Friday, June 21, 2019

Women, let's survive!

Hi, selamat malam sabtu.
Weekend. Fix.

Kenapa judulnya women, let's survive? Karena saya nggak merasakan jadi laki-laki.

Kalau di Jawa ada yang pernah dengar "wong wadon kuwi ra adoh-adoh teko masak, macak, manak" atau ada yang masih denger kata "ngapain sekolah tinggi-tinggi toh nantinya di dapur juga." Well harusnya sih sekarang udah nggak musim ya pemikiran itu.  Kenapa saya bilang let's survive! Bertahan hidup bukan masalah saat kita tersesat dihutan saja. Ditengah hiruk pikuk kehidupan kota-pun kita harus survive. Survive yang gimana sih? Gimana caranya?

Karena kita hidup, saat-saat sulit itu pasti ada. PASTI. Entah saat masih remaja, single atau saat sudah menikah, double, triple dan seterusnya. Tapi menurut saya kemampuan seseorang untuk survive tidak bisa hadir begitu saja. Semua butuh proses, ada yang harus dipelajari disana. Dan untuk ini saya berterimakasih sekali pada ibu saya, jika bukan karena didikan beliau mungkin saya sudah nangis minta pulang pas dapat tempat dinas yang disana nggak ada listrik, sulit sinyal, transportasi sulit, dan semua kerjaan rumah harus manual.

Penting bagi kita, wanita untuk bisa mengerjakan segala sesuatu secara manual meskipun penting juga kita bisa memakai alat yang modern. Sama kaya kita harus bisa jadi sederhana tapi nggak malu-maluin pas dibawa ke kondangan.  Sama kaya kita harus bisa kalau miskin tapi nggak katrok kalau kaya. ☺☺☺
Dan peran penting dipegang oleh wanita, ibu. Siapa sih yang nggak sayang anaknya? Tapi sayang bukan berarti menyediakan segala sesuatunya dan tidak mengajarkan apapun. Jika itu yang anda lakukan sebagai ibu, nanti bagaimana kalau anak kita harus seorang diri? Iya kalau seorang diri tapi kaya berduit bisa aja nyuruh orang ini itu, beli ini itu. Kalau seorang diri, nggak bersuit, nggak punya skill, nggak tau apa-apa dan nggak cantik pula. Tamat. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Apa cuma berlaku untuk wanita, gadis, perempuan, awewe, wong wadon, binian aja? Nope. Berlaku juga untuk laki-laki. Nggak peduli dia itu ganteng atau jelek, kaya atau miskin. Skill dasar bertahan hidup harus ada. Kasian kan kalau laki-laki nggak tau apapun soal rumah, kasian istrinya nanti. Iya, surga istri memang ada di suami, istri memang wajib melayani suami tapi istri bukan pembantu juga kan? 😊😊😊

Tapi kalau pengalaman saya sih, survive bukan cuma masalah fisik tapi juga hati. Dari hati itu semua berawal. Kalau hati kita sudah fix, bertahan, no matter what happen, maka tingkah laku akan mengikuti. Jadi yang namanya hati ini, harus kuat. Harus. Kuat patah, kuat jatuh, kuat malu, kuat. Gimana jadinya rumah kalau ibunya nggak punya jiwa survival, dikit2 ambruk, dikit2 kabur, dikit-dikit?
Gimana jadinya anak kalau ibunya nggak kuat? Anak udah SMP udah tau pacaran disuruh nggak mau, ibunya diem aja ngerjains emua sendiri. Gimana jadinya anak kalau ibunya meng-iyakan aja semua yang dikatakan anaknya meskipun it doesn't make sense. Gimana jadinya anak kalau ibunya nggak kuat ngajarin anaknya kapan harus berterimakasih, kapan harus minta maaf dan kapan harus bertanggung jawab. Gimana jadinya anak kalau ibunya cuma ngasih uang, uang dan uang? Tapi apa semua lalu salah ibu? Anaknya gimana?

Suatu saat, entah itu laki-laki atau perempuan akan menikah. Akan menjadi menantu dirumah orang. Dan kebiasaan yang sudah mendarah daging bukanlah hal yang mudah dirubah. Tapi dimanapun kita, kemampuan bertahan itu penting. Biar apa? Biar sehat jiwa raga dong. Supaya bisa survive, kita butuh jadi pintar. Supaya bisa pintar dan berpengetahuan luas kita perlu belajar. Kadang semua peristiwa yang kita alami, itulah jalan untuk kita belajar.

