Sunday, August 21, 2022

Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan, Seberapa Jauh Kita Berkembang?

Hi, good people.

Days in my life, sekarang masih sibuk jadi mahasiswa PPG. Jadi mahasiswa lagi setelah sekian lamaa, rasanya refreshing, challenging sekaligus pusing. 😄😄

Sebenarnya PPG ini sudah jadi issue in my life since 2018. Jadi aku lulus kuliah akhir 2011, tahun 2012 sampai 2015 ngajar di Language Center Universitas Muhammadiyah Malang, 2016 pindah ke Sampit Kalimantan tengah ngajar Bahasa Inggris untuk mahasiswa tahun pertama di Universitas Darwan Ali Sampit, Januari 2017 baru mulai ngajar di sekolah di SMKN 3 Sampit dan tahun 2018 ikut tes akademik (yang waktu itu disebut pre-test PPG) dan lulus. Tapi karena satu dan lain hal baru bisa ikut PPG di tahun 2022. Just skip the story in 2019-2022 before July.

Sudah dua tahun terakhir ini PPG dilaksanakan secara daring karena pandemi covid-19. Apa sulit PPG daring?  Sulit atau tidaknya menurutku tergantung pribadi masing-masing ya. Tapi sejauh kita berusaha dan berdoa, Tuhan akan memberikan jalan. 

Let's check what should we prepare before joining online classes!

Kita harus belajar mandiri dengan merangkum modul pembelajaran yang bisa kita download di SIM PKB saat jadwal lapor diri. Di tahap ini ada 4 modul pedagogi dan 6 modul profesional yang harus kita rangkum. Di tahap ini menurut saya tantangan terbesarnya ada pada bagian merangkum modul pedagogi. Why? Karena banyak banget halamannya. 😅 
Bisakah kita skip bagian merangkum ini? Atau bisakah kita nyontek aja punya teman? Big no! Karena pengetahuan yang kita dapat dari merangkum ini akan kita pakai nanti sewaktu belajar di kelas online. 
And you have to make a clear summary. Buatlah ringkasan yang sesuai dan pahamilah ringkasannya. Jangan cuma meng-copy bagian-bagian awalnya saja.

Ini salah satu contohnya, saya kasih satu aja rangkuman saya untuk modul 3 pedagogik dan modul 1 profesional:



After that, what should we do when joining the class?

Karena kita kuliah jadi pasti ada tugas-tugas yang harus kita kerjakan. Yang kedua seperti ketika kita kuliah dulu, atau ketika sekolah dulu, kita juga harus aktif di kelas. Aktif seperti apa sih yang diharapkan? Sama seperti kita ketika ngajar di kelas, aktif yang baik ya aktif yang sesuai dengan konteks. Ada dosen di kelas bilang bahwa ketepatan pertanyaan dan ketepatan jawaban juga menjadi salah satu kriteria penilaian. Jadi kalau kita menanyakan sesuatu yang sudah di jelaskan (yang seharusnya sudah kita pahami) berarti kemampuan kita menyimak bisa dipertanyakan, is that right? Jadi intinya kita harus punya pengetahuan awal yang cukup supaya di kelas nanti nggak ketinggalan, paling nggak bisa save our face- lah yaaa....

Jadi PPG daring itu belajarnya di LMS (Learning Management System) yang nanti ada sinkronus dan asrinkronus, sinkronusnya kelas online via zoom meeting, asinkronusnya diskusi di LMS. Semua tugas juga nanti harus di upload di LMS ya, tenang nggak usah khawatir yang nggak punya printer, sekarang udah nggak musim print-out. 😁

Di LMS nanti ada 5 yang harus di lalui, apa aja?
1. Pendahuluan 
Di pendahuluan ini nanti ada dibagi dua bagian yaitu pendahuluan dan orientasi, dibaca aja kalau mau. kalau enggak bisa di skip aja. Karena materinya kan sudah kita dapat waktu masa orientasi.

2. Pendalaman Materi
Di bagian ini nanti melakukan identifikasi masalah, eksplorasi penyebab masalah dan menentukan penyebab masalah.

Nah, masalah semua kan isinya? 😆

Di bagian ini teman-teman harus menganalisis permasalahan pemeblajaran yang ditemui di skeolah masing-masing. Di bagian ini juga temean-teman harus siap jadi interviewer yang baik karena nanti harus mewawancara beberapa orang supaya bisa mengisi tagihan LK yang harus di upload  di LMS. Belajar jadi wartawan juga ya, kejar tayang soalnya ini. 

Nah LK yang sudah teman-teman kerjakan waktu belajar mandiri (LK 0.1) itu di uploadnya di bagian pendalaman materi ini, jadi kalau teman-teman tidak meng-upload LK 0.1 ini tahap selanjutnya di LMS tidak terbuka. 

FYI, semua tagihan yang ada di LMS itu adalah prasyarat untuk kita bisa ikut kelas selanjutnya. Jadi usahakan selalu tepat waktu meng-upload semua tugas.


Kalau sudah upload tugas nanti warnanya akan hijau dengan keterangan "Selesai: Buat Pengajuan". Lalu baru bisa membuka link untuk kelas selanjutnya atau tahap selanjutnya.

Tahap pendalaman materi ini waktunya cukup panjang dan banyak yang harus kita kerjakan, total ada 4 LK yang harus kita selesaikan yaitu LK. 1.1 sampai LK. 1.4. Fightinggggggg!!!! 💪💪💪💪💪

3. Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Tahap ketiga ini yang lumayan menguras pikiran dan tenaga, tapi nggak menguras kantong, tenang. 


