Thursday, December 26, 2019

Wordwall dan drilling? Building vocabularies.



Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Selamat malam Jumat πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³

Kali ini mau berbagi saja, salah satu usaha saya untuk maju bersama anak-anak. Jadi guru untuk anak usia SMP itu agak memusingkan bagi saya. Apalagi letak geografisnya aduhai...fasilitasnya serba seadanya. Di awal saya sempat frustasi juga, anak-anak ini diapain ya supaya mau belajar. Apalagi belajar Bahasa Inggris, yang menurut sebagian besar anak-anak itu mata pelajaran yang sulit. Tulisannya apa, bacanya beda, artinya lain; bingung mereka. πŸ˜‚

Setelah saya ingat-ingat, waktu saya sekolah dulu rasanya kami belajar sendiri juga. Tapi lain dulu lain sekarang ya seperti lain ladang lain belalang. Sekarang yang sudah zaman 4.0, harusnya serba digital serba teknologi. Tapi saya mlongo dong, teknologi yang seperti apa yang harus saya pakai. Kalau sudah baca postingan-postingan saya sebelumnya mungkin sudah tahu kondisi di sekolah kami.

Saya mau mengenalkan world englishes secara online, sulit. Kenapa? Sinyal internetnya seperti isi dompet waktu tanggal tua, menyedihkan. 😭 kalau cuaca mendung, aki PLTS tidak terisi, selamat! Wifi sekolah tidak bisa hidup. Begitu juga listrik. Mau nunjukin video pakai proyektor, bye. Mau listening pakai speaker, bye-bye.

Saya pernah bikin semacam flashcard tapi tidak bergambar untuk setiap materi, saya bagikan ke anak-anak supaya bisa dibaca bahkan sambil main, dan di hafal. Tapi ternyata? Saya kena PHP. Kertasnya hilang entah kemana, kosakata pun tak ingat. 😁😁😁

Karena jumlah kamus di sekolah kami nggak banyak, pun anak-anak nggak punta kamus pribadi, saya pernah mengizinkan anak-anak bawa HP ke sekolah waktu pelajaran saya. Dengan syarat HP nya ada kamusnya, jadi bila sewaktu-waktu dibutuhkan lebih cepat mencari kosa kata daripada printed dictionary, juga lebih update kosa katanya. Tapi kepercayaan saya sepertinya disalahgunakan, HP nya dipakai hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran, dan merugikan. Baiklah, akhirnya saya larang bawa HP seperti peraturan awal.

Lalu saya baca-baca, dapat ada wordwall untuk belajar kosa kata. Baiklah, saya coba. Siapa tau berhasil. Akhirnya, saya bareng anak-anak membuat daftar kosa kata per materi dan menuliskannya di kertas warna-warni untuk di tempelkan di dinding.

Kerjasama nempelin kosakata di dinding
Karena anak didik saya kelas VII cuma 4 orang, jadi lebih mudah bagi saya mengontrol kegiatan mereka.




Wordwall di kelas VII

Dindingnya jadi warna-warni, tapi biarlah. Jadi kelihatan seperti kelas beneran, nggak sepiiiiii. Tapi wordwall itu mungkin nggak akan dibaca anak-anak dan jadi hiasan dinding semata. Jadi tindakan lanjutannya adalah drilling. Jadi kalau pas saya lihat anak-anak lagi nganggur, atau pas sebelum atau setelah pelajaran saya, pas jam kosong juga saya ajak anak-anak memnaca kosa kata nya. Nggak langsung semua memang, bergantian kosa katanya, tapi setiap hari. Harapan saya sih, kosa kata itu akan lebih nyantol di ingatan mereka. 

Dan setelah sekitar dua minggu berjalan, it works! πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³
Salah satu anak didik kelas VII bisa menang lomba menulis kosa kata melawan kelas VIII dan kelas IX, regu kelas VII juga bisa menang lomba spelling bee melawan kakak-kakak kelasnya. ❤

Semangatttt!!!!

Jadi wordwall dan drilling ini satu paket yang bisa di amalkan di sekolah yang minim fasilitas dan akses internet seperti di sekolah saya.

Sleep well. 😊




Saturday, December 21, 2019

Lomba menulis kosakata dan Spelling Bee untuk mengisi kegiatan aktualisasi


Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Saturday night, jalanan kota dipenuhi muda-mudi atau adek-adek.

Sekolah sudah mulai libur hari Senin depan, artinya gurunya libur juga. Siiiipppp 😊😊😊

Setelah perjalanan panjang selama satu semester, liburan adalah hadiah untuk jiwa dan raga yang mungkin sudah lelah.