Dan tulisan ini bisa ada, sebagai sarana untuk survive juga. 😁😁😁

Stay strong.

Sunday, May 12, 2019

Untuk Indonesia-ku

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam terakhir akhir pekan. 😊😊😊

Liburan sekolah ini sebenarnya mau santai dirumah tapi dimintain tolong untuk ngajar di kampus lagi sampai dapet dosen pengganti. Well, karena jadwal di kampus ini nggak sepadat merayap seperti jadwal di sekolah jadi saya terima. Kebetulan saya juga kangen sama mahasiswa-mahasiswa kelas saya kemarin, juga kangen suasana di kelas. Sebulan ngajar di SMP sebenarnya ada perbedaan yang cukup signifikan, kali ini supaya otak nggak mampet juga kelamaan libur sekolah.

Setelah kangen-kangenan (dengan mahasiswi ya... entar dikira dengan mahasiswa) tentu saja materi tetap lanjut. Setelah dua pertemuan jiwa kepo saya mulai bangkit dan akhirnya keluarlah tugas untuk mereka dengan judul "apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia". Kenapa begitu? awalnya karena ada mahasiswa yang selalu menggebu-nggebu bicara politik dan pemilu, mengkritik pemerintah endebra endebre bla bla bla. πŸ˜€πŸ˜€ Jadi akhirnya saya pengen tau dong apa kontribusi mereka untuk Indonesia.

Saya bukan tipe yang kalau ngasih tugas cuma ngasih topiknya aja tanpa contoh. Kali ini juga saya contohkan dalam slide Ppt apa kontribusi saya untuk Indonesia. Meskipun sangat kecil saya berharap mereka termotivasi, bukannya saya mau pamer ya. Diantara 2 kelas yang saya kasih tugas yang sama, sekitar 80% pada awalnya bingung. Bingung kenapa? Mereka ngrasa nggak guna beib. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Karena mereka masih termasuk generasi muda tentunya lain dong dengan yang saya contohkan, kan saya sudah generasi tua sudah kerja, jadi guru pula kerjanya. Jadi sederhananya sudah dapat dilihat kontribusinya untuk Indonesia, meakipun begitu saya juga mencontohkan kontribusi saya dalam masyarakat lo tapi nggak perlu saya ungkap disini. Takut dosa, puasa kok ria. 😁😁😁😁

Tulisan kali ini supaya saya ingat aja suatu saat kalau mahasiswa saya pernah mempresentasikan ini. Saya sempat mengabadikan judul slide mereka meskipun nggak semua saya upload disini.
Diantaranya ini nih...

Slide ini punya mahasiswa paling pintar di kelas saya semester ini. Dia sharing ini lancar pakai Bahasa Inggris dan temannya pun paham. Penjelasannya runtut kenapa kok pada akhirnya "joining youth community in my chruch" ini memberikan kontribusi positif. Excellent boy!

Slide kedua ini punya mahasiswa favorit saya. Buka  karena dia ganteng, bukan! Dia mahasiswa paling beriman di kelas. 😊😊 dari slide nya itu akhirnya saya tau, selama ini dia ngajarin anak-anak ngaji di kampungnya. Dia bilang dengan menanamkan nilai-nilai Al-Qur'an di dalam diri anak-anak, nanti mereka akan tumbuh menjadi generasi cerdas nan beriman. Jadi Indonesia tidak akan penuh lagi dengan cabe-cabean yang naik motor kebut2an bonceng 3. Hahahaha..kalimat terakhir saya yang ngomong ya, dia mah terlalu kalem untuk ngomong gitu. Selain itu dia juga gabung dengan salah satu organisasi islam yang kegiatannya banyak yg positif.
Slide ketiga ini punya mahasiswa paling ganteng dan pemalu di kelas. Upss.. enggak ya, bercanda aja. Ganteng itu kan relatif, bagi saya yang paling ganteng ya Lee Seung Gi oppa. Wkwkwkwkwkwkwkkk. Sorry! πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜… Intinya mahasiswa saya yang satu ini bilang sebagai generasi muda dia selalu berusaha menggunakan produk lokal. Saya lihatin dong dia pas presentasi penampakannya gimana mulai dari baju sampai sepatunya. Saya nggak yakin 100% lokal, pas saya tanya dia bilang belum 100% masih sekitar 60-70%. Tapi penjelasan dia masuk akal tentang bagaimana menggunakan produk lokal itu berkontribusi untuk Indonesia. Ada satu lagi mahasiswa yang idenya serupa dengan ini, tapi penilaian saya yang saya upload ini yang lebih runtut penjelasannya.

