Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Saturday, May 22, 2021

Prioritas Tanpa Batas, Semua Kegalauan Ada Masanya.

Hai hai hai....

Prioritas tanpa batas.

Kenapa tiba-tiba ngomongin prioritas?

Biasanya yang sering terdengar kreativitas tanpa batas, bukan prioritas. Saya kebetulan seorang guru, meskipun pasti tidak sempurna, satu hal yang saya pastikan juga adalah saya selalu ingin anak didik saya menjadi anak baik. Meskipun saya tidak seperti ibu peri di kelas, meskipun sekali dua kali tiga kali dan kali lain saya ngomel di kelas, tapi tidak pernah sekalipun saya mendo'akan anak didik saya tidak berhasil. Dan saya yakin, tidak ada satu pun guru, dosen, ustadz, ustadzah yang ingin anak didiknya gagal. No one. 

Baru-baru ini ada satu kejadian yang membuat saya bilang "sayang sekali ya...". Karena pandemi covid-19, kegiatan belajar mengajar sudah satu tahun lebih diadakan online, baik yang memang full online classes ataupun yang offline, daring, luring maupun kombinasi daring dan luring. Saya yakin dalam hati anak-anak pasti jenuh dan ingin semua kembali normal. Saking lamanya belajar dari rumah (BDR), anak didik saya di sekolah banyak yang amblas motivasi belajarnya. Baru-baru ini malah dapat kabar salah satu anak didik saya nikah, dia cewek. Iya, gadis remaja usiao sekolah kelas VIII, SMP,nikah. Deggggg...! Ada rasa pilu dihati sih, kenapa tiba-tiba nikah? Terakhir ketemu sebelum puasa, dia masih ngumpulkan tugas lewat WA, dia masih nanya tugas yang dia nggak paham. 

Kalau dengar kabar teman sebayaku nikah, alhamdulillah sudah ketemu jodohnya, tapi ketika dengar anak kelas VIII yang sebulan lalu masih sekolah terus sekarang nikah, reaksi pertama saya bukan "alhamdulillah datang jodohnya." I can't do it that way. Yang ada dalam pikiran saya pertama kali adalah "are you kidding me? Mosok seh? Tenan e?" Anak usia segitu, yang harusnya masih menikmati masa-masa belajar bareng teman-temannya, menekuni hobinya, atau lagi asik-asiknya fangirling, malah memilih mengikuti rasa penasarannya akan cinta yang akhirnya berujung pada sebuah pernikahan dini. Iya sih, menikah memang hak setiap orang, tapi dalam Undang-Undang negara kita, pernikahan tetap diatur, ada UU nya, UU no 16 tahun 2019. Dalam pasal 7 ayat 1 berbunyi: "Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas tahun)". Dan ini anak murid kelas VIII yang usianya belum sampai 19 tahun, dinikahkan, for real. Memang bukan anak saya, dan orang tuanya pu ya pertimbangan untuk menikahkan. Terus kenapa saya nulis? Saya berharapnya anak didik saya yang lain nggak sampai putus sekolah terus nikah. Menikahlah nanti, ketika sudah selesai sekolah, paling tidak selesaikanlah wajib belakar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah. Itu yang bikin aturan pusing lho mikirnya,banyak pertimbangannya juga.

Saya bukan tipe yang keras banget tapi juga nggak lembek banget kalau soal cinta-cintaan ini. Selama ini saya selalu terbuka sama anak didik saya. Mahasiswa/i saya dulu beberapa ada yang curhat masalah cinta-cintaan saya ladeni, siswa saya di SMK dulu cerita pacar saya oke, termasuk siswa/i saya sekarang yang anak  SMP cerita gebetan saya dengarkan. Dengarkan dengan seksama. Bukan berarti saya biarkan mereka cinta-cintaan begitu saya, saya selalu tekankan segala sesuatu ada masanya, ada tanggung jawabnya, ada resikonya, ada prioritasnya. Di usia mereka seharusnya prioritasnya apa selalu saya tekankan. Siswi saya SMP wajar saja kalau menyukai lawan jenis, it's normal. Yang tidak normal adalah kalau sampai kehilangan pegangan sampai tidak tahu prioritas.

Saya selalu tekankan sama mereka, sebagai siswa tanggung jawab mereka apa, prioritas mereka harus tetap tentang sekolah, belajar. Mereka boleh fangirling, boleh suka lawan jenis tapi tidak boleh hilang kendali. Suatu kali saya pernah mengumpulkan anak didik saya yang satu SMP jumlahnya cuma 14 anak itu di depan kantor guru, saya ingatkan yang mana prioritas. Saya ingatkan karena mereka siswa, tugas utamanya belajar. Kalau mereka k-pop idol ya tugas utamanya bukan belajar di sekolah, kalau mereka actor/actress ya tugas utamanya mengasah kemampuan berakting mereka supaya ketika memerankan peran itu bisa seperti nyata. Semua ada masanya, ada porsinya. Seperti sekolah, menikah juga ada masanya, nanti kalau sudah cukup umur dan siap secara mental dan fisik.