Sebagai guru saya pengen juga anak didik saya pintar dan cerdas seperti anak-anak yang sekolah di kota. Jadi saya nekat aja menggadakan lomba Bahasa Inggris untuk murid saya yang ada di desa. Kenapa saya bilang nekat? Kemampuan anak didik saya bikin nangis tapi nggak keluar air mata. Untuk yang SMP kelas IX, kalau di kota sudah cas cis cus Bahasa Inggrisnya, ditempat saya cus aja....cusss makan gorengan di warung samping sekolah. Tapi nggak apa-apa, ibu saya sering bilang "dicoba aja, kalau nggak dicoba nggak ta7 hasilnya."

Oke!

Tepat dengan waktu latsar CPNS pula, jadi saya masukin kegiaran lomba ini dalam salah satu kegiatan aktualisasi saya.
Ada dua lomba, pertama lomba menulis kosakata Bahasa Inggris, kedua lomba spelling bee.
Jangan dibayangkan lombanya akan cas cis cusss...

Lomba pertama, semua anak didik saya harus ikut.
Sederhana saja, peserta lomba harus menuliskan kosakata Bahasa Inggris di lembar jawaban yang sudah saya sediakan dalam waktu 30 menit saja. Tidak ada batasan kata apa yang harus dituliskan, bebas.

Penilaiannya mudah saja, jumlahkan saja kata yang penulisannya benar dan siapa yang menuliskan kosakata paling banyak itulah pemenangnya.
Nahh, hasilnya tidak mengejutkan buat saya karena saya sudah perkirakan sebelumnya. Juara satu berhasil menuliskan 141 kata yang benar, juara 2 ada 138 kata dan juara 3 menuliskan 112 kata dalam 30 menit.
Saya cukup bangga dengan pemenang ke2, dari kelas VII. Kenapa? Karena kelas VII baru kenal belajar mata pelajaran Bahasa Inggris selama kurang dari 1 semester. Beda dengan pemenang pertama, dari kelas IX, sudah belajar Bahasa Inggria dari kelas VII. Dari lomba ini saya yang belum ada 1 tahun jd guru Bahasa Inggris disana merasa punya setitik harapan.
Kalau saya rajin, inovatif, dan kreatif mungkin si anak juara 2 ini akan bisa lebih pintar Bahasa Inggrisnya.
Saya dan pemenang lomba, juara 1-3 dari kiri ke kanan


Ini saat lombanya berlangsung.

Lomba yang kedua adalah lomba spelling bee, yang pernah nonton film akeelah and the bee tolong jangan membayangkan lombanya akan seperti itu. 
Lombanya saya modifikasi sedemikian rupa sehingga cocok dengan anak didik saya. Karena ini kali pertama untuk mereka, saya buat lombanya beregu. 

Nah, karena anak didik saya dari kelas VII sampe kelas IX cuma ada 13 maka ada 4 regu.
Satu regu ada 3 orang. Tadinya saya akan bikin satu regu dua orang, tapi anak-anak minta 1 regu 3 orang. Baiklah, saya kabulkan permintaan anak-anak. 
Awalnya saya pikir murid saya yang laki-laki itu tidak antusias ikut lomba karena biasanya di kelas dia ogah-ogahan, tapi ternyata dia semangattttt. Seneng dong gurunyaaaaa... 😭😭😭

Lombanya sederhana saja, ada babak penyisihan dan babak final. Dalam babak penyisihan cuma ada 12 kata untuk dijabarkan spelling-nya dan babak ginal.ada 6 kata. Kata yang saya pilih pun bukan kata yang wow seperti di filmnya, saya pilih kata sehari-hari saja. 
Hasilnya ternyata regu kelas VII yang menempati rangking pertama babak penyisihan dan akhirnya jd juara 1 di juga di babak.final.melawan regu dari kelas IX.
Dari situ makin besar dong harapan saya. 😍😍😍
Nah pemenangnya 3 regu

Sepertinya kelas VII kemajuan ber-Bahasa Inggrisnya lebih baik karena ada saya lakukan drilling kosakata dengan media wordwall. 

Entahlah, semoga mereka selalu bersemangat belajar sampai akhir hayat.

Nahh dari salah satu rangkaian kegiatan itu, setelah seminar laporan dan segala keruwetan yang menyelimutinya akhirnya saya dapat juara. 
Padahal niat sama sekali nggak ngejar juara, sebagai emak-emak yang kalau udah dirumah udah nggak bisa ngerjain kerjaan administratif, saya pasrah aja. Saya kerjain sebisanya, semoga C dalam status saya bisa terhapus. Tapi sepertinya Allah memberi saya rejeki yang lain, dapat juara 4, bisa diberi ucapan selamat oleh pak sekda provinsi kalimantan tengah.
Saya tetap bersyukur, sebagai anak kampung saya bisa sampai pada titik ini. Semoga setelah diberi piagam dan "ditanya" beliau tadi, saya bisa jadi sekda entah tahun berapa. Aamiin.😁😁😁




Bismillah, pengingat buat diri saya sendiri juga untuk melakukan segala sesuatu tetap dengan baik. Hal lain-lain akan mengikuti dengan sendirinya. Seperti wejangan ibu Ida selaku coach saya, dimanapun berada berikan yang terbaik, emas meakipun ditempat gelap akan tetap bersinar.