Slide ke empat ini punya mahasiswa paling jail di kelas. Jadi saya panggil namanya terakhir soalnya kalau dia presentasi duluan, nanti dia usil ganggu temannya presentasi. πŸ˜€
Saya pilih ini karena dia bilang dari SMP sewaktu dia jadi ketua OSIS dia sudah aktif memelopori menanam pohon di sekolahnya. Dan tang dia tanam pun nggak cuma buat hijau-hijauan yang rindang tapi yang bisa berbuah juga. Jarang kan anak-anak peduli banget ama pepohonan. Good job boy! ☺☺☺
Slide yang ini bukan punya mahasiswi tapi punya mahasiswa juga. Meskipun dia cowok, dia kalau belanja selalu bawa tempat sendiri. Sebenernya saya agak ragu, tapi selama ini dia memang baik dan tidak berulah di kelas. Penjelasannya pun alhamdulillah bisa diterima.

Yup, itulah top five untuk kelas saya minggu ini. Kenapa semua slide nya punya mahasiswa? Karena kebetulan isinya mahasiswa semua.
Dari sini sebenarnya tujuan saya selain supaya mereka lebih lancar presentasi ber-Bahasa Inggris, saya ingin mereka juga berpikir sebagai generasi muda apa yang sudah mereka lakukan untuk Indonesia. Sebagai mahasiswa yang katanya agent of change kan harus berpikir kritis. Ketauan banget dari tugas ini, yang klabakan karena nggak tau dia tu berguna apa. Banyak yang mikir mereka nggak berguna. Jadi saya bilang yang sampai detik ini merasa tidak berkontribusi apapun, tolong untuk mulai bergerak dan berkembang. Bagaimana Indonesia bisa lebih maju kalau generasi mudanya cuma kuliah-cafe kuliah-mall kuliah- ngegame, jangan teriak-teriak pemerintah gini gitu kalau menemukan kontribusi buat negara sendiri aja nggak bisa. Termasuk saya, nggak usah banyak protes. Ayo lakukan saja hal-hal bermanfaat yang bisa kita lakukan meskipun kelihatannya sepele.


Happy sunday night. πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™

PS: teruntuk mahasiswa yang baca ini, bukan berarti presentasi yang lain nggak bagus tapi saya pilih top five nya aja. Masih ada besok dan seterusnya. ☺☺☺



Friday, May 3, 2019

Selamat hari pendidikan nasional, mari mendidik bukan menghardik

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat malam.
Harusnya tulisan ini muncul kemarin pas hari pendidikan nasional tapi kemarin ada projek yg lebih urgent untuk diselesaikan. πŸ˜‘

Sudah mulai libur awal puasa, libur yang panjang sepanjang jalan kenangan kita. Ehh...

Dijalan itulah tiap hari saya ke sekolah. Jalanan itu akan kelihatan romantis kalau habis hujan. 😁😁 biasalah efek LDR. Sebenarnya kalau ditinjau dari segi lingkungan, di desa ini suasana cukup kondusif untuk belajar. Nggak bising suara kendaraan bermotor, udaranya seger pula. Tapi kan banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar. Jadi tidak semua berjalan sesuai keinginan.

Ngomongin masalah sekolah itu nggak ada habisnya sampai kapanpun juga. Sebagai diary saya, kali ini saya mau nyimpen soal perpustakaan sekolah. Biar secanggih apapun teknologi dan perkembangannya, menurut saya perpustakaan tetap penting. Membaca buku punya feel yang beda dari membaca PDf di gadget, itu kalau saya. Ya meskipun saya lebih sering baca novel daripada ensiklopedia. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ Perpustakaan di sekolah kami belum punya ruangan sendiri, jadi perpustakaannya ada di dalam ruang kelas IX. Lohh kok? Jangan membayangkan ruangannya jadi penuh sesak, ruangannya masih lapang kok. Kan siswanya cuma 5 dan rak buku perpustakaan kami tidak banyak.