Jangan dikata anak SMP sudah siap fisiknya, meskipun bongsor, dilihat dari segi kesehatan itu beresiko, apalagi kalau langsung hamil dan melahirkan, resiko tinggi. Sebagai individu, masing-masing dari kita punya prioritas, setiap pilihan juga pasti ada tanggung jawabnya. Kalaupun sudah membuat pilihan yang dirasa berat tanggung jawabnya ya percayalah dari situ kita akan jadi orang yang lebih kuat. 

Bersyukurlah anak sekolah yang kegalauannya masih antara mau ngerjakan tugas Matematika dulu atau Bahasa Inggris dulu, mau nonton NCT atau BTS, mau pilih V atau Jungkook, mau Suho atau Baekhyun mau main PUBG atau among us; disaat ada anak usia sekolah lain yang cuma berharap pengen sekolah dan senang-senang dengan teman-temannya tapi keadaan tidak berpihak sehingga terpaksa dia nggak bisa sekolah dan bersenang-senang.

Bersyukurlah dedek-dedek gemes yang kegalauannya masih antara mau beli laneige atau ms glow, antara mau pakai produk lokal atau luar, mau nonton Hwang In Yeop atau Cha Eun Woo disaat yang lain udah bingung mikirin harus beli popok merek apa atau sufor merek apa karena ngepas2in duit jatah bulanan suami.

Bersyukurlah embak-embak yang kegalauan hatinya masih antara mau pakai baju dari Wearing Klamby atau Vanilla, mau beli kerudung Zytadelia atau Mandja Ivan Gunawan, mau pakai Shu Uemura atau Make Over aja, mau nonton Lee Seung Gi atau Song Jong Ki, mau pilih jadi fans Wang Yibo atau Xiao Zhan, Dylan Wang atau Xu Kai, mau beli tas harga 100 ribu atau 1 juta disaat yang lainnya ada yang galau antra hidup dan mati, bertahan dalam hubungan rumah tangga yang mencekik leher demi anak atau pergi.

Bersyukurlah ibu-ibu yang kegalauan hatinya masih antara gemes suami mancing atau nge-trail disaat ibu-ibu lain galau antara suami suka teman kantor atau suami suka ladies. 

Jadi, setiap orang sudah pasti punya kehidupannya masing-masing, they fight their own battle, we can't put other shoes on our feet tapi bukan berarti kita nggak peduli sama orang di sekitar kita. 

Let's remind our beloved one if they took the wrong path in common, mari tetap ingatkan orang-orang yang kita sayangi kalau mereka mengambil langkah yang salah secara umum, tentang bagaimana mereka menanggapi saran dan kasih sayang kita itu tanggung jawab mereka. Salah seorang dosen yang saya kagumi pernah bilang you can be somebody's hero and somebody else's asshole at the same time. Note it!

Prioritas. Selama kita hidup kita akan terus dihadapkan pada pilihan-pilihan yang terkadang pilihan itu kurang lebih sama buruknya, tergantung prioritas kita masing-masing.

Sama seperti saya, yang masih nonton k-drama, c-drama dan drama-drama lain padahal punya kewajiban jadi ibu rumah tangga. Tapi prioritas saya tetap bukan itu, saya masih main sama anak, masak (kalau lagi gak mood atau malas ih beli, bagi-bagi rejeki dengan yang jualan makanan), masih tetep kerja, masih tetep ngomelin suami kalau ngambil baju dilemari jadi berantakan.



Sekian. 


 


Saturday, May 8, 2021

Serba Serbi Masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak

 Bismillahirrahmanirrahim....

Si buah hati yang saat baru lahir kita timang-timang, kita susuin, kita ganti popoknya malam-malam sambil agak merem gitu mamanya, sekarang sudah aktif banget lari-lari, lompat-lompat, sepedaan. Anak-anak mah gitu ya, tiba-tiba tingginya udah sepinggang kita aja. Seperti kayak baru aja nih tiap hari aku pumping di sana-sini, ehh sekarang dia udah mau masuk sekolah TK. Iya, langsung saya sekolahkan TK memang nggak usah PAUD. Kenapa? Itu sudah hasil diskusi dengan bapaknya. Kalau ibu-ibu lain mau menyekolahkan anaknya PAUD dulu baru masuk TK ya monggo. Feel free to choose your own battle. πŸ˜‚