Selamat Malam!






Friday, November 29, 2019

Gen Z dikampung masihkan jadi gen Z?

Bismillahirrahmanirrahim...

Good morning.. 😊

Lama nggak nulis di blog. Nglemasin jari dulu buat ngetik biar nggak cuma wa an aja. πŸ˜‚

Kali ini masih mau nulis tentang anak sekolah. Anak kelahiran tahun 95an yang katanya generazi Z atau gen Z yang berdasarkan beberapa definisi ahli bisa disimpulkan bahwa anak gen Z from the earlieast young age sudah familiar dengan internet.

Selama delapan tahun perjalanan karir saya menjadi pendidik, saya sudah pernah merasakan mendidik anak kota di universitas sampai sekarang dapat kesempatan mendidik anak desa di desa. Dulu tahun 2012 awal saya ngajar di kota, mahasiswanya amazing semua. Mereka pada mahir menggunakan teknologi. Saya yang harus belajar banyak demi mengimbangi mereka di kelas.

Tapi hari ini saya tidak mau membahas tentang mahasiswa, cukup membahas siswa "gen Z" saya yang ada di kampung. Bagi yang sudah baca tulisan-tulisan sebelumnya di blog saya pasti, sudah tahu sekarang saya mengabdi di desa. Listrik kami masih menggunakan panel surya, kalau sinyal jangan tanya. Γ‘yari sinyal lebih susah daripada move up dari mantan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Lalu apa kabar gen Z kami?


Nah, itu kabar gen Z di kampung. Di saat gen Z di kota main gadget saat jam kosong atau istirahat, mereka malah main itu. Kalau di tempat asal saya sih namanya main "benthek" tapi anak-anak disini nyebutnya main "kelele". Terkadang mereka masih main lompat tali padahal sudah SMP. Dulu saya waktu SMP sudah nggak main gituan, mama malah nyuruh dirumah aja. Panas! Hasilnya bisa dilihat, saya nggak jago main apa-apa.

Gen Z di kampung kami, entah masih bisa di sebut gen Z atau tidak. Mereka tidak terlalu familiar dengan teknologi. Kebanyakan mereka memang punya HP android, terkadang mereka juga rela membayar sejumlah uang untuk wifi. Tapi sejauh yang saya amati, mereka hanya menggunakan akses internet itu untuk chat via wa, main FB, atau dengerin lagu di youtube. Sebatas itu.

Lalu apa kabar Ppt, prezi dll? Apa kabar google drive, cloud dll? Gimana dengan blog, akses jurnal, sumber belajar online lainnya? Mereka tertawa aja. Nggak paham. Salah siapa?

Tidak ada yang bisa disalahkan sih menurut saya. Faktor penghambatnya banyak.

Sekolah kami baru dapat bantuan wifi dari kominfo, tapi di sekolah kami belum ada PLTS. Kami bisa menghidupkan wifi cuma kalau genset kami hidupkan. Itupun tidak nonstop. Dan mereka juga harus belajar di kelas sehingga susah cari waktu untuk mendampingi mereka supaya benar bisa menggunakan teknologi untuk pengembangan diri.

Setidaknya sekarang peluang mereka sedikit lebih terbuka untuk melek pada sumber belajar online. Sementara sambil mengusahakan fasilitas pendukung lainnya.

Meski begitu selalu ada sisi baik dari setiap hal jika kita menyikapinya positif, gen Z di kampung kami masih melakukan hal positif. Paling tidak dengan kegiatan outdoor dan permainan tang mereka lakukan, bisa tumbuh jasmani yang kuat dan rasa kerjasama yang baik.

Semoga fasilitas yang di dapatkan oleh gen Z dikota bisa segera kalian dapatkan.

-happy saturday-

Friday, June 21, 2019

Women, let's survive!

Hi, selamat malam sabtu.
Weekend. Fix.

Kenapa judulnya women, let's survive? Karena saya nggak merasakan jadi laki-laki.

Kalau di Jawa ada yang pernah dengar "wong wadon kuwi ra adoh-adoh teko masak, macak, manak" atau ada yang masih denger kata "ngapain sekolah tinggi-tinggi toh nantinya di dapur juga." Well harusnya sih sekarang udah nggak musim ya pemikiran itu.  Kenapa saya bilang let's survive! Bertahan hidup bukan masalah saat kita tersesat dihutan saja. Ditengah hiruk pikuk kehidupan kota-pun kita harus survive. Survive yang gimana sih? Gimana caranya?