Perpustakaan SMP

Nah itulah perpustakaan kami. Agak berantakan ya? Agak?? Memang tidak teratur sih. Saya belum sempat ngajak anak-anak untuk menyusun buku-buku di perpustakaan. Meskipun kelihatannya begitu tapi sebenarnya setelah saya lihat banyak buku bagus yang bisa dibaca anak-anak. Tapi sayangnya anak-anak sepertinya belum berminat membaca, bukunya sampai berdebu gitu. Bisa dehh dipakai bedakan kalau bedak habis. πŸ˜‚πŸ˜‚ selain buku-buku pelajaran yang dari pemerintah banyak buku referensi yang lain yang cukup bagus. Buku pengetahuan umum series juga banyak. Saya lupa nggak ngambil foto closer look-nya. 

Padahal jika dilihat dari situasi dan kondisi yang ada, membaca buku harusnya menyenangkan disana. Saya aja jadi seneng baca buku sambil duduk di teras belakang rumah menghadap ke sungai. Lebih menyenangkan daripada baca buku di dalam kamar di rumah dinas. Adem. Tapi gemar membaca bukanlah sesuatu yang instan bisa terjadi, butuh pembiasaan. Membaca juga sedikit banyak dipengaruhi oleh minat. Tapi jika tidak dimulai untuk dikenalkan pada kebiasaan membaca kapan lagi anak-anak sadar akan pentingnya literasi. Kan gerakan literasi lagi digalakkan oleh pemerintah juga. 

Kalau melihat dari kebiasaan anak-anak sekarang sih rasanya akan butuh perjuangan panjang supaya mereka mau lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca daripada main. Main disini beneran main, main kelereng. Anak-anak cewek pun, siswa saya di SMP, siang-siang tu main kelereng disamping rumah saya. Kalau di kota mana ada, paling mereka main HP. Atau malah jalan-jalan ke mall, upload video tik tok. Tapi saya punya mimpi, suatu hari anak-anak akan lebih senang membaca. Saya nggak mimpi muluk-muluk kaya di drama-drama gitu yang siswanya disuruh membaca satu buku tiap minggu terus bikin book review. 

Mudah-mudahan niat ini bisa terwujud. Sementara ini sih mereka masih nanya-nanya aja "baca apa bu pian?" Tapi suatu hari semoga mereka juga membaca meski bukan di sekolah. Sementara ini anak-anak masih belum bergerak untuk membaca, saya sih masih cerita-cerita aja. Kadang saya sengaja menceritakan buku yang saya baca meskipun saya tu cuma baca buku judulnya "keistimewaan semut". Itu buku terakhir yang saya baca waktu di desa. 

Kenapa sih mereka nggak membaca? 
Lagi asik di kebun 

Salah satunya karena mereka lebih tertarik pada aktifitas fisik. Itu anak-anak lagi nanam singkong di sela-sela jam pelajaran. Lumayan kalau besar bisa di goreng singkongnya, pucuk daun singkongnya bisa di masak. 😁😁Kalau hari Jumat seneng mereka, olahraga. Pagi biasa kami main voli, ya meskipun saya nggak bisa.

Nah lain halnya dengan perpustakaan SD, karenankami sekolah satu atap, kantor guru juga jadi satu. Perpustakaan SD ada dikantor guru dan sedihnya sepertinya bukunya sudah tidak tersentuh sejak Thanos belum lahir. Debunya lebih tebal daripada di perpustakaan SMP. Sebenarnyabwajar aja sih karena anak-anak SD di desa sepertinya memang nggak akan ke perpustakaan kalau tidak disuruh dan langsung didampingi gurunya. Padahal buku-bukunya bagus, berwarna dan kertasnya bagus. Kan biasanya anak-anak BeTe kalau baca buku yang kusam terua iainya tulisan semua nggak ada gambarnya. Semoga di SD kami segera ada tambahan guru jadi anak-anak bisa lebih terbimbing. 
Perpustakaan SD


Well, apapun yang terjadi mudah-mudahan anak-anak saya di sekolah bisa jadi orang yang bisa membawa manfaat dalam masyarakat. Saya juga semoga nggak khilaf dan ngasih contoh yang tidak baik. Kalau pas di kota kemarin saya sering nggak ngikutin aturan berseragam,disini saya disiplin lah ya supaya anak-anak ikut disiplin juga. 
Bye bye high heels

Termasuk disiplin bersepatu, nggak ada high heels, ankle boot, flas shoes cantik; yang ada pakai sport shoes aja sesuai medan. Bukan cuma pas olahraga, tiap hari. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Selamat hari pendidikan nasional untuk semua pembelajar. πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡





Saturday, April 13, 2019

It has to be good

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hi, universe.

