombinasi daring dan luring. Saya yakin dalam hati anak-anak pasti jenuh dan ingin semua kembali normal. Saking lamanya belajar dari rumah (BDR), anak didik saya di sekolah banyak yang amblas motivasi belajarnya. Baru-baru ini malah dapat kabar salah satu anak didik saya nikah, dia cewek. Iya, gadis remaja usiao sekolah kelas VIII, SMP,nikah. Deggggg...! Ada rasa pilu dihati sih, kenapa tiba-tiba nikah? Terakhir ketemu sebelum puasa, dia masih ngumpulkan tugas lewat WA, dia masih nanya tugas yang dia nggak paham.
Kalau dengar kabar teman sebayaku nikah, alhamdulillah sudah ketemu jodohnya, tapi ketika dengar anak kelas VIII yang sebulan lalu masih sekolah terus sekarang nikah, reaksi pertama saya bukan "alhamdulillah datang jodohnya." I can't do it that way. Yang ada dalam pikiran saya pertama kali adalah "are you kidding me? Mosok seh? Tenan e?" Anak usia segitu, yang harusnya masih menikmati masa-masa belajar bareng teman-temannya, menekuni hobinya, atau lagi asik-asiknya fangirling, malah memilih mengikuti rasa penasarannya akan cinta yang akhirnya berujung pada sebuah pernikahan dini. Iya sih, menikah memang hak setiap orang, tapi dalam Undang-Undang negara kita, pernikahan tetap diatur, ada UU nya, UU no 16 tahun 2019. Dalam pasal 7 ayat 1 berbunyi: "Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas tahun)". Dan ini anak murid kelas VIII yang usianya belum sampai 19 tahun, dinikahkan, for real. Memang bukan anak saya, dan orang tuanya pu ya pertimbangan untuk menikahkan. Terus kenapa saya nulis? Saya berharapnya anak didik saya yang lain nggak sampai putus sekolah terus nikah. Menikahlah nanti, ketika sudah selesai sekolah, paling tidak selesaikanlah wajib belakar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah. Itu yang bikin aturan pusing lho mikirnya,banyak pertimbangannya juga.
Saya bukan tipe yang keras banget tapi juga nggak lembek banget kalau soal cinta-cintaan ini. Selama ini saya selalu terbuka sama anak didik saya. Mahasiswa/i saya dulu beberapa ada yang curhat masalah cinta-cintaan saya ladeni, siswa saya di SMK dulu cerita pacar saya oke, termasuk siswa/i saya sekarang yang anak SMP cerita gebetan saya dengarkan. Dengarkan dengan seksama. Bukan berarti saya biarkan mereka cinta-cintaan begitu saya, saya selalu tekankan segala sesuatu ada masanya, ada tanggung jawabnya, ada resikonya, ada prioritasnya. Di usia mereka seharusnya prioritasnya apa selalu saya tekankan. Siswi saya SMP wajar saja kalau menyukai lawan jenis, it's normal. Yang tidak normal adalah kalau sampai kehilangan pegangan sampai tidak tahu prioritas.
Saya selalu tekankan sama mereka, sebagai siswa tanggung jawab mereka apa, prioritas mereka harus tetap tentang sekolah, belajar. Mereka boleh fangirling, boleh suka lawan jenis tapi tidak boleh hilang kendali. Suatu kali saya pernah mengumpulkan anak didik saya yang satu SMP jumlahnya cuma 14 anak itu di depan kantor guru, saya ingatkan yang mana prioritas. Saya ingatkan karena mereka siswa, tugas utamanya belajar. Kalau mereka k-pop idol ya tugas utamanya bukan belajar di sekolah, kalau mereka actor/actress ya tugas utamanya mengasah kemampuan berakting mereka supaya ketika memerankan peran itu bisa seperti nyata. Semua ada masanya, ada porsinya. Seperti sekolah, menikah juga ada masanya, nanti kalau sudah cukup umur dan siap secara mental dan fisik.