Karena kita hidup, saat-saat sulit itu pasti ada. PASTI. Entah saat masih remaja, single atau saat sudah menikah, double, triple dan seterusnya. Tapi menurut saya kemampuan seseorang untuk survive tidak bisa hadir begitu saja. Semua butuh proses, ada yang harus dipelajari disana. Dan untuk ini saya berterimakasih sekali pada ibu saya, jika bukan karena didikan beliau mungkin saya sudah nangis minta pulang pas dapat tempat dinas yang disana nggak ada listrik, sulit sinyal, transportasi sulit, dan semua kerjaan rumah harus manual.

Penting bagi kita, wanita untuk bisa mengerjakan segala sesuatu secara manual meskipun penting juga kita bisa memakai alat yang modern. Sama kaya kita harus bisa jadi sederhana tapi nggak malu-maluin pas dibawa ke kondangan.  Sama kaya kita harus bisa kalau miskin tapi nggak katrok kalau kaya. ☺☺☺
Dan peran penting dipegang oleh wanita, ibu. Siapa sih yang nggak sayang anaknya? Tapi sayang bukan berarti menyediakan segala sesuatunya dan tidak mengajarkan apapun. Jika itu yang anda lakukan sebagai ibu, nanti bagaimana kalau anak kita harus seorang diri? Iya kalau seorang diri tapi kaya berduit bisa aja nyuruh orang ini itu, beli ini itu. Kalau seorang diri, nggak bersuit, nggak punya skill, nggak tau apa-apa dan nggak cantik pula. Tamat. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Apa cuma berlaku untuk wanita, gadis, perempuan, awewe, wong wadon, binian aja? Nope. Berlaku juga untuk laki-laki. Nggak peduli dia itu ganteng atau jelek, kaya atau miskin. Skill dasar bertahan hidup harus ada. Kasian kan kalau laki-laki nggak tau apapun soal rumah, kasian istrinya nanti. Iya, surga istri memang ada di suami, istri memang wajib melayani suami tapi istri bukan pembantu juga kan? 😊😊😊

Tapi kalau pengalaman saya sih, survive bukan cuma masalah fisik tapi juga hati. Dari hati itu semua berawal. Kalau hati kita sudah fix, bertahan, no matter what happen, maka tingkah laku akan mengikuti. Jadi yang namanya hati ini, harus kuat. Harus. Kuat patah, kuat jatuh, kuat malu, kuat. Gimana jadinya rumah kalau ibunya nggak punya jiwa survival, dikit2 ambruk, dikit2 kabur, dikit-dikit?
Gimana jadinya anak kalau ibunya nggak kuat? Anak udah SMP udah tau pacaran disuruh nggak mau, ibunya diem aja ngerjains emua sendiri. Gimana jadinya anak kalau ibunya meng-iyakan aja semua yang dikatakan anaknya meskipun it doesn't make sense. Gimana jadinya anak kalau ibunya nggak kuat ngajarin anaknya kapan harus berterimakasih, kapan harus minta maaf dan kapan harus bertanggung jawab. Gimana jadinya anak kalau ibunya cuma ngasih uang, uang dan uang? Tapi apa semua lalu salah ibu? Anaknya gimana?

Suatu saat, entah itu laki-laki atau perempuan akan menikah. Akan menjadi menantu dirumah orang. Dan kebiasaan yang sudah mendarah daging bukanlah hal yang mudah dirubah. Tapi dimanapun kita, kemampuan bertahan itu penting. Biar apa? Biar sehat jiwa raga dong. Supaya bisa survive, kita butuh jadi pintar. Supaya bisa pintar dan berpengetahuan luas kita perlu belajar. Kadang semua peristiwa yang kita alami, itulah jalan untuk kita belajar.

Dan tulisan ini bisa ada, sebagai sarana untuk survive juga. 😁😁😁

Stay strong.

Sunday, May 12, 2019

Untuk Indonesia-ku

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam terakhir akhir pekan. 😊😊😊

Liburan sekolah ini sebenarnya mau santai dirumah tapi dimintain tolong untuk ngajar di kampus lagi sampai dapet dosen pengganti. Well, karena jadwal di kampus ini nggak sepadat merayap seperti jadwal di sekolah jadi saya terima. Kebetulan saya juga kangen sama mahasiswa-mahasiswa kelas saya kemarin, juga kangen suasana di kelas. Sebulan ngajar di SMP sebenarnya ada perbedaan yang cukup signifikan, kali ini supaya otak nggak mampet juga kelamaan libur sekolah.

Setelah kangen-kangenan (dengan mahasiswi ya... entar dikira dengan mahasiswa) tentu saja materi tetap lanjut. Setelah dua pertemuan jiwa kepo saya mulai bangkit dan akhirnya keluarlah tugas untuk mereka dengan judul "apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia". Kenapa begitu? awalnya karena ada mahasiswa yang selalu menggebu-nggebu bicara politik dan pemilu, mengkritik pemerintah endebra endebre bla bla bla. πŸ˜€πŸ˜€ Jadi akhirnya saya pengen tau dong apa kontribusi mereka untuk Indonesia.