Bagian pengembangan perangkat pembelajaran ini ada 4 hal yang harus dikerjakan:
1. eksplorasi alternatif solusi;
2. penentuan solusi;
3. pembuatan rencana aksi;
4. pembuatan rencana evalusi.

Nah lhooo..banyak kan. Produk dari tahap ini adalah Perangkat Pembelajaran Lengkap yaitu RPP, Bahan Ajar, Media Pembelajaran, Kisi-kisi Soal, Instrumen Soal, Kunci Jawaban, Rubrik Penilaian, Lembar Kerja peserta Didik (LKPD) juga Rencana Evaluasi. Untuk tahun ini model pembelajaran yang ditekankan adalah Problem Based Learning dan Project Based Learning. 

Dan untuk membuat perangkat pembelajaran lengkap itu aku perlu banyak waktu dan inspirasi. Tapi santai aja, inspirasi bisa datang kapanpun dan dimanapun, kalau stress duluan malah inspirasinya kabur.... ya nggak?

Aku aja kadang pas masak, sambil goreng-goreng gitu muncul ide...oh bisa aja nih bikin soal model A supaya in line dengan indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajarannya. Kadang lagi njemur cucian juga bisa datang inspirasi. 😋

Mau bocoran RPP Lengkap? Emmmm.. nanti aja ya...


Nah setelah melewati tahap pembuatan perangkat pembelajaran ini, harus ikut Uji Komprehensif dulu baru bisa ikut PPL. Apa yang diujikan? Nanti di blog aku yang selanjutnya ya...lanjutannya dan juga bocoran RPP lengkapnya.


Intinya, usahakan yang terbaik (terbaik itu ya bukan berarti ahh terserah aja deh, terbaik itu ya usahakan punya persiapan, baru boleh bilang apapun yang terjadi terserah), dan juga selalu berdoa. Apapun hasilnya setelah usaha dan doa tadi, itulah takdir Tuhan untuk kita..

Untuk Ujian Komprehensif dan PPL nya next chapter ya...

Have a great day. 💚💚💚







Tuesday, June 28, 2022

Literasi Tak Selalu Hanya Membaca. Yuk Menulis dengan Metode Write Around!

 

Hi, morning good people!

Manjadi guru artinya harus selalu belajar. Entah meng-update ilmu pengetahuan terkait bidang kita masing-masing, meng-upgrade kemampuan diri atau juga meng-update drama dan novel terhits tahun ini. (dua terakhir sih kelakuanku aja ya…)

Di sisi lain, menjadi guru artinya juga jadi muda dan jadi dewasa di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak, kita harus paham seluk beluk siswa yang artinya kita harus masuk ke dunia mereka. Kalau nggak tahu dunianya gimana caranya kita bisa memahami mereka? Tapi disaat yang bersamaan kita juga adalah orang dewasa yang seharusnya bisa jadi sandaran, tumpuan, acuan, tempat keluh kesah, dan lain sebagainya bagi mereka (kadang kita juga jadi bahan untuk mereka menggosip di grup kelas, ye kan?? Hehehe…)

Beberapa kegiatan terkadang memang melelahkan, ya jujur saja disaat-saat tertentu bahkan kadang aku merasa kehilangan semangat. Salah satu kegiatan yang aku mulai dan sudah rutin dilaksanakan di sekolah adalah kegiatan literasi. Sejak sekolah kami diizinkan untuk mengadakan pertemuan tatap muka, kegiatan literasi ini rutin kami lakukan. Harapanku nggak muluk-muluk, nggak setinggi langit, sementara aku cuma berharap beberapa siswaku yang kurang lancar membaca ini akan lancar membaca, siswa-siswaku yang buta nada (entah titik, entah koma, entah tanda tanya semua nadanya sama) itu bisa membaca dengan intonasi yang benar, siswaku yang kemarin membacanya masih mengeja (iya, nggak salah baca. Siswaku kelas VII ada yang membacanya masih macam gini) bisa membaca tanpa mengeja. Apa harapanku terlalu tinggi?

Dalam kegiatan literasi ini aku belum pernah memakai buku-buku science fiction atau non-fiction, bisa-bisa mereka kabur duluan. Aku cuma memakai buku-buku fiksi yang aku ambil dari beberapa situs online seperti www.letsreadathome.org , https://storyweaver.org.in/ , atau https://buku.kemdikbud.go.id/ . Kegiatannya pun nggak sulit, kami membaca nyaring di kelas, kemudian biasanya aku tanya-tanya tentang kosakatanya (kalau ada kosakata yang menurutku sulit atau baru bagi mereka selalu aku tuliskan di papan dan aku jelaskan artinya), kalau satu buku sudah habis kami baca biasanya ada satu atau dua siswa menceritakan Kembali di kelas. Satu buku bisa baru habis kami baca dalam lima hari literasi. Kelihatannya mudah kan? Kelihatannya aja…

Berhasilkah tujuan yang ingin kucapai? Well, nggak semua tapi lumayan. Satu siswaku masih sulit banget membaca, aku bingung sudah harus gimana. Apalagi dihadapkan dengan tangisannya, subhanallah, semoga aku selalu awet muda macam Son Ye Jin (hahahahaha….).

Aku paham anak-anak adalah makhuk yang gampang bosan (aku juga sih), jadi kegiatan literasi ini biasa aku selingi dengan kegiatan menulis. Ya tak bis akitapungkiri keterkaitan antara kemampuan kita memahami bacaan dan kemampuan kita menuangkan ide. Beberapa kegiatan menulis aku sesuaikan dengan buku yang sedang kami baca, misalnya:

1.      1. enuliskan satu kesulitan hidup mereka dan bagaimana cara mereka mengatasinya (ketika selesai membaca buku berjudul “Sang Penyembuh oleh Allyson Curro”)

2.        2. Menuliskan mereka ingin jadi apa 10 tahun kedepan (ini kami lakukan ketika selesai membaca buku “Sang Doctor oleh Allyson Curro”)

3.      3. Menuliskan 3 kelebihan dan 3 kelemahan mereka dan bagaimana itu berpengaruh dalam kegiatan mereka sehari-hari.