Jadi karena tahun ajaran ini Ziya atau biasa juga saya panggil Nara itu sudah 4 tahun 9 bulan kalau masuk sekolah bulan Juli nanti, akhirnya saya daftarkan dia masuk sekolah TK. Tadinya galau juga, di masa pandemi gini gimana dia nanti sekolah, keselamatan dan kesehatannya dia lebih penting. Belajar nggak penting? Ya penting juga, tapi dia nggak harus resmi jadi peserta didik di sekolah A atau B untuk belajar, dari dia lahir sampai sekarang setiap hari juga belajar. Setelah berbagai macam pertimbangan dan diskusi dengan bapaknya, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan dia di TK Asiah di Sampit,kota tempat tinggal kami. Kenapa akhirnya di daftarkah disitu? Karena visi misi sekolah ya sejalan dengan visi misi kami untuk Ziya. Jadi kalau menurut saya ibu/bapak bebas memilih sekolah dimana saja untuk anak tercinta tapi tolong di lihat dulu visi misi sekolahnya, paling tidak cari info lah tentang sekolahnya. Cari info ya caranya terserah ibu/bapak, bisa langsung ke sekolahnya sambil minta formulir sambil tanya-tanya ke gurunya, bisa langsung ke website sekolah atau sosial medianya, di jaman kita hidup sekarang ini biasanya semua kegiatan positif sekolah di upload jadi kita bisa bebas mencermati. Kalau ibu/bapak curiga kalau apa yang di upload hanyalah pencitraan belaka, ibu/bapak bisa tanya-tanya ke teman atau kenalan atau tetangga yang anaknya pernah sekolah disitu. Intinya kumpulkan informasi yang cukup dari beberapa sekolah yang menarik perhatian ibu/bapak, pilih yang paling sesuai dengan cara ibu/bapak mendidik anak, sesuaikan juga dengan kondisi dirumah ya (kalau saya sih pokoknya jangan dipaksakan, adasekolah bagus, visi misi oke, sesuai dengan visi misi orang tua ehh tapi nggak cocok dikantong rumah tangga alias mahallllll banget sekolahnya...kalau gitu aku mundur alon-alon bang). Yang penting kita bisa nyaman menyekolahkan anak disitu, dan si anak juga senang. Jangan sampai ibunya, bundanya, mamanya girang banget tapi anaknya sedih, jangan juga anak dipaksain sekolah kalau memang belum mau, kalau umurnya belum cukup biasanya memang masih suka main.

Untuk masuk ke sekolah yang kami pilih tadi ternyata anak-anak harus di observasi dulu. Ini observasi lho bu bukan macam tes Ujian Nasional apalagi TOEFL, TOEIC, atau IELTS, bukan. Ketika kami memutuskan untuk mendaftarkan Ziya sekolah, Ziya memang sudah minta masuk sekolah, dan saya memang sengaja mengajak dia ke beberapa sekolah yang memang kami pertimbangkan waktu itu. Kenapa harus diajak kan pandemi, bahaya? Insya Allah saya mematuhi protokol kesehatan begitu pula sekolah-sekolah yang saya datangi. Ternyata keputusan membawa anak melihat sekolah itu menurut saya cukup bagus, anak jadi makin semangat. Dan si dia juga bisa lho ngasih pendapatnya tentang sekolah itu. Ya bukan pendapat ahli memang, dan juga nggak mungkin dia berpendapat tentang visi misi sekolah, tapi dia lah yang mau sekolah dan kenyamanan dia adalah hal penting yang nggak bisa diabaikan orang tua. 

Pertama waktu ngisi formulir pendaftaran sih aku masih santai, di isi aja sesuai kenyataan. Tapi sekalinya hati saya dugun-dugun juga waktu dapat jadwal observasi dari gurunya. Ada semacam asa was-was gimana nanti kalau pas di observasi anakku tiba-tiba ngambek terus minta pulang, ambyar dong nanti. Tapi untung saya cepet balik waras lagi, everything will be fine. Apapun yang terjadi nanti ya udah, berarti itulah dia. 

Tibalah hari H dia di observasi, hari itu ada 9 anak yang dijadwalkan untuk diobservasi. Pengumumannya tidak menyebutkan jam yang spesifik untuk masing-masing anak, hanya diaebutkan rentang waktunya antara jam 7 sampai jam 12. Saya mikirnya lebih baik datang pagi karena kalau siang Ziya ini kadang udah nggak terkendali maunya mainan aja. Saya pastikan dia sarapan dulu, kita aja yang udah dewasa kalau beraktifitas dengan perut kosong sering error apalagi anak-anak, kasian. Ternyata ketika saya sampai disana sudah ada 3 anak yang datang didampingi mamanya,satu anak sedang di observasi, dan dua lainnya sedang menunggu. Pertama ternyata saya harus mengisi kuesioner dulu. Setelah saya buka pertanyaannya cukup banyak, ada uraiannya juga macam ujian, untung saya sudah sarapan. Pertanyaannya ya seputar tumbuh kembang anak selama ini, juga kebiasaan sehari-hari anak. Di bagian paling belakang, uraian, jadi saya harus menjelaskan motivasi saya memasukkan Ziya ke sekolah itu apa. Nah loo kan, ditanya motivasi orang tua, nggak mungkin dong orang tua asal-asalan masukin anak sekolah. Selain itu di poin selanjutnya saya harus menguraikan harapan saya Ziya belajar apa di sekolah itu, poin terakhir saya masih harus mengungkapkan tujuan saya menyekolahkan Ziya disitu. Oke baiklah, saya anggap itu kesempatan saya untuk curhat. 

Setelah saya mengembalikan kuesionernya, masih harua nunggu giliran. Ehh Ziya malah sudah nggak sabar pengen di observasi gara-gara melihat mainan bentuk dan playdough di meja gurunya. Allahu Akbar, anakku memang kalau mainan suka lupa yang lain-lain. Karena masih nunggu,saya minta Ziya mainan, ya namanya di TK banyak permainannya kan, saya biarkan saja dia main prosotan, main jungkat-jungkit pokoknya terserag dia biar mood-nya nggak jelek. 