Saya bukan tipe yang kalau ngasih tugas cuma ngasih topiknya aja tanpa contoh. Kali ini juga saya contohkan dalam slide Ppt apa kontribusi saya untuk Indonesia. Meskipun sangat kecil saya berharap mereka termotivasi, bukannya saya mau pamer ya. Diantara 2 kelas yang saya kasih tugas yang sama, sekitar 80% pada awalnya bingung. Bingung kenapa? Mereka ngrasa nggak guna beib. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Karena mereka masih termasuk generasi muda tentunya lain dong dengan yang saya contohkan, kan saya sudah generasi tua sudah kerja, jadi guru pula kerjanya. Jadi sederhananya sudah dapat dilihat kontribusinya untuk Indonesia, meakipun begitu saya juga mencontohkan kontribusi saya dalam masyarakat lo tapi nggak perlu saya ungkap disini. Takut dosa, puasa kok ria. 😁😁😁😁

Tulisan kali ini supaya saya ingat aja suatu saat kalau mahasiswa saya pernah mempresentasikan ini. Saya sempat mengabadikan judul slide mereka meskipun nggak semua saya upload disini.
Diantaranya ini nih...

Slide ini punya mahasiswa paling pintar di kelas saya semester ini. Dia sharing ini lancar pakai Bahasa Inggris dan temannya pun paham. Penjelasannya runtut kenapa kok pada akhirnya "joining youth community in my chruch" ini memberikan kontribusi positif. Excellent boy!

Slide kedua ini punya mahasiswa favorit saya. Buka  karena dia ganteng, bukan! Dia mahasiswa paling beriman di kelas. 😊😊 dari slide nya itu akhirnya saya tau, selama ini dia ngajarin anak-anak ngaji di kampungnya. Dia bilang dengan menanamkan nilai-nilai Al-Qur'an di dalam diri anak-anak, nanti mereka akan tumbuh menjadi generasi cerdas nan beriman. Jadi Indonesia tidak akan penuh lagi dengan cabe-cabean yang naik motor kebut2an bonceng 3. Hahahaha..kalimat terakhir saya yang ngomong ya, dia mah terlalu kalem untuk ngomong gitu. Selain itu dia juga gabung dengan salah satu organisasi islam yang kegiatannya banyak yg positif.
Slide ketiga ini punya mahasiswa paling ganteng dan pemalu di kelas. Upss.. enggak ya, bercanda aja. Ganteng itu kan relatif, bagi saya yang paling ganteng ya Lee Seung Gi oppa. Wkwkwkwkwkwkwkkk. Sorry! πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… Intinya mahasiswa saya yang satu ini bilang sebagai generasi muda dia selalu berusaha menggunakan produk lokal. Saya lihatin dong dia pas presentasi penampakannya gimana mulai dari baju sampai sepatunya. Saya nggak yakin 100% lokal, pas saya tanya dia bilang belum 100% masih sekitar 60-70%. Tapi penjelasan dia masuk akal tentang bagaimana menggunakan produk lokal itu berkontribusi untuk Indonesia. Ada satu lagi mahasiswa yang idenya serupa dengan ini, tapi penilaian saya yang saya upload ini yang lebih runtut penjelasannya.

Slide ke empat ini punya mahasiswa paling jail di kelas. Jadi saya panggil namanya terakhir soalnya kalau dia presentasi duluan, nanti dia usil ganggu temannya presentasi. πŸ˜€
Saya pilih ini karena dia bilang dari SMP sewaktu dia jadi ketua OSIS dia sudah aktif memelopori menanam pohon di sekolahnya. Dan tang dia tanam pun nggak cuma buat hijau-hijauan yang rindang tapi yang bisa berbuah juga. Jarang kan anak-anak peduli banget ama pepohonan. Good job boy! ☺☺☺
Slide yang ini bukan punya mahasiswi tapi punya mahasiswa juga. Meskipun dia cowok, dia kalau belanja selalu bawa tempat sendiri. Sebenernya saya agak ragu, tapi selama ini dia memang baik dan tidak berulah di kelas. Penjelasannya pun alhamdulillah bisa diterima.

Yup, itulah top five untuk kelas saya minggu ini. Kenapa semua slide nya punya mahasiswa? Karena kebetulan isinya mahasiswa semua.
Dari sini sebenarnya tujuan saya selain supaya mereka lebih lancar presentasi ber-Bahasa Inggris, saya ingin mereka juga berpikir sebagai generasi muda apa yang sudah mereka lakukan untuk Indonesia. Sebagai mahasiswa yang katanya agent of change kan harus berpikir kritis. Ketauan banget dari tugas ini, yang klabakan karena nggak tau dia tu berguna apa. Banyak yang mikir mereka nggak berguna. Jadi saya bilang yang sampai detik ini merasa tidak berkontribusi apapun, tolong untuk mulai bergerak dan berkembang. Bagaimana Indonesia bisa lebih maju kalau generasi mudanya cuma kuliah-cafe kuliah-mall kuliah- ngegame, jangan teriak-teriak pemerintah gini gitu kalau menemukan kontribusi buat negara sendiri aja nggak bisa. Termasuk saya, nggak usah banyak protes. Ayo lakukan saja hal-hal bermanfaat yang bisa kita lakukan meskipun kelihatannya sepele.