4.      Menulis bebas dengan metode write around (disini aku menuliskan sebuah kalimat pembuka di papan tulis, kemudian siswa secara bergiliran melanjutkan kalimat yang aku tulis di papan supaya nantinya jadi satu cerita, setiap siswa bertanggung jawab menuliskan satu kalimat yang kalimatnya seharusnya terkait dengan kalimat selanjutnya dan nggak keluar dari topik.)

Riwan (siswa kelas VII) sedang melanjutkan cerita.


Sofi (siswa kelas VIII) menutup cerita

Write around ini yang biasanya seru, setelah beberapa siswa sudah menulis indah terkait kalimat sebelumnya, kadang ada aja siswa yang nulis out of topic dan itu jelas mengacaukan jalan cerita. Kadang bisa jadi kelahi juga ini, kawan yang dapat giliran setelahnya bisa ngamuk. (geli juga aku baca cerita mereka.)

 

Siswanya sedikti tapi suaranya "banyak"

Ceritanya berliku-liku meskipun kalimat awal yang aku tulis sangat sederhana

Yaaaa, apapun hasilnya aku berusaha tetap semangat. Mencapai sesuatu sering tidak mudah, sering aku harus menguatkan diriku sambil mikirin gimana caranya supaya tujuan-tujuan pembelajaran ini tercapai (kadang sambal kutinggal nonton drama, baca novel atau nge-rant di blog sih biar aku tetap waras aja).

Nah beberapa tips dari aku untuk kegiatan menulis write around ini:

1. Untuk bapak/ibu guru, tulislah kalimat pertama yang sederhana. Sungguh nggak usah muluk-muluk menulis kalimat kompleks atau compound complex. Perhatikan kemampuan siswa kita, aku yakin bapak/ibu guru ini paling jago memahami.

2. Pilihlah topik yang menarik untuk siswa kita, topik yang sedang hits. Bisa juga disesuaikan dengan suasana. Nggak usah terlalu serius topiknya, ini bukan menulis essay, ini cuma salah satu usaha supaya anak-anak belajar menulis dengan mengembangkan ide.

3. Jangan lupa Bapak/ Ibu guru siapkan mental, siapa tahu tulisan siswanya melenceng dari jalur. Meskipun ini bisa saja terjadi (seperti di kegiatan write around kami yang pertama) tapi mohon bapak/ibu jangan marah-marah nanti cepat tua. Sabarlah, bimbing siswa kita. 

Membaca dan menulis bisa seiring sejalan. Banyak buku bagus yang bisa kita akses online and free, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya saja. 

Happy Weekdays! (Tapi ini lagi libur semester Genap ya... )


Sunday, February 6, 2022

Modul Bahasa Inggris Kelas VII. Cheer Up!


Hari-hari di sekolah nggak selalu mulus kayak kulit Karina Aaespa atau Taehyung BTS. Sama kayak ibu-ibu yang sibuk memikirkan menu masakan hari ini, apalagi kalau si bapak maunya menunya beda tiga kali sehari dan harus homemade pula. Bingung kan? Kalau aku langsung ambil spatula dan nyanyi.....
  
....... jujuuuur aku tak kuasaaaa......

Ngajar juga kurang lebih gitu kalau aku. Kadang pas aku udah semangat 45 mau menegakkan sila ke-5, anak-anak muridku disini yang semangatnya entah pergi kemana. Jangankan kurikulum prototype, k13 aja disini masih merangkak. 

Kalau inginku sih, pengen ngajar pakai media belajar berbasis digital, memanfaatkan teknologi yang ada. Tapi apalah daya, PLN aja nggak sampai disini. Untungnya kominfo berbaik hati memberi bantuan Wifi Bakti Aksi jadi kami di sekolah bisa nih mengakses info-info online. Meski mengandalkan PLTS tapi setidaknya kami masih bisa mencari informasi meski hanya online sekitar 7 jam sehari, paling lama (kalau hari panas membara, kalau hujan ya sudahlah offline aja). 

Ngajar di desa, anak SMP. Mata pelajaran kesukaannya adalah Olahraga. Kalau sudah olahraga itu mereka merdeka, meskipun nggakk ada guru olahraganya, ya olahraga seadanya. Entah main bola, main voli, main kasti yang penting happy. Apa kabar belajar di kelas mata pelajaran lain? Ada satu dua anak yang memang cepat menangkap apa yang di sampaikan guru. Dari 16 murid di SMP, nggak sampai setengahnya yang bisa diajak diskusi. Tapi kalau gurunya patah semangat, gimana jadinya? 💗

Senam pagi. SMPN Satap 3 Hanau. SDN 1 Paring Raya


Sempat aku patah semangat, tapi akhirnya memilih untuk tetap semangat. Tidak harus memakai peralatan canggih, online dan A,B, C,D,E... yang penting anak-anak belajar. Disaat teman-temanku sudah M.Ed., P.hd. dan kesana kamari, akunya masih disini, di desa ini, kadang ngomel-ngomel dengan anak-anak. Tapi tak apa, aku sedang menjalankan kewajibanku sebagai WNI. Mengabdi pada negara. Semoga hakku sebagai warga negara terpenuhi juga. 😁

Kadang malas, kadang rajin. Itu aku. Semoga guru-guru di luar sana selalu rajin. Aamiin.💚💚💚

Kalau waktunya aku rajin mode on, aku bisa nulis modul. Salah satunya ini, modul Bahasa Inggris untuk kelas VII . 
Siapa tahu perlu referensi bisa diunduh disini  👇

Happy Weekdays!!! 