Setelah tiba giliran di panggil, Ziya langsung tanpa basa basi duduk di depan meja gurunya dan nyusun mainan balok. Emaknya pengen tepok jidat ja rasanya, belum disuruh apa dia udah duluan mainan. Untung gurunya sabar dan ramah, kalau ini harus ya apalagi guru TK, bisa kabur anak-anak kalau gurunya galak. 

Jadi pertama, gurunya mengucapkan salam, dan syukurlah Ziya mau menjawab salamnya, kadang anak ini suka-suka dia. Setelah itu ditanya namanya siapa, biasa dipanggil apa, nama ayah dan ibunya, rumahnya dimana. Semua jawabannya lancar, dia memang sudah tahu juga alamat rumahnya dimana, memang saya sudah lama kami ajari dirumah, jadi kalau misalnya ada sesuatu hal yang tidak diinginkan ketika dia ditanya orang dia bisa jawab rumahnya dimana, siapa namanya, siapa ayah ibunya. 

Setelah itu dia ditanya warna dan bentuk, diminta menunjukkan warna dan bentuk. Masih oke dan nurut lah dia. Mungkin karena dia pas awal tadi langsung nyusun-nyusun puzzle bentuk itu jadi gurunya nggak minta dia nyusun lagi, soalnya anak-anak sebelumnya saya lihat ada menyusun. Tapi ya sudahlah terserah gurunya. 

Selesai dengan bentuk dan warna ternyata dia disuruh menulis, bukan nulis nama ya. Dia dikasih selembar kertas, di kertas itu ada gambar garis lurus, garis miring, lingkaran dan persegi, nah si anak diminta menggambar seperti yang ada di contoh. Menggambar lingkaran, oke, menggambar persegi, bisa, ehh sekalinya pas menggambar garis lurus digambarlah sepanjang kertas A4 itu sama Ziya, subhanallah, padahal contoh garisnya itu pendek aja. Hahahaha. Anakku. 

Urusan tulis menulis selesai, lalu dia ditanya apa dia bisa berhitung. Ziya-nya sendiri jawab "bisa", dan waktu gurunya bilang "coba hitung satu sampai sepuluh bisa?", Ziya langsung nyaring bilang satu, dua, tiga, empat,... sepuluh.

Sejauh ini mamanya lega, dia kooperatif. 

Setelah semua itu, Ziya diberi sebuah gambar trs disuruh mewarnai, boleh mewarnai dimana aja di situ. Dan anak ini, pindah tempat tiga kali cuma untuk mewarnai. Subhanallah, untung mamanya sudah sarapan. Nah waktu masa mewarnai ini agak drama juga, pertama dia proes karena crayon yang diberikan itu beberapa ada yang patah. Dia nggak mau pakai crayon yang patah meskipun warnanya harusnya itu, digambar pohon harusnya kan warna coklat, dan dia tahu memang harusnya warna coklat karena dirumah dia memang suka mewarnai, jadi dia pakailah warna orange untuk pohon. Saya biarin aja sih, ya udah lah suka-suja dia aja. 


Dia lagi serius mewarnai tapi ngomel karena crayonnya ada yang patah
Nah kan batang pohonnya warna orange

Saya pikir masih ada lagi rupanya mewarnai tadi adalah yang terakhir. Saya minta Ziya sendiri yang mengumpulkan hasil dia mewarnai. 

Ternyata pas sudah selesai dia nggak mau saya ajak pulang. Maunya mainan, ada mainan masak-masakan dengan mau main playdough juga. Saya ajak pulang main dirumah aja dia nggak mau. Alhamdulillah ada guru lainnya dengar dia mau main dan dipinjamilah mainan masak-masakan dan playdough, juga ditemenin main sama gurunya. Baiklah rupanya saya harus bersabar, padahal saya udah pengen pulang. Cukup lama Ziya main dengan gurunya, saya sambil lihat anak lain yang diobservasi. Ada anak yang saya lihat ketika diobservasi malu-malu, ada yang waktu disuruh jalan mengikuti garis hitam dilantai nggak mau, disuruh lompat nggak mau juga, ngambek. 
Saya harus banyak-banyak bersyukur karena hari itu Ziya nggak drama waktu diobservasi meakipun berujung ngambek juga pas saya ajak pulang.

Nah bahagia dia main 

Sekitar tigapuluh menit saya nungguin dia main, lumayan juga. Saya tunggu dia bosan dan berhenti sendiri kok nggak berhenti jadi ya terpaksa dibujuk buat pulang. 

Ya observasinya sebentar aja, mainnya yang lama. Bagus sih dia berani di tempat yang baru dengan orang baru, saya juga bersyukur dia nggak banyak dama hari itu. Untuk ibu-ibu yang nganterin anaknya di observasi, banyak-banyak bersabar aja.
Akan lebih baik kalau ada jadwal yang pasti si anak A jam berapa sampai jam berapa begitu juga anak yang lain jadi ibu-ibu bisa memperkirakan kapan harus ke sekolah supaya anak nggak nunggu lama. Karena kecenderungannya kalau kelamaan nunggu anak-anak bisa bosan dan mood nya jado jelek. Dan juga pastikan anak-anak sarapan dulu, ya kalau anaknya nggak mau makan nasi jangan dipaksa juga, bisa aja makan roti dan minum susu atau makan buah. Senyamannya aja. Ibu-ibu juga bisa bawakan minuman, snacks, atau mainan kesukaan anak, siapa tau anak bosan nunggu dan cerewet. 