Kenapa judulnya it has to be good? Karena postingan kali ini akan bercerita tentang dunia per-sekolahan saya yang baru. Kebanyakan sekolah yang bagus letaknya di kota, bagus disini bukan hanya gedung dan fasilitasnya saja. Pendidik dan tenaga kependidikannya juga peserta didiknya, semuanya bagus baik input maupun output-nya. Memang tidak semua tapi kebanyakan begitu, kenyataannya. Sekolah tempat saya ngajar sekarang ada di desa. SMP N Satap 3 Hanau. Sekolah ini dibangun atas kerjasama dengan pemerintah Australia pada tahun 2009. SMP ini sudah mempunyai gedung sendiri, tidak menempati gedung yang sama dengan SD.
Kompleks sekolah di desa Paring Raya

Gedung sebelah kanan adalah gedung SMP, terdiri dari 3 ruang kelas, dan toilet 3 pintu. Gedung sebelah kiri adalah gedung SD. Terdiri dari 4 kelas gedung lama dan 3 kelas gedung baru. Ditengah gedung lama dan baru ada toilet 2 pintu. Baik SD maupun SMP sudah punya genset masing-masing. Dan airpun bersih, air sumurnya berlimpah. Guru SMP nya ada 4, dan kami meng-handle semua mata pelajaran yang ada di SMP. Savage. πŸ˜€πŸ˜€

Saya yang pada dasarnya guru Bahasa Inggris dan tidak pernah megang mapel yang lain dulunya, langsung shock pas wakasek kurikulumnya bilang saya mengampu 3 mapel, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Islam, dan Seni Budaya. Oh My Gosh, saya langsung ingat pak Bahris, guru agama di SMK tempat saya mengabdi sebelum ini. Ingat betapa sabarnya beliau ngajarin agama, lahh saya??? Lalu saya berpikir, mungkin ini teguran dari Allah untuk saya yang sekarang kebanyakan surfing dunia maya daripada mengaji. Dan Seni Budaya? Apa pula ini. Honestly I'm not good at this subject. Terus siswanya mau saya ajarin apaan, kalau cuma baca di buku sih mereka juga bisa baca sendiri. Perlahan tapi pasti saya menyesali masa lalu saya di sekolah dulu, andai saya ini rajin dan menguasai banyak seni. 😒😒😒

Berdasarkan jadwal jam sekolah adalah jam 07.00-13.20 WIB tapi percayalah anak-anak sudah gelisah mau pulang setelah jam shalat dhuhur. Jam 11.15 mereka istirahat kedua dilanjutkan shalat dhuhur sampai jam 12.00. Good point nya adalah mereka langsung siap-siap shalat tanpa saya harus teriak-teriak nyuruh shalat. Siswa laki-lakinya cuma 4 dan merekalah yang gantian jadi imam? Kenapa bukan gurunya? Gurunya perempuam semua, kepala sekolahnya laki-laki tetapi kebetulan beragama lain. Tapi setelah pertama saya mendengarkan mereka adzan dan iqhomah saya pikir mereka bagus aja. And I'm happy seeing that. Saya nggak mengabadikan momen shalat ini sih, masak shalat saya foto-foto. Nanti dicontoh adik-adik mereka di SD kan saya yang salah. 

Pada dasarnya mereka siswa yang manis, nggak banyak komentar, protes ini itu. Seminggu ini saya sudah ngajar di kelas VII sampai IX. Kelas VII sebenarnya ada dua orang tapi kemarin satu orang sakit. Jadi saya cuma berduaan aja, saya sih seneng aja. Kaya private kan ya... 😁😁 dan anaknya kebetulan pemalu. Saya sih ngajarin ya kaya biasanya aja, nggak bisa saya ngajar duduk diem aja sambil nyuruh anak-anak baca. Harus ada spidol untuk coret-coret di papan atau ada ppt. Karena disini masih minimalis, cukup spidol aja. Ehh saya nggak tau kenapa malamnya mamanya ni anak datang kerumah, cerita-cerita sampai ngantuk saya. Besoknya saya dapat dah beras. 😊😊😊
Kelas VII