Monday, November 29, 2021

Tugas - Konsep Implementasi Numerasi dalam Pembelajaran


Apa sih pelajaran yang anak-anak sukai? Olahraga? Seni? Matematika? Atau Bahasa Inggris?

Kebanyakan siswa menyukai mata pelajaran yang menyenangkan. Entah yang materinya menyenangkan, dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari atau karena gurunya yang humoris sehingga pelajaran yang sulit pun tidak terasa menegangkan.

Mata pelajaran Matematika, IPA, atau Bahasa Inggris kebanyakan dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, apalagi jika gurunya tidak dapat menguasai kelas dan membuat kelas terasa menegangkan.

Lalu apakah Matematika atau Bahasa Inggris selalu menjadi mata pelajaran yang ditakuti? Hasilnya bisa berbeda bergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Untuk mengembangkan kecakapan literasi dan numerasi siswa perlu dilakukan berbagai macam alternatif kegiatan.

Materi mata pelajaran Bahasa Inggris kelas IX salah satunya adalah “product label”. Materi ini dekat dengan kehidupan sehari-hari. Label produk dapat ditemukan pada berbagai jenis produk yang dekat dengan siswa seperti makanan, minuman, obat-obatan, produk perawatan wajah dan lain sebagainya.

Pada materi ini selain mengembangkan kemampuan literasi siswa dapat pula digunakan untuk mengembangkan kemampuan numerasi siswa.

Misalnya kita bisa tunjukkan dua label produk yang berbeda dengan fungsi produk yang sama. Misalnya kitab isa menunjukkan dua buah produk makanan ringan. Sebagai contoh guru bisa meminta siswa untuk mengamati dua label produk dari dua merek makanan ringan yang sejenis tapi beda merek. Dari kegiatan tersebut guru dapat meminta siswa untuk membandingkan kandungan produk pada merek tersebut, setelah itu membandingkan harga produknya, dan memilih mana yang lebih baik diantara produk A dengan harga sekian dan produk B dengan harga sekian.

Proses pembelajaran dengan materi "Product label"

Dalam kegiatan pembelajaran ini guru perlu menyiapkan beberapa contoh produk yang nantinya akan diamati label produknya. Dalam pelaksanaannya siswa perlu waktu yang cukup lama untuk memahami produk label dan membandingkannya. Seharusnya kegiatan ini dapat dilakukan secara berkelompok yakni dalam kelompok kecil sehingga setelah kegiatan dapat dilakukan diskusi dan pembahasan. Akan tetapi karena jumlah siswa kelas IX hanya tiga orang maka kegiatan dilakukan tidak dalam kelompok. Hasilnya siswa lebih bersemangat karena mereka mengamati produk nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari mereka. 

Tapi apapun yang terjadi, guru harus tetap semangat mencari berbagai macam cara untuk mengembangkan kemampuan siswanya. Tak ada yang dapat kita capai tanpa berusaha.

Wednesday, July 14, 2021

PPKM, Online Class, Officially student. Yeay!

 ...Akupun tersenyum

Menanti esok hari

Tak sabar ingin bersama

Teman-temanku lagi...

Theme song series Belinda itu sering dinyanyiin anakku. Jangan pancing dia dengan lirik lagu itu, dia bakalan nyanyikan satu lagu penuh dengan nyaring. 

Minggu ini sesuai kalender pendidikan sudah mulai masuk tahun ajaran baru ya, siap-siap nih anak-anak masuk sekolah. Yang anak-anaknya masih usia preschool atau primary school orang tuanya harus bersiap juga. Bersiap mendampingi anak belajar online. Yang anaknya dua atau tiga dan masih harus di dampingi, good job, you are a hero! 😂 Selama tahun ajaran kemarin, aku sudah merasakan gimana luar biasanya kegiatan belajar dan mengajar online untuk anak SMP, sekarang saatnya ngikutin Ziya belajar online. 

Pertama dapat kabar dari wali kelasnya kalau Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS)-nya online hatiku langsung deg deg serrrr kayak mau ketemu Lee Seung Gi. Sesuai jadwal PLS nya tanggal 12-14 Juli 2021 online via zoom. Hari pertama masuk sekolah online, aku yang cenut-cenut. Aku nggak khawatir soal bangun, mandi atau sarapan karena Ziya memang sudah terbiasa bangun pagi, mandi pagi dan langsung sarapan setelah itu baru dia main atau yang lainnya. Yang aku khawatirkan adalah gimana kalau dia ngambek terus nangis, frekuensi nangis dia itu setara dengan seringnya Rafi Ahmad muncul di TV. Hari pertama dia PLS online, aku nggak bangun lebih pagi sih cuma aku nggak sepedaan setelah subuh. Ya ngepasin supaya sempat nyuci, masak, mandi, sarapan dan siap di depan laptop sebelum jam 7.30 pagi. 