Semoga pandemi segera berlalu dan anak-anak kita bisa sekolah dengan nyaman dan bahagia.

Dari aku, yang kalau makan dikt ditanya abah Ziya "kok makan dikit yank, nanti sakit lho", tapi kalau makan banyak dibilang tim sapu bersih juga.

Sekian.







 







 




Saturday, December 21, 2019

Lomba menulis kosakata dan Spelling Bee untuk mengisi kegiatan aktualisasi


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Saturday night, jalanan kota dipenuhi muda-mudi atau adek-adek.

Sekolah sudah mulai libur hari Senin depan, artinya gurunya libur juga. Siiiipppp 😊😊😊

Setelah perjalanan panjang selama satu semester, liburan adalah hadiah untuk jiwa dan raga yang mungkin sudah lelah.

Sebagai guru saya pengen juga anak didik saya pintar dan cerdas seperti anak-anak yang sekolah di kota. Jadi saya nekat aja menggadakan lomba Bahasa Inggris untuk murid saya yang ada di desa. Kenapa saya bilang nekat? Kemampuan anak didik saya bikin nangis tapi nggak keluar air mata. Untuk yang SMP kelas IX, kalau di kota sudah cas cis cus Bahasa Inggrisnya, ditempat saya cus aja....cusss makan gorengan di warung samping sekolah. Tapi nggak apa-apa, ibu saya sering bilang "dicoba aja, kalau nggak dicoba nggak ta7 hasilnya."

Oke!

Tepat dengan waktu latsar CPNS pula, jadi saya masukin kegiaran lomba ini dalam salah satu kegiatan aktualisasi saya.
Ada dua lomba, pertama lomba menulis kosakata Bahasa Inggris, kedua lomba spelling bee.
Jangan dibayangkan lombanya akan cas cis cusss...

Lomba pertama, semua anak didik saya harus ikut.
Sederhana saja, peserta lomba harus menuliskan kosakata Bahasa Inggris di lembar jawaban yang sudah saya sediakan dalam waktu 30 menit saja. Tidak ada batasan kata apa yang harus dituliskan, bebas.

Penilaiannya mudah saja, jumlahkan saja kata yang penulisannya benar dan siapa yang menuliskan kosakata paling banyak itulah pemenangnya.
Nahh, hasilnya tidak mengejutkan buat saya karena saya sudah perkirakan sebelumnya. Juara satu berhasil menuliskan 141 kata yang benar, juara 2 ada 138 kata dan juara 3 menuliskan 112 kata dalam 30 menit.
Saya cukup bangga dengan pemenang ke2, dari kelas VII. Kenapa? Karena kelas VII baru kenal belajar mata pelajaran Bahasa Inggris selama kurang dari 1 semester. Beda dengan pemenang pertama, dari kelas IX, sudah belajar Bahasa Inggria dari kelas VII. Dari lomba ini saya yang belum ada 1 tahun jd guru Bahasa Inggris disana merasa punya setitik harapan.
Kalau saya rajin, inovatif, dan kreatif mungkin si anak juara 2 ini akan bisa lebih pintar Bahasa Inggrisnya.
Saya dan pemenang lomba, juara 1-3 dari kiri ke kanan


Ini saat lombanya berlangsung.

Lomba yang kedua adalah lomba spelling bee, yang pernah nonton film akeelah and the bee tolong jangan membayangkan lombanya akan seperti itu. 
Lombanya saya modifikasi sedemikian rupa sehingga cocok dengan anak didik saya. Karena ini kali pertama untuk mereka, saya buat lombanya beregu. 

Nah, karena anak didik saya dari kelas VII sampe kelas IX cuma ada 13 maka ada 4 regu.
Satu regu ada 3 orang. Tadinya saya akan bikin satu regu dua orang, tapi anak-anak minta 1 regu 3 orang. Baiklah, saya kabulkan permintaan anak-anak. 
Awalnya saya pikir murid saya yang laki-laki itu tidak antusias ikut lomba karena biasanya di kelas dia ogah-ogahan, tapi ternyata dia semangattttt. Seneng dong gurunyaaaaa... 😭😭😭

Lombanya sederhana saja, ada babak penyisihan dan babak final. Dalam babak penyisihan cuma ada 12 kata untuk dijabarkan spelling-nya dan babak ginal.ada 6 kata. Kata yang saya pilih pun bukan kata yang wow seperti di filmnya, saya pilih kata sehari-hari saja. 
Hasilnya ternyata regu kelas VII yang menempati rangking pertama babak penyisihan dan akhirnya jd juara 1 di juga di babak.final.melawan regu dari kelas IX.
Dari situ makin besar dong harapan saya. 😍😍😍
Nah pemenangnya 3 regu

Sepertinya kelas VII kemajuan ber-Bahasa Inggrisnya lebih baik karena ada saya lakukan drilling kosakata dengan media wordwall. 

Entahlah, semoga mereka selalu bersemangat belajar sampai akhir hayat.