Dikelas IX lain lagi ceritanya. Ketika pertama saya datang ke sekolah, jadwal mereka lagi Ujian Sekolah. Nah Minggu ini mereka belajar seperti biasa. Setelah saya tanya, selama mereka kelas IX cuma pernah masuk kelas Bahasa Inggris satu kali aja. Degggg...sedangkan di sekolah saya yang dulu, saya masuk terus aja mereka masih ngrasa susah luar biasa ngerjakan soal ujian Bahasa Inggris. Iya sihh mereka diberi buku detik-detik Ujian Nasional, tapi ya ini kan anak-anak, susah bagi mereka kalau nggak ada guru yang bisa ditanyain. Jadi selama seminggu semua jadwal saya di kelas IX saya isi dengan Bahasa Inggris. Karena mereka mau Ujian Nasional saya cuma bahas soal-soal aja. Ngasih tips dan trik sebisa saya, mudah-mudahan membantu mereka. Kasian kan anak-anak, bayangin aja anak kita sekolah terus gurunya nggak ada? Ada orang tua siswa yang datang ke rumah cerita kalau anak-anak ada kecewa juga karena gurunya sering nggak ada. 😒😒😒
Kelas IX

Pertama ngajar disini sedih aja ngliat mereka. Saya sedih juga pas nyari2 presensi siswa juga jurnal dikelas nggak ada. Kata guru senior disana sih anak-anak sering nggak masuk, tapi saya belum lihat sih kan saya masih aktif ngajar seminggu aja. Mudah-mudahan kalau gurunya rajin, anak-anak ikut rajin juga. Bismillah, semoga sekolahnya bisa lebih baik kedepannya. Padahal mereka pakai buku LKS dari Intan Pariwara sebagai pendamping buku yang dari pemerintah. Sebelum kesana saya sudah ngecek bukunya dan LKS nya memang sesuai silabus dan lengkap. Sayang aja kalau mereka pada akhirnya jadi malas karena terbiasa. 

Sebenarnya kalau saya perhatikan selama seminggu ini sih, faktor keluarga juga memegang peranan. Orang tua mereka yang rata-rata kerja di perusahaan sawit, pergi pagi pulang sore, mungkin kurang memotivasi atau kurang memperhatikan sekolah anak-anak. Tidak menyalahkan juga, karena pasti capek. Saya lihat anak-anak kalau siang cuma main-main aja. Saya sih sudah bilang ke mereka baik yang SD atau SMP, silahkan datang kerumah kalau mau belajar lagi. Dan sejauh ini masih belum ada yang datang untuk belajar. Anak-anak SD aja yang kerumah untuk belajar mengaji. Dan saya sudah cukup senang mereka mau datang. Mudah-mudahan kedepannya kakak-kakaknya mau juga kerumah untuk belajar. 

Bismillahirrahmanirrahim, semoga gurunya ini betah dan sabar. 😊😊😊

Kalau hidup sehari-harinya enak aja. Tetangga ramah, sayur dan ikan datang tiap hari. Sampai saya bingung sudah saya makan banyak-banyak belum habis juga ikannya. Mudah-mudahan saya bisa langsing karna saya ke sekolah jalan kaki, lumayan sekitar 300 meter, belum lagi kalau saya mau ke warung beli es. 😁😁

Have a good night, good people. Semoga setiap jalan yang kita tempuh memberikan manfaat. 




Friday, April 5, 2019

Fighting a new battle

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam.
Hi, good people.
Sudah beberapa bulan ini nggak nulis di blog. Singkat cerita saya lagi siap-siap pindah. Pindah kerja, kerjaannya sih sama masih jadi guru tapi feel-nya beda. Kenapa beda? Kalau sebelum ini saya ngajarnya di SMK dari pagi sampai siang trs beberapa sore ngajar di kampus, kali ini saya pindah ngajar di SMP. Yup, Sekolah Menengah Pertama. Menariknya sekolahnya bukan sekolah elit di kota, bukan juga sekolah favorit dengan segudang prestasi. Sekolah baru tempat saya mengajar ada di desa di kota sebelah (that's why I need to move out of town). Nama sekolahnya SMPN Satap 3 Hanau, ikut di kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Bagi temen-temen saya yang orang kota yang mungkin nggak tau, SMP Satap itu singkatan dari SMP Satu Atap, kenapa satu atap? gedungnya jadi satu wilayah dengan SD. Biasanya yang namanya Satap ini letaknya masih di desa, kelas dari masing-masing tingkatan pun hanya satu. Kalau di kota satu kelas bisa sampai 30 siswa atau lebih, di Satap ini siswanya lebih sedikit. Di SMP tempat saya ini siswanya ada 18, dan siswa SD nya 48. Ups, dikit ya? Iya. Yakin ngajar disini? Yakin aja.
Pertama sih agak ragu, gimana nanti. Tp kemarin, hari pertama saya ke sekolah saya langsung jatuh cinta aja sama anak-anaknya. Mereka semangat aja belajar. Nanti masalah sekolah ini akan saya tuliskan lebih lanjut di tulisan saya selanjutnya, minggu depan kalau saya sudah pulang kampung ke Sampit. Kenapa? Di tempat yg baru sinyal internet belum ada, bisanya teleponan doang. Tapi syukur alhamdulillah masih bisa teleponan.