Hari pertama dijadwalkan untuk perkenalan baik perkenalan dari guru maupun dari siswa. Malam sebelumnya aku sudah bilang ke Ziya kalau besok dia harus memperkenalkan diri ke teman-temannya. Pada dasarnya dia sudah tahu dimana dia tinggal, dia umur brp, rumahnya dimana, siapa nama ayah dan ibunya. Tapi aku bilang perkenalannya singkat saja sebutkan nama lengkap, nama panggilan dan rumahnya dimana. Singkat cerita anak ini menambahkan Hai teman-teman setelah salam. Ya sudahlah, I think it's cute. Jadi di hari pertama itu setelah sekitar 30 menit dia mulai gelisah karena nama dia kok belum dipanggil. Aku berusaha memberi pengertian kalau perkenalannya gantian, bu guru manggil sesuai daftar dan daftar nama dia ada di bawah. Okelah dia kayaknya ngerti tapi sambil manyun-manyun gitu nunggunya. Sambil mainin action figur abahnya yg ada di atas meja lah, sambil coret-coret di bukunya, pokoknya ada aja. Akhirnya tibalah giliran dia, langsung berubah raut mukanya. Ceria. Kelas pertama PLS ini sekitar 1 jam, dan aku sudah bersyukur dia nggak lari-larian kesana kemari selama kelasnya. I couldn't ask more. Setelah kelas zoom selesai rupanya ada tugas untuk hari itu, siswa diminta untuk menyimak video PLS sekolah. Tadinya kupikir dia akan nolak, ternyata dia mau. Beberapa menit pertama dia masih datar-datar aja nyimak video nya, setelah beberapa menit dia jadi excited karena melihat kelasnya, yang dulu dia sudah pernah lihat waktu observasi untuk masuk TK. Syukurlah. Karena diminta untuk mengirimkan foto ketika anak-anak menyimak video PLS, maka jadilah foto dibawah ini.


Hari kedua PLS online, jadwalnya pengenalan lingkungan belajar. Hari kedua ini sejak bangun tidur Ziya sudah heboh "Ma, cepat ma Ziya sekolah nanti terlambat". OMG, masih belum jam 7 dia sudah heboh nyuruh mamanya siap-siap. Artinya dia senang sekolah, meskipun online. Dia mulai nanya apa temannya sama dengan yang kemarin, berapa banyak temannya, hari ini mau ngapain. Pokoknya banyak tanya anak ini. Kadang kalau pertanyaannya sulit kaya misalnya pas dia lihat aku bersihin udang galah terus aku ngeluarin kotorn dari kepalanya dia nanya kenapa kotorannya di kepala ma, kenapa udang nggak punya perut, kenapa capitnya ada yang besar ada yang kecil, I feel like I wanna dig a hole and hide there, aku menyesal kenapa waktu pelajaran biologi dulu aku bebal. Karena pertanyaan-pertanyaan dia aku banyak menyesali kenapa waktu sekolah dulu aku let it flow aja, nggak rajin-rajin membaca. Kalau aku lagi pegang HP bisa langsung nanya Google tapi pas enggak, rasanya aku selalu nyari jawaban yang masuk akal aja supaya pertanyaan dia terjawab. Maafkan aku. 

Kelas PLS online hari kedua dimulai jam 7.30, ya agak molor dikit lah. Biasa nunggu peserta zoom nya. Zoom meeting orang dewasa aja sering nolor apalagi ini pesertanya anak-anak. Hari kedua lumayan oke. Ziya senang karena dia bisa melihat sekolahnya, meskipun online. Kelas kedua ini juga nggak se-chaos kelas hari pertama karena anak-anak nggak perlu ngomong satu per satu. Aku salut dengan gurunya, nggak mudah zoom dengan anak-anak. Bersyukur anak-anak ini beberapa bukan tipe pemalu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan gurunya. Bagiku, anak usia 4-5 tahun mau duduk ikut kelas zoom, mau menyahuti "semangat" ketika gurunya tanya "masih semangat sekolah?" itu udah luar biasa. 

PLS hari kedua

PLS hari kedua ini Ziya nggak mau ikut kelas dari teras depan aja. Baiklah, aku ikut aja asal dia mau. Kupikir tidak ada salahnya guga ikut kelas di luar rumah, kegiatan KBM saja bisa outdoor. Sekolah alam juga ada. Selama kelas berlangsung aku memang sengaja nggak ngasih tau dia jawaban apa yang harud dia berikan ketika gurunya nanya sesuatu. Kenapa? Karena nanti kalau dia sekolah, aku nggak ikut masuk kelas, dia sendirian belajar bersama teman-teman dan gurunya. Tapi sejauh ini reslon dia baik, dia juga paham untuk menanggapi perkataan gurunya. Misalnya ketika gurunya tanya "siapa yang suka makan sayur angkat tangannya?", dia angkat tangan. Lalu juga dia bisa menyebutkan jenis-jenis sayuran kerika ditanya. Ada satu waktu ketika gurunya bilang "coba sebutkan warna-warna sayuran", Ziya bilang "hijau, orange, ungu, merah..."
Aku bengong dan mikir "eh, merah? Sayuran apaan?". Aku diam ngikutin kelas dia sampai akhir, lalu aku tanya "Eh Zi, sayuran apa warna merah tadi?" Dan dia jawab "Tomato".
Oh gosh! Aku yg sering di belanja ke pasar sampai lupa kalau tomat kalau matang warnanya merah, dan ada juga bayam merah yang biasa aku beli di pasar. Maafkan mamanya. Selesai hari kedua, rasa was-was sudah mulai berkurang ni, nggak seperti hari pertama yang dag dig dug kayak mau minjem duit tapi nggak berai ngomong takut nggak dipinjemin. Hahahaha

Hari terakhir PLS, jadwalnya pengenalan kegiatan belajar. Hari ketiga ini cukup syahdu, pagi-pagi subuh sudah hujan. Kata siapa hujan itu romantis, pagi-pagi gini dingin euyy, bikin mager. Tapi nggak ada kata mager buat emak-emak yang anaknya harus sekolah online di pagi hari. Nggak ada waktu buat kruntelan di tempat tidur. Nggak ada ceritanya mamanya tidur terus bangun-bangun udah nyium bau sarapan pagi dan kopi karena lakinya udah bangun duluan dan nyiapin sarapan. Itu cuma ada di drama saudara, mungkin ada sih di dunia nyata tapi aku yakin dikit banget. Bukan berarti bapak-bapak nggak bangun pagi, tapi prioritas bapak-bapak bangun pagi itu mungkin lain dari prioritas ibu-ibu. 😁