Happy sunday night. πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™

PS: teruntuk mahasiswa yang baca ini, bukan berarti presentasi yang lain nggak bagus tapi saya pilih top five nya aja. Masih ada besok dan seterusnya. ☺☺☺



Friday, May 3, 2019

Selamat hari pendidikan nasional, mari mendidik bukan menghardik

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat malam.
Harusnya tulisan ini muncul kemarin pas hari pendidikan nasional tapi kemarin ada projek yg lebih urgent untuk diselesaikan. πŸ˜‘

Sudah mulai libur awal puasa, libur yang panjang sepanjang jalan kenangan kita. Ehh...

Dijalan itulah tiap hari saya ke sekolah. Jalanan itu akan kelihatan romantis kalau habis hujan. 😁😁 biasalah efek LDR. Sebenarnya kalau ditinjau dari segi lingkungan, di desa ini suasana cukup kondusif untuk belajar. Nggak bising suara kendaraan bermotor, udaranya seger pula. Tapi kan banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar. Jadi tidak semua berjalan sesuai keinginan.

Ngomongin masalah sekolah itu nggak ada habisnya sampai kapanpun juga. Sebagai diary saya, kali ini saya mau nyimpen soal perpustakaan sekolah. Biar secanggih apapun teknologi dan perkembangannya, menurut saya perpustakaan tetap penting. Membaca buku punya feel yang beda dari membaca PDf di gadget, itu kalau saya. Ya meskipun saya lebih sering baca novel daripada ensiklopedia. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ Perpustakaan di sekolah kami belum punya ruangan sendiri, jadi perpustakaannya ada di dalam ruang kelas IX. Lohh kok? Jangan membayangkan ruangannya jadi penuh sesak, ruangannya masih lapang kok. Kan siswanya cuma 5 dan rak buku perpustakaan kami tidak banyak.



Perpustakaan SMP

Nah itulah perpustakaan kami. Agak berantakan ya? Agak?? Memang tidak teratur sih. Saya belum sempat ngajak anak-anak untuk menyusun buku-buku di perpustakaan. Meskipun kelihatannya begitu tapi sebenarnya setelah saya lihat banyak buku bagus yang bisa dibaca anak-anak. Tapi sayangnya anak-anak sepertinya belum berminat membaca, bukunya sampai berdebu gitu. Bisa dehh dipakai bedakan kalau bedak habis. πŸ˜‚πŸ˜‚ selain buku-buku pelajaran yang dari pemerintah banyak buku referensi yang lain yang cukup bagus. Buku pengetahuan umum series juga banyak. Saya lupa nggak ngambil foto closer look-nya. 

Padahal jika dilihat dari situasi dan kondisi yang ada, membaca buku harusnya menyenangkan disana. Saya aja jadi seneng baca buku sambil duduk di teras belakang rumah menghadap ke sungai. Lebih menyenangkan daripada baca buku di dalam kamar di rumah dinas. Adem. Tapi gemar membaca bukanlah sesuatu yang instan bisa terjadi, butuh pembiasaan. Membaca juga sedikit banyak dipengaruhi oleh minat. Tapi jika tidak dimulai untuk dikenalkan pada kebiasaan membaca kapan lagi anak-anak sadar akan pentingnya literasi. Kan gerakan literasi lagi digalakkan oleh pemerintah juga. 

Kalau melihat dari kebiasaan anak-anak sekarang sih rasanya akan butuh perjuangan panjang supaya mereka mau lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca daripada main. Main disini beneran main, main kelereng. Anak-anak cewek pun, siswa saya di SMP, siang-siang tu main kelereng disamping rumah saya. Kalau di kota mana ada, paling mereka main HP. Atau malah jalan-jalan ke mall, upload video tik tok. Tapi saya punya mimpi, suatu hari anak-anak akan lebih senang membaca. Saya nggak mimpi muluk-muluk kaya di drama-drama gitu yang siswanya disuruh membaca satu buku tiap minggu terus bikin book review. 

Mudah-mudahan niat ini bisa terwujud. Sementara ini sih mereka masih nanya-nanya aja "baca apa bu pian?" Tapi suatu hari semoga mereka juga membaca meski bukan di sekolah. Sementara ini anak-anak masih belum bergerak untuk membaca, saya sih masih cerita-cerita aja. Kadang saya sengaja menceritakan buku yang saya baca meskipun saya tu cuma baca buku judulnya "keistimewaan semut". Itu buku terakhir yang saya baca waktu di desa. 