Nahh dari salah satu rangkaian kegiatan itu, setelah seminar laporan dan segala keruwetan yang menyelimutinya akhirnya saya dapat juara. 
Padahal niat sama sekali nggak ngejar juara, sebagai emak-emak yang kalau udah dirumah udah nggak bisa ngerjain kerjaan administratif, saya pasrah aja. Saya kerjain sebisanya, semoga C dalam status saya bisa terhapus. Tapi sepertinya Allah memberi saya rejeki yang lain, dapat juara 4, bisa diberi ucapan selamat oleh pak sekda provinsi kalimantan tengah.
Saya tetap bersyukur, sebagai anak kampung saya bisa sampai pada titik ini. Semoga setelah diberi piagam dan "ditanya" beliau tadi, saya bisa jadi sekda entah tahun berapa. Aamiin.😁😁😁




Bismillah, pengingat buat diri saya sendiri juga untuk melakukan segala sesuatu tetap dengan baik. Hal lain-lain akan mengikuti dengan sendirinya. Seperti wejangan ibu Ida selaku coach saya, dimanapun berada berikan yang terbaik, emas meakipun ditempat gelap akan tetap bersinar.


Selamat Malam!






Friday, November 29, 2019

Gen Z dikampung masihkan jadi gen Z?

Bismillahirrahmanirrahim...

Good morning.. 😊

Lama nggak nulis di blog. Nglemasin jari dulu buat ngetik biar nggak cuma wa an aja. πŸ˜‚

Kali ini masih mau nulis tentang anak sekolah. Anak kelahiran tahun 95an yang katanya generazi Z atau gen Z yang berdasarkan beberapa definisi ahli bisa disimpulkan bahwa anak gen Z from the earlieast young age sudah familiar dengan internet.

Selama delapan tahun perjalanan karir saya menjadi pendidik, saya sudah pernah merasakan mendidik anak kota di universitas sampai sekarang dapat kesempatan mendidik anak desa di desa. Dulu tahun 2012 awal saya ngajar di kota, mahasiswanya amazing semua. Mereka pada mahir menggunakan teknologi. Saya yang harus belajar banyak demi mengimbangi mereka di kelas.

Tapi hari ini saya tidak mau membahas tentang mahasiswa, cukup membahas siswa "gen Z" saya yang ada di kampung. Bagi yang sudah baca tulisan-tulisan sebelumnya di blog saya pasti, sudah tahu sekarang saya mengabdi di desa. Listrik kami masih menggunakan panel surya, kalau sinyal jangan tanya. Γ‘yari sinyal lebih susah daripada move up dari mantan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Lalu apa kabar gen Z kami?


Nah, itu kabar gen Z di kampung. Di saat gen Z di kota main gadget saat jam kosong atau istirahat, mereka malah main itu. Kalau di tempat asal saya sih namanya main "benthek" tapi anak-anak disini nyebutnya main "kelele". Terkadang mereka masih main lompat tali padahal sudah SMP. Dulu saya waktu SMP sudah nggak main gituan, mama malah nyuruh dirumah aja. Panas! Hasilnya bisa dilihat, saya nggak jago main apa-apa.

Gen Z di kampung kami, entah masih bisa di sebut gen Z atau tidak. Mereka tidak terlalu familiar dengan teknologi. Kebanyakan mereka memang punya HP android, terkadang mereka juga rela membayar sejumlah uang untuk wifi. Tapi sejauh yang saya amati, mereka hanya menggunakan akses internet itu untuk chat via wa, main FB, atau dengerin lagu di youtube. Sebatas itu.

Lalu apa kabar Ppt, prezi dll? Apa kabar google drive, cloud dll? Gimana dengan blog, akses jurnal, sumber belajar online lainnya? Mereka tertawa aja. Nggak paham. Salah siapa?

Tidak ada yang bisa disalahkan sih menurut saya. Faktor penghambatnya banyak.

Sekolah kami baru dapat bantuan wifi dari kominfo, tapi di sekolah kami belum ada PLTS. Kami bisa menghidupkan wifi cuma kalau genset kami hidupkan. Itupun tidak nonstop. Dan mereka juga harus belajar di kelas sehingga susah cari waktu untuk mendampingi mereka supaya benar bisa menggunakan teknologi untuk pengembangan diri.

Setidaknya sekarang peluang mereka sedikit lebih terbuka untuk melek pada sumber belajar online. Sementara sambil mengusahakan fasilitas pendukung lainnya.

Meski begitu selalu ada sisi baik dari setiap hal jika kita menyikapinya positif, gen Z di kampung kami masih melakukan hal positif. Paling tidak dengan kegiatan outdoor dan permainan tang mereka lakukan, bisa tumbuh jasmani yang kuat dan rasa kerjasama yang baik.

Semoga fasilitas yang di dapatkan oleh gen Z dikota bisa segera kalian dapatkan.

-happy saturday-

Friday, June 21, 2019

Women, let's survive!

Hi, selamat malam sabtu.
Weekend. Fix.

Kenapa judulnya women, let's survive? Karena saya nggak merasakan jadi laki-laki.