Hari ketiga ini kebetulan aku ada jadwal Hari pertama dijadwalkan untuk perkenalan baik perkenalan dari guru maupun dari siswa. Malah mari sebelumnya aku sudah bilang ke Ziya kalau besok dia harus memperkenalkan diri ke teman-temannya. Pada dasarnya dia sudah tahu dimana dia tinggal, dia umur brp, rumahnya dimana, siapa nama ayah dan ibunya. Tapi aku bilang perkenalannya singkat saja sebutkan nama lengkap, nama panggilan dan rumahnya dimana. Singkat cerita anak ini menambahkan Hai teman-teman setelah salam. Ya sudahlah, I think it's cute. Jadi di hari pertama itu setelah sekitar 30 menit dia mulai gelisah karena nama dia kok belum dipanggil. Aku berusaha memberi pengertian kalau perkenalannya gantian, bu guru manggil sesuai daftar dan daftar nama dia ada di bawah. Okelah dia kayaknya ngerti tapi sambil manyun-manyun gitu nunggunya. Sambil mainin action figur abahnya yg ada di atas meja lah, sambil coret-coret di bukunya, pokoknya ada aja. Akhirnya tibalah giliran dia, langsung berubah raut mukanya. Ceria. Kelas pertama PLS ini sekitar 1 jam, dan aku sudah bersyukur dia nggak lari-larian kesana kemari selama kelasnya. I couldn't ask more. Setelah kelas zoom selesai rupanya ada tugas untuk hari itu, siswa diminta untuk menyimak video PLS sekolah. Tadinya kupikir dia akan nolak, ternyata dia mau. Beberapa menit pertama dia masih datar-datar aja nyimak video nya, setelah beberapa menit dia jadi excited karena melihat kelasnya, yang dulu dia sudah pernah lihat waktu observasi untuk masuk TK. Syukurlah. Karena diminta untuk mengirimkan foto ketika anak-anak menyimak video PLS, maka jafilah foto dibawah ini. meeting juga berhubungan dengan kerjaan. Jam nya pagi juga sampai sore. Rencana awal sih ziya ikut kelas dari HPku dan zoom meetingku pakai laptop, tapi apa daya laptopku rusak hari sebelumnya. Eh si bapak dengan baik hatinya mundurin jadwalnya ngantor dan minjemin laptop buat zoom class anaknya. I love you, babe. 😋 
Hari ketiga sepertinya Ziya nervous karena ada abahnya juga neneknya ikut ngliatin dia sekolah. Bisa aja ni anak. 


Tadinya abahnya mengganti background zoom  dia dengan gambar taman, dia juga yang mau. Eh di tengah-tengah meeting dia mau ganti background, aduh! Akhirnya aku bilang abahnya hilangin aja background nya. Maksud ai bapak sih baik, biar nggak kelihatan kalau ada yang lewat di belakangnya dll tapi namanya Ziya, dia malah pengen ganti-ganti background. Anakku! 
Kelas ketiga ini cukup menyenangkan juga buat Ziya sepertinya. Dia ditunjukkan kalau nanti di sekolah akan menggambar bersama, mewarnai, menempel, melipat origami, membuat prakarya dan kegiatan-kegiatan lainnya. 
 Finally yang dia tanyain setelah zoom meeting adalah "ma, kapan kita ngambil buku-buku tadi dan seragam sekolahnya?"
Who knows? Belum ada kabar lagi. Nunggu aja gimana kabar selanjutnya di rapat orang tua/wali murid hari Jumat/Sabtu ini. Eh, aku udah jadi wali murid juga sekarang. 🤭

PLS online untuk anak TK, lumayan berat nih menurutku. Baik itu untuk gutunya, siswanya ataupun orang tua/wali muridnya. Gimana enggak? Anak TK disuruh belajar online, bisa duduk 30 menit ngikutin zoom dengan seksama aja udah luar biasa. Lain ceritanya kalau sekolah tatap muka. Mudah-mudahan guru, siswa dan orang tua siswanya selalu sehat, sabar, kreatif dan inovatif aja. 