Kenapa sih mereka nggak membaca? 
Lagi asik di kebun 

Salah satunya karena mereka lebih tertarik pada aktifitas fisik. Itu anak-anak lagi nanam singkong di sela-sela jam pelajaran. Lumayan kalau besar bisa di goreng singkongnya, pucuk daun singkongnya bisa di masak. 😁😁Kalau hari Jumat seneng mereka, olahraga. Pagi biasa kami main voli, ya meskipun saya nggak bisa.

Nah lain halnya dengan perpustakaan SD, karenankami sekolah satu atap, kantor guru juga jadi satu. Perpustakaan SD ada dikantor guru dan sedihnya sepertinya bukunya sudah tidak tersentuh sejak Thanos belum lahir. Debunya lebih tebal daripada di perpustakaan SMP. Sebenarnyabwajar aja sih karena anak-anak SD di desa sepertinya memang nggak akan ke perpustakaan kalau tidak disuruh dan langsung didampingi gurunya. Padahal buku-bukunya bagus, berwarna dan kertasnya bagus. Kan biasanya anak-anak BeTe kalau baca buku yang kusam terua iainya tulisan semua nggak ada gambarnya. Semoga di SD kami segera ada tambahan guru jadi anak-anak bisa lebih terbimbing. 
Perpustakaan SD


Well, apapun yang terjadi mudah-mudahan anak-anak saya di sekolah bisa jadi orang yang bisa membawa manfaat dalam masyarakat. Saya juga semoga nggak khilaf dan ngasih contoh yang tidak baik. Kalau pas di kota kemarin saya sering nggak ngikutin aturan berseragam,disini saya disiplin lah ya supaya anak-anak ikut disiplin juga. 
Bye bye high heels

Termasuk disiplin bersepatu, nggak ada high heels, ankle boot, flas shoes cantik; yang ada pakai sport shoes aja sesuai medan. Bukan cuma pas olahraga, tiap hari. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Selamat hari pendidikan nasional untuk semua pembelajar. πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡





Saturday, April 13, 2019

It has to be good

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hi, universe.

Kenapa judulnya it has to be good? Karena postingan kali ini akan bercerita tentang dunia per-sekolahan saya yang baru. Kebanyakan sekolah yang bagus letaknya di kota, bagus disini bukan hanya gedung dan fasilitasnya saja. Pendidik dan tenaga kependidikannya juga peserta didiknya, semuanya bagus baik input maupun output-nya. Memang tidak semua tapi kebanyakan begitu, kenyataannya. Sekolah tempat saya ngajar sekarang ada di desa. SMP N Satap 3 Hanau. Sekolah ini dibangun atas kerjasama dengan pemerintah Australia pada tahun 2009. SMP ini sudah mempunyai gedung sendiri, tidak menempati gedung yang sama dengan SD.
Kompleks sekolah di desa Paring Raya

Gedung sebelah kanan adalah gedung SMP, terdiri dari 3 ruang kelas, dan toilet 3 pintu. Gedung sebelah kiri adalah gedung SD. Terdiri dari 4 kelas gedung lama dan 3 kelas gedung baru. Ditengah gedung lama dan baru ada toilet 2 pintu. Baik SD maupun SMP sudah punya genset masing-masing. Dan airpun bersih, air sumurnya berlimpah. Guru SMP nya ada 4, dan kami meng-handle semua mata pelajaran yang ada di SMP. Savage. πŸ˜€πŸ˜€

Saya yang pada dasarnya guru Bahasa Inggris dan tidak pernah megang mapel yang lain dulunya, langsung shock pas wakasek kurikulumnya bilang saya mengampu 3 mapel, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Islam, dan Seni Budaya. Oh My Gosh, saya langsung ingat pak Bahris, guru agama di SMK tempat saya mengabdi sebelum ini. Ingat betapa sabarnya beliau ngajarin agama, lahh saya??? Lalu saya berpikir, mungkin ini teguran dari Allah untuk saya yang sekarang kebanyakan surfing dunia maya daripada mengaji. Dan Seni Budaya? Apa pula ini. Honestly I'm not good at this subject. Terus siswanya mau saya ajarin apaan, kalau cuma baca di buku sih mereka juga bisa baca sendiri. Perlahan tapi pasti saya menyesali masa lalu saya di sekolah dulu, andai saya ini rajin dan menguasai banyak seni. 😒😒😒

Berdasarkan jadwal jam sekolah adalah jam 07.00-13.20 WIB tapi percayalah anak-anak sudah gelisah mau pulang setelah jam shalat dhuhur. Jam 11.15 mereka istirahat kedua dilanjutkan shalat dhuhur sampai jam 12.00. Good point nya adalah mereka langsung siap-siap shalat tanpa saya harus teriak-teriak nyuruh shalat. Siswa laki-lakinya cuma 4 dan merekalah yang gantian jadi imam? Kenapa bukan gurunya? Gurunya perempuam semua, kepala sekolahnya laki-laki tetapi kebetulan beragama lain. Tapi setelah pertama saya mendengarkan mereka adzan dan iqhomah saya pikir mereka bagus aja. And I'm happy seeing that. Saya nggak mengabadikan momen shalat ini sih, masak shalat saya foto-foto. Nanti dicontoh adik-adik mereka di SD kan saya yang salah. 