Kalau di Jawa ada yang pernah dengar "wong wadon kuwi ra adoh-adoh teko masak, macak, manak" atau ada yang masih denger kata "ngapain sekolah tinggi-tinggi toh nantinya di dapur juga." Well harusnya sih sekarang udah nggak musim ya pemikiran itu.  Kenapa saya bilang let's survive! Bertahan hidup bukan masalah saat kita tersesat dihutan saja. Ditengah hiruk pikuk kehidupan kota-pun kita harus survive. Survive yang gimana sih? Gimana caranya?

Karena kita hidup, saat-saat sulit itu pasti ada. PASTI. Entah saat masih remaja, single atau saat sudah menikah, double, triple dan seterusnya. Tapi menurut saya kemampuan seseorang untuk survive tidak bisa hadir begitu saja. Semua butuh proses, ada yang harus dipelajari disana. Dan untuk ini saya berterimakasih sekali pada ibu saya, jika bukan karena didikan beliau mungkin saya sudah nangis minta pulang pas dapat tempat dinas yang disana nggak ada listrik, sulit sinyal, transportasi sulit, dan semua kerjaan rumah harus manual.

Penting bagi kita, wanita untuk bisa mengerjakan segala sesuatu secara manual meskipun penting juga kita bisa memakai alat yang modern. Sama kaya kita harus bisa jadi sederhana tapi nggak malu-maluin pas dibawa ke kondangan.  Sama kaya kita harus bisa kalau miskin tapi nggak katrok kalau kaya. ☺☺☺
Dan peran penting dipegang oleh wanita, ibu. Siapa sih yang nggak sayang anaknya? Tapi sayang bukan berarti menyediakan segala sesuatunya dan tidak mengajarkan apapun. Jika itu yang anda lakukan sebagai ibu, nanti bagaimana kalau anak kita harus seorang diri? Iya kalau seorang diri tapi kaya berduit bisa aja nyuruh orang ini itu, beli ini itu. Kalau seorang diri, nggak bersuit, nggak punya skill, nggak tau apa-apa dan nggak cantik pula. Tamat. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Apa cuma berlaku untuk wanita, gadis, perempuan, awewe, wong wadon, binian aja? Nope. Berlaku juga untuk laki-laki. Nggak peduli dia itu ganteng atau jelek, kaya atau miskin. Skill dasar bertahan hidup harus ada. Kasian kan kalau laki-laki nggak tau apapun soal rumah, kasian istrinya nanti. Iya, surga istri memang ada di suami, istri memang wajib melayani suami tapi istri bukan pembantu juga kan? 😊😊😊

Tapi kalau pengalaman saya sih, survive bukan cuma masalah fisik tapi juga hati. Dari hati itu semua berawal. Kalau hati kita sudah fix, bertahan, no matter what happen, maka tingkah laku akan mengikuti. Jadi yang namanya hati ini, harus kuat. Harus. Kuat patah, kuat jatuh, kuat malu, kuat. Gimana jadinya rumah kalau ibunya nggak punya jiwa survival, dikit2 ambruk, dikit2 kabur, dikit-dikit?
Gimana jadinya anak kalau ibunya nggak kuat? Anak udah SMP udah tau pacaran disuruh nggak mau, ibunya diem aja ngerjains emua sendiri. Gimana jadinya anak kalau ibunya meng-iyakan aja semua yang dikatakan anaknya meskipun it doesn't make sense. Gimana jadinya anak kalau ibunya nggak kuat ngajarin anaknya kapan harus berterimakasih, kapan harus minta maaf dan kapan harus bertanggung jawab. Gimana jadinya anak kalau ibunya cuma ngasih uang, uang dan uang? Tapi apa semua lalu salah ibu? Anaknya gimana?

Suatu saat, entah itu laki-laki atau perempuan akan menikah. Akan menjadi menantu dirumah orang. Dan kebiasaan yang sudah mendarah daging bukanlah hal yang mudah dirubah. Tapi dimanapun kita, kemampuan bertahan itu penting. Biar apa? Biar sehat jiwa raga dong. Supaya bisa survive, kita butuh jadi pintar. Supaya bisa pintar dan berpengetahuan luas kita perlu belajar. Kadang semua peristiwa yang kita alami, itulah jalan untuk kita belajar.

Dan tulisan ini bisa ada, sebagai sarana untuk survive juga. 😁😁😁

Stay strong.

Friday, May 3, 2019

Selamat hari pendidikan nasional, mari mendidik bukan menghardik

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat malam.
Harusnya tulisan ini muncul kemarin pas hari pendidikan nasional tapi kemarin ada projek yg lebih urgent untuk diselesaikan. πŸ˜‘

Sudah mulai libur awal puasa, libur yang panjang sepanjang jalan kenangan kita. Ehh...

Dijalan itulah tiap hari saya ke sekolah. Jalanan itu akan kelihatan romantis kalau habis hujan. 😁😁 biasalah efek LDR. Sebenarnya kalau ditinjau dari segi lingkungan, di desa ini suasana cukup kondusif untuk belajar. Nggak bising suara kendaraan bermotor, udaranya seger pula. Tapi kan banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar. Jadi tidak semua berjalan sesuai keinginan.