Karena kondisi sungguh tidak memungkinkan untuk sekolah tatap muka maka sekolah online jafi pilihan. Beberapa tips dari aku untuk mama-mama atau papa-papa yang anaknya ikut sekolah online:
1. Pastikan ada yang mendampingi anak kelita kelas berlangsung, boleh mama, papa, kakak, tante, nenek atau lainnya. Kalau bisa yang paham dunia persekolahan online, per-zoom-an atau platform online yang dipakai anak sekolah online
2. Pastikan anak dan pendamping sudah siap sebelum jam kelas online dimulai. Jangan berpikir bahwa ah telat nggak apa-apa, yang lainnya juga telat. Kalau semuanya berpikir begitu, kapan kelasnya mulai. Kasian juga gurunya.
3. Pastikan anak-anak sudah siap mengikuti kelas online. Artinya anak sudah mandi, sudah sarapan dan alat-alat tulis yang diperlukan sudah siap di atas meja. 
4. Ciptakan kondisi yang nyaman untuk anak belajar online. Misalnya anak nggak mau belajar di ruang belajar, maunya di teras aja. Kita bisa ngikutin kemauan anak selama masih mungkin. Anak perlu mood yang baik untuk bisa belajar dengan maksimal. 
5. Biarkan anak mencoba untuk sekolah online sendiri. Maksudnya si pendamping sekolah anak tidak perlu memberi tahu anak harus menjabaw A, B atau C, biarkan anak menjawab berdasarkan apa yang dia tau. Kenapa? Ini yang sekolah anaknya, bukan mama atau papanya. Jangan berpikir ah anak lain juga dikasih tau orang tuanya, gimana kalau anakku nilainya nggak bagus. That's not your bussiness, kalau orang lain begitu itu keputusan mereka. Yang penting adalah pengalaman belajar anak, bukan nilainya berapa. Penting bagi kita untuk hanya mendampingi anak belajar, membantu anak memaksimalkan potensi dirinya bukan menggantikan anak sekolah dengan mengerjakan tugas-tugas anak. 
5. Kalau memang ada yang kurang sreg di hati bapak/ibu dengan kelas online anak, atau ada ide atau saran untuk gurunya lebih baik chat gurunya secara pribadi, sampaikan saran dengan santun, jangan malah nggosip dengan sesama orang tua siswa. Sampaikan pendapat pada tempatnya, syukur kalau saran ibu/bapak dipakai, kalau tidak ya jangan ngomel apalagi ngomelnya ngajak-ngajak orang tua siswa yang lain.
6. Kalau memang jadwal anak dan jadwal bapak/ibu bentrok karena salah satunya memang tidak bisa dibatalkan atau diundur, usahakan tetap dampingi anak. Meskipun konsentrasi mama/papanya bakal pecah tapi it's better than leaving. 

Have a nice day. 🙂






 


Sunday, June 20, 2021

Happy Birthday, My Lord!

Been in wonder what should I do on your birthday, considering that I'm not a kind of romantic person.

A cake sounds good but you seems like trail motorcycle more. 😂

Since I don't have enough money (yet) to buy you fancy things like trail motorcycle or Galaxy Tab S7+, I prefer writing on my blog to congratulate you.

The first time I saw you ten years ago wasn't the time I fell for you. That's not love at the first sight, but my love for you grows every day. I'm watching you willing to go up, doing everything you can to be better.

Congratulations My Lord, on your 34th, may Allah give you blessings.

Honestly I envy you, since the day we got married, you grows better than me. You achieve many things on your own, but I did with your help. 

Congratulations My Lord to live your life to the fullest. Wish you can do all the things you love. 

Let's grow better together, we may make mistakes but that won't take us apart. 

Let's always stay clear headed in every conversation and discussion we have in order not to be insane in this damn difficult world. 

From now on, wish you always be healthy and happier. 

In my lifetime, I will always get your back. I may not on your side 24 hours a day, 7 days a week, 30 days a month or 365 days a year but I never leave you an inch in my prayer. I may watch k-drama or c-drama, but I'm into you. 

Congratulations My Lord, let's always get each other back. 

Ziya and I will always love you. 😘😘😘




Saturday, May 22, 2021

Prioritas Tanpa Batas, Semua Kegalauan Ada Masanya.

Hai hai hai....

Prioritas tanpa batas.

Kenapa tiba-tiba ngomongin prioritas?

Biasanya yang sering terdengar kreativitas tanpa batas, bukan prioritas. Saya kebetulan seorang guru, meskipun pasti tidak sempurna, satu hal yang saya pastikan juga adalah saya selalu ingin anak didik saya menjadi anak baik. Meskipun saya tidak seperti ibu peri di kelas, meskipun sekali dua kali tiga kali dan kali lain saya ngomel di kelas, tapi tidak pernah sekalipun saya mendo'akan anak didik saya tidak berhasil. Dan saya yakin, tidak ada satu pun guru, dosen, ustadz, ustadzah yang ingin anak didiknya gagal. No one. 

Baru-baru ini ada satu kejadian yang membuat saya bilang "sayang sekali ya...". Karena pandemi covid-19, kegiatan belajar mengajar sudah satu tahun lebih diadakan online, baik yang memang full online classes ataupun yang offline, daring, luring maupun kombinasi daring dan luring. Saya yakin dalam hati anak-anak pasti jenuh dan ingin semua kembali normal. Saking lamanya belajar dari rumah (BDR), anak didik saya di sekolah banyak yang amblas motivasi belajarnya. Baru-baru ini malah dapat kabar salah satu anak didik saya nikah, dia cewek. Iya, gadis remaja usiao sekolah kelas VIII, SMP,nikah. Deggggg...! Ada rasa pilu dihati sih, kenapa tiba-tiba nikah? Terakhir ketemu sebelum puasa, dia masih ngumpulkan tugas lewat WA, dia masih nanya tugas yang dia nggak paham. 

Kalau dengar kabar teman sebayaku nikah, alhamdulillah sudah ketemu jodohnya, tapi ketika dengar anak kelas VIII yang sebulan lalu masih sekolah terus sekarang nikah, reaksi pertama saya bukan "alhamdulillah datang jodohnya." I can't do it that way. Yang ada dalam pikiran saya pertama kali adalah "are you kidding me? Mosok seh? Tenan e?" Anak usia segitu, yang harusnya masih menikmati masa-masa belajar bareng teman-temannya, menekuni hobinya, atau lagi asik-asiknya fangirling, malah memilih mengikuti rasa penasarannya akan cinta yang akhirnya berujung pada sebuah pernikahan dini. Iya sih, menikah memang hak setiap orang, tapi dalam Undang-Undang negara kita, pernikahan tetap diatur, ada UU nya, UU no 16 tahun 2019. Dalam pasal 7 ayat 1 berbunyi: "Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas tahun)". Dan ini anak murid kelas VIII yang usianya belum sampai 19 tahun, dinikahkan, for real. Memang bukan anak saya, dan orang tuanya pu ya pertimbangan untuk menikahkan. Terus kenapa saya nulis? Saya berharapnya anak didik saya yang lain nggak sampai putus sekolah terus nikah. Menikahlah nanti, ketika sudah selesai sekolah, paling tidak selesaikanlah wajib belakar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah. Itu yang bikin aturan pusing lho mikirnya,banyak pertimbangannya juga.