Jangan dikata anak SMP sudah siap fisiknya, meskipun bongsor, dilihat dari segi kesehatan itu beresiko, apalagi kalau langsung hamil dan melahirkan, resiko tinggi. Sebagai individu, masing-masing dari kita punya prioritas, setiap pilihan juga pasti ada tanggung jawabnya. Kalaupun sudah membuat pilihan yang dirasa berat tanggung jawabnya ya percayalah dari situ kita akan jadi orang yang lebih kuat.
Bersyukurlah anak sekolah yang kegalauannya masih antara mau ngerjakan tugas Matematika dulu atau Bahasa Inggris dulu, mau nonton NCT atau BTS, mau pilih V atau Jungkook, mau Suho atau Baekhyun mau main PUBG atau among us; disaat ada anak usia sekolah lain yang cuma berharap pengen sekolah dan senang-senang dengan teman-temannya tapi keadaan tidak berpihak sehingga terpaksa dia nggak bisa sekolah dan bersenang-senang.
Bersyukurlah dedek-dedek gemes yang kegalauannya masih antara mau beli laneige atau ms glow, antara mau pakai produk lokal atau luar, mau nonton Hwang In Yeop atau Cha Eun Woo disaat yang lain udah bingung mikirin harus beli popok merek apa atau sufor merek apa karena ngepas2in duit jatah bulanan suami.
Bersyukurlah embak-embak yang kegalauan hatinya masih antara mau pakai baju dari Wearing Klamby atau Vanilla, mau beli kerudung Zytadelia atau Mandja Ivan Gunawan, mau pakai Shu Uemura atau Make Over aja, mau nonton Lee Seung Gi atau Song Jong Ki, mau pilih jadi fans Wang Yibo atau Xiao Zhan, Dylan Wang atau Xu Kai, mau beli tas harga 100 ribu atau 1 juta disaat yang lainnya ada yang galau antra hidup dan mati, bertahan dalam hubungan rumah tangga yang mencekik leher demi anak atau pergi.
Bersyukurlah ibu-ibu yang kegalauan hatinya masih antara gemes suami mancing atau nge-trail disaat ibu-ibu lain galau antara suami suka teman kantor atau suami suka ladies.
Jadi, setiap orang sudah pasti punya kehidupannya masing-masing, they fight their own battle, we can't put other shoes on our feet tapi bukan berarti kita nggak peduli sama orang di sekitar kita.
Let's remind our beloved one if they took the wrong path in common, mari tetap ingatkan orang-orang yang kita sayangi kalau mereka mengambil langkah yang salah secara umum, tentang bagaimana mereka menanggapi saran dan kasih sayang kita itu tanggung jawab mereka. Salah seorang dosen yang saya kagumi pernah bilang you can be somebody's hero and somebody else's asshole at the same time. Note it!
Prioritas. Selama kita hidup kita akan terus dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terkadang pilihan itu kurang lebih sama buruknya, tergantung prioritas kita masing-masing.
Sama seperti saya, yang masih nonton k-drama, c-drama dan drama-drama lain padahal punya kewajiban jadi ibu rumah tangga. Tapi prioritas saya tetap bukan itu, saya masih main sama anak, masak (kalau lagi gak mood atau malas ih beli, bagi-bagi rejeki dengan yang jualan makanan), masih tetep kerja, masih tetep ngomelin suami kalau ngambil baju dilemari jadi berantakan.
Sekian.
Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
Salam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” ( Teach...
-
Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai PemimpinSalam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” ( Teach...
-
Assalamu’alaikum, wr.wb. Salam guru penggerak! Setelah selama kurang lebih dua minggu mempelajari modul 1.2 dengan metode MERDEKA, dal...
-
She is my sunshine but not the only sunshine. Ziya Inara Aziza. 😁😁 Why not?? Because I'm human; an ordinary daughter of my mom, unp...
.png)
.png)