Ngomongin masalah sekolah itu nggak ada habisnya sampai kapanpun juga. Sebagai diary saya, kali ini saya mau nyimpen soal perpustakaan sekolah. Biar secanggih apapun teknologi dan perkembangannya, menurut saya perpustakaan tetap penting. Membaca buku punya feel yang beda dari membaca PDf di gadget, itu kalau saya. Ya meskipun saya lebih sering baca novel daripada ensiklopedia. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ Perpustakaan di sekolah kami belum punya ruangan sendiri, jadi perpustakaannya ada di dalam ruang kelas IX. Lohh kok? Jangan membayangkan ruangannya jadi penuh sesak, ruangannya masih lapang kok. Kan siswanya cuma 5 dan rak buku perpustakaan kami tidak banyak.



Perpustakaan SMP

Nah itulah perpustakaan kami. Agak berantakan ya? Agak?? Memang tidak teratur sih. Saya belum sempat ngajak anak-anak untuk menyusun buku-buku di perpustakaan. Meskipun kelihatannya begitu tapi sebenarnya setelah saya lihat banyak buku bagus yang bisa dibaca anak-anak. Tapi sayangnya anak-anak sepertinya belum berminat membaca, bukunya sampai berdebu gitu. Bisa dehh dipakai bedakan kalau bedak habis. πŸ˜‚πŸ˜‚ selain buku-buku pelajaran yang dari pemerintah banyak buku referensi yang lain yang cukup bagus. Buku pengetahuan umum series juga banyak. Saya lupa nggak ngambil foto closer look-nya. 

Padahal jika dilihat dari situasi dan kondisi yang ada, membaca buku harusnya menyenangkan disana. Saya aja jadi seneng baca buku sambil duduk di teras belakang rumah menghadap ke sungai. Lebih menyenangkan daripada baca buku di dalam kamar di rumah dinas. Adem. Tapi gemar membaca bukanlah sesuatu yang instan bisa terjadi, butuh pembiasaan. Membaca juga sedikit banyak dipengaruhi oleh minat. Tapi jika tidak dimulai untuk dikenalkan pada kebiasaan membaca kapan lagi anak-anak sadar akan pentingnya literasi. Kan gerakan literasi lagi digalakkan oleh pemerintah juga. 

Kalau melihat dari kebiasaan anak-anak sekarang sih rasanya akan butuh perjuangan panjang supaya mereka mau lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca daripada main. Main disini beneran main, main kelereng. Anak-anak cewek pun, siswa saya di SMP, siang-siang tu main kelereng disamping rumah saya. Kalau di kota mana ada, paling mereka main HP. Atau malah jalan-jalan ke mall, upload video tik tok. Tapi saya punya mimpi, suatu hari anak-anak akan lebih senang membaca. Saya nggak mimpi muluk-muluk kaya di drama-drama gitu yang siswanya disuruh membaca satu buku tiap minggu terus bikin book review. 

Mudah-mudahan niat ini bisa terwujud. Sementara ini sih mereka masih nanya-nanya aja "baca apa bu pian?" Tapi suatu hari semoga mereka juga membaca meski bukan di sekolah. Sementara ini anak-anak masih belum bergerak untuk membaca, saya sih masih cerita-cerita aja. Kadang saya sengaja menceritakan buku yang saya baca meskipun saya tu cuma baca buku judulnya "keistimewaan semut". Itu buku terakhir yang saya baca waktu di desa. 

Kenapa sih mereka nggak membaca? 
Lagi asik di kebun 

Salah satunya karena mereka lebih tertarik pada aktifitas fisik. Itu anak-anak lagi nanam singkong di sela-sela jam pelajaran. Lumayan kalau besar bisa di goreng singkongnya, pucuk daun singkongnya bisa di masak. 😁😁Kalau hari Jumat seneng mereka, olahraga. Pagi biasa kami main voli, ya meskipun saya nggak bisa.

Nah lain halnya dengan perpustakaan SD, karenankami sekolah satu atap, kantor guru juga jadi satu. Perpustakaan SD ada dikantor guru dan sedihnya sepertinya bukunya sudah tidak tersentuh sejak Thanos belum lahir. Debunya lebih tebal daripada di perpustakaan SMP. Sebenarnyabwajar aja sih karena anak-anak SD di desa sepertinya memang nggak akan ke perpustakaan kalau tidak disuruh dan langsung didampingi gurunya. Padahal buku-bukunya bagus, berwarna dan kertasnya bagus. Kan biasanya anak-anak BeTe kalau baca buku yang kusam terua iainya tulisan semua nggak ada gambarnya. Semoga di SD kami segera ada tambahan guru jadi anak-anak bisa lebih terbimbing. 
Perpustakaan SD


Well, apapun yang terjadi mudah-mudahan anak-anak saya di sekolah bisa jadi orang yang bisa membawa manfaat dalam masyarakat. Saya juga semoga nggak khilaf dan ngasih contoh yang tidak baik. Kalau pas di kota kemarin saya sering nggak ngikutin aturan berseragam,disini saya disiplin lah ya supaya anak-anak ikut disiplin juga. 
Bye bye high heels

Termasuk disiplin bersepatu, nggak ada high heels, ankle boot, flas shoes cantik; yang ada pakai sport shoes aja sesuai medan. Bukan cuma pas olahraga, tiap hari. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Selamat hari pendidikan nasional untuk semua pembelajar. πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡





Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Salam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”   ( Teach...