Pada dasarnya mereka siswa yang manis, nggak banyak komentar, protes ini itu. Seminggu ini saya sudah ngajar di kelas VII sampai IX. Kelas VII sebenarnya ada dua orang tapi kemarin satu orang sakit. Jadi saya cuma berduaan aja, saya sih seneng aja. Kaya private kan ya... 😁😁 dan anaknya kebetulan pemalu. Saya sih ngajarin ya kaya biasanya aja, nggak bisa saya ngajar duduk diem aja sambil nyuruh anak-anak baca. Harus ada spidol untuk coret-coret di papan atau ada ppt. Karena disini masih minimalis, cukup spidol aja. Ehh saya nggak tau kenapa malamnya mamanya ni anak datang kerumah, cerita-cerita sampai ngantuk saya. Besoknya saya dapat dah beras. 😊😊😊
Kelas VII

Dikelas IX lain lagi ceritanya. Ketika pertama saya datang ke sekolah, jadwal mereka lagi Ujian Sekolah. Nah Minggu ini mereka belajar seperti biasa. Setelah saya tanya, selama mereka kelas IX cuma pernah masuk kelas Bahasa Inggris satu kali aja. Degggg...sedangkan di sekolah saya yang dulu, saya masuk terus aja mereka masih ngrasa susah luar biasa ngerjakan soal ujian Bahasa Inggris. Iya sihh mereka diberi buku detik-detik Ujian Nasional, tapi ya ini kan anak-anak, susah bagi mereka kalau nggak ada guru yang bisa ditanyain. Jadi selama seminggu semua jadwal saya di kelas IX saya isi dengan Bahasa Inggris. Karena mereka mau Ujian Nasional saya cuma bahas soal-soal aja. Ngasih tips dan trik sebisa saya, mudah-mudahan membantu mereka. Kasian kan anak-anak, bayangin aja anak kita sekolah terus gurunya nggak ada? Ada orang tua siswa yang datang ke rumah cerita kalau anak-anak ada kecewa juga karena gurunya sering nggak ada. 😒😒😒
Kelas IX

Pertama ngajar disini sedih aja ngliat mereka. Saya sedih juga pas nyari2 presensi siswa juga jurnal dikelas nggak ada. Kata guru senior disana sih anak-anak sering nggak masuk, tapi saya belum lihat sih kan saya masih aktif ngajar seminggu aja. Mudah-mudahan kalau gurunya rajin, anak-anak ikut rajin juga. Bismillah, semoga sekolahnya bisa lebih baik kedepannya. Padahal mereka pakai buku LKS dari Intan Pariwara sebagai pendamping buku yang dari pemerintah. Sebelum kesana saya sudah ngecek bukunya dan LKS nya memang sesuai silabus dan lengkap. Sayang aja kalau mereka pada akhirnya jadi malas karena terbiasa. 

Sebenarnya kalau saya perhatikan selama seminggu ini sih, faktor keluarga juga memegang peranan. Orang tua mereka yang rata-rata kerja di perusahaan sawit, pergi pagi pulang sore, mungkin kurang memotivasi atau kurang memperhatikan sekolah anak-anak. Tidak menyalahkan juga, karena pasti capek. Saya lihat anak-anak kalau siang cuma main-main aja. Saya sih sudah bilang ke mereka baik yang SD atau SMP, silahkan datang kerumah kalau mau belajar lagi. Dan sejauh ini masih belum ada yang datang untuk belajar. Anak-anak SD aja yang kerumah untuk belajar mengaji. Dan saya sudah cukup senang mereka mau datang. Mudah-mudahan kedepannya kakak-kakaknya mau juga kerumah untuk belajar. 

Bismillahirrahmanirrahim, semoga gurunya ini betah dan sabar. 😊😊😊

Kalau hidup sehari-harinya enak aja. Tetangga ramah, sayur dan ikan datang tiap hari. Sampai saya bingung sudah saya makan banyak-banyak belum habis juga ikannya. Mudah-mudahan saya bisa langsing karna saya ke sekolah jalan kaki, lumayan sekitar 300 meter, belum lagi kalau saya mau ke warung beli es. 😁😁

Have a good night, good people. Semoga setiap jalan yang kita tempuh memberikan manfaat. 




Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Salam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”   ( Teach...