Saya bukan tipe yang keras banget tapi juga nggak lembek banget kalau soal cinta-cintaan ini. Selama ini saya selalu terbuka sama anak didik saya. Mahasiswa/i saya dulu beberapa ada yang curhat masalah cinta-cintaan saya ladeni, siswa saya di SMK dulu cerita pacar saya oke, termasuk siswa/i saya sekarang yang anak  SMP cerita gebetan saya dengarkan. Dengarkan dengan seksama. Bukan berarti saya biarkan mereka cinta-cintaan begitu saya, saya selalu tekankan segala sesuatu ada masanya, ada tanggung jawabnya, ada resikonya, ada prioritasnya. Di usia mereka seharusnya prioritasnya apa selalu saya tekankan. Siswi saya SMP wajar saja kalau menyukai lawan jenis, it's normal. Yang tidak normal adalah kalau sampai kehilangan pegangan sampai tidak tahu prioritas.

Saya selalu tekankan sama mereka, sebagai siswa tanggung jawab mereka apa, prioritas mereka harus tetap tentang sekolah, belajar. Mereka boleh fangirling, boleh suka lawan jenis tapi tidak boleh hilang kendali. Suatu kali saya pernah mengumpulkan anak didik saya yang satu SMP jumlahnya cuma 14 anak itu di depan kantor guru, saya ingatkan yang mana prioritas. Saya ingatkan karena mereka siswa, tugas utamanya belajar. Kalau mereka k-pop idol ya tugas utamanya bukan belajar di sekolah, kalau mereka actor/actress ya tugas utamanya mengasah kemampuan berakting mereka supaya ketika memerankan peran itu bisa seperti nyata. Semua ada masanya, ada porsinya. Seperti sekolah, menikah juga ada masanya, nanti kalau sudah cukup umur dan siap secara mental dan fisik.

Jangan dikata anak SMP sudah siap fisiknya, meskipun bongsor, dilihat dari segi kesehatan itu beresiko, apalagi kalau langsung hamil dan melahirkan, resiko tinggi. Sebagai individu, masing-masing dari kita punya prioritas, setiap pilihan juga pasti ada tanggung jawabnya. Kalaupun sudah membuat pilihan yang dirasa berat tanggung jawabnya ya percayalah dari situ kita akan jadi orang yang lebih kuat. 

Bersyukurlah anak sekolah yang kegalauannya masih antara mau ngerjakan tugas Matematika dulu atau Bahasa Inggris dulu, mau nonton NCT atau BTS, mau pilih V atau Jungkook, mau Suho atau Baekhyun mau main PUBG atau among us; disaat ada anak usia sekolah lain yang cuma berharap pengen sekolah dan senang-senang dengan teman-temannya tapi keadaan tidak berpihak sehingga terpaksa dia nggak bisa sekolah dan bersenang-senang.

Bersyukurlah dedek-dedek gemes yang kegalauannya masih antara mau beli laneige atau ms glow, antara mau pakai produk lokal atau luar, mau nonton Hwang In Yeop atau Cha Eun Woo disaat yang lain udah bingung mikirin harus beli popok merek apa atau sufor merek apa karena ngepas2in duit jatah bulanan suami.

Bersyukurlah embak-embak yang kegalauan hatinya masih antara mau pakai baju dari Wearing Klamby atau Vanilla, mau beli kerudung Zytadelia atau Mandja Ivan Gunawan, mau pakai Shu Uemura atau Make Over aja, mau nonton Lee Seung Gi atau Song Jong Ki, mau pilih jadi fans Wang Yibo atau Xiao Zhan, Dylan Wang atau Xu Kai, mau beli tas harga 100 ribu atau 1 juta disaat yang lainnya ada yang galau antra hidup dan mati, bertahan dalam hubungan rumah tangga yang mencekik leher demi anak atau pergi.

Bersyukurlah ibu-ibu yang kegalauan hatinya masih antara gemes suami mancing atau nge-trail disaat ibu-ibu lain galau antara suami suka teman kantor atau suami suka ladies. 

Jadi, setiap orang sudah pasti punya kehidupannya masing-masing, they fight their own battle, we can't put other shoes on our feet tapi bukan berarti kita nggak peduli sama orang di sekitar kita. 

Let's remind our beloved one if they took the wrong path in common, mari tetap ingatkan orang-orang yang kita sayangi kalau mereka mengambil langkah yang salah secara umum, tentang bagaimana mereka menanggapi saran dan kasih sayang kita itu tanggung jawab mereka. Salah seorang dosen yang saya kagumi pernah bilang you can be somebody's hero and somebody else's asshole at the same time. Note it!

Prioritas. Selama kita hidup kita akan terus dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terkadang pilihan itu kurang lebih sama buruknya, tergantung prioritas kita masing-masing.

Sama seperti saya, yang masih nonton k-drama, c-drama dan drama-drama lain padahal punya kewajiban jadi ibu rumah tangga. Tapi prioritas saya tetap bukan itu, saya masih main sama anak, masak (kalau lagi gak mood atau malas ih beli, bagi-bagi rejeki dengan yang jualan makanan), masih tetep kerja, masih tetep ngomelin suami kalau ngambil baju dilemari jadi berantakan.



Sekian. 


 


Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Salam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”   ( Teach...