Itulah penampakan "dermaga"belakang rumah dinas saya. Ceilehhh dermaga soalnya saya bingung istilahnya apa, kalau orang sini sih bilangnya "batang", ini tempat longboat atau perahu berhenti, tempat dipakai nyuci dll. Nama desanya adalah Desa Paring Raya, Hanau. Untuk ke desa butuh waktu dua jam naik mobil dengan kecepatan standar 80km/jam dari Sampit. Setelah itu saya masih harus menyeberang lagi naik longboat selama kurang lebih 30 menit untuk sampai ke desa dari dermaga di Hanau. Eits jangan dibayangkan itu menyeramkan, perjalanan air ini cukup menyenangkan, sepanjang jalan saya masih bisa melihat monyet gelantungan di pohon-pohon dipinggir sungai. Sesuatu yang saya nggak lihat di kampung saya di Jawa. Nahh di "batang" yang ada di foto itulah saya turun dari longboat. Biayanya cukup murah, dua puluh ribu saja kalau tidak pakai tiket dari dermaga, tiga puluh ribu kalau pake tiket. Lain kali akan saya foto longboatnya, kemarin nggak sempat.

Hari Rabu kemarin adalah kali pertama saya kesana naik longboat, dua bulan lalu saya ke desa saya pilih jalan yg nyeberang sungainya dekat aja, kemarin kebetulan ada guide nya dan udah ketinggalan longboat. Loh kok bisa? Yup, longboat nya dalam sehari hanya satu kali pulang pergi. Pagi sekitar jam 7.30 kalau mau ke desa dan aore sekitar jam 3 kalau mau ke kota. Tapi ada alternatif lain kalau situasi mendesak, kita bisa pakai perahu kecil milik warga desa.

Beberapa kemudahan saya dapatkan, beberapa bantuan datang tanpa saya minta. Alhamdulillahirabbil aalamiin.
Pertama waktu nunggu longboat di dermaga, saya ketemu bapak pengawas SD di desa saya yang kebetulan adalah teman sekolah mama mertua saya. Kepala Sekolah saya juga ada disana. Ketika sudah naik longboat, ternyata yang duduk di belakang saya adalah pak RT dan istrinya dan beliaulah yang membantu mengangkat barang-barang saya ke rumah dinas. Allah masih memberi saya kemudahan, sesampainya dirumah, anak-anak desa yang sekolah SMP datang kerumah dan merekalah yang bersih-bersih rumah. Ada teman guru dan salah satu penduduk desa yang kerja di kantor desa yang nyediain minuman. Bukannya saya pelit, saya baru datang dan belum bongkar-bongkar bawaan, saya juga orang baru nggak tau dimana letak warung buat beli es untuk mereka. Bantuan lain datang menjelang sore, pak sekdes datang melihat PLTS dirumah, apa lampunya bisa nyala. Beliau juga yang ngecek aki dan segala macamnya, karena saya ini apalah, nggak berilmu dalam perlistrikan tenaga surya.
keesokan harinya, ada bapak "pembekal" atau dulunya kepala desa datang kerumah, berterimakasih sudah mau datamg ke desa menjadi guru. Beliau cerita, di desa kasian anak-anak nggak ada gurunya, sering libur karena guru SD nya cuma ada 1. Bayangkan aja, 6 kelas dengan satu guru. Rasa menetes airmata ini di hati, malu sih mau nangis di depan beliau. Sedangkan di kota, guru-guru sampai pusing karena kekurangan jam, banyak gurunya. Nggak cuma itu, anak-anak juga yang pagi-pagi sudah rela masuk dalam tandon dan menyikatnya sampai cling. Tetangga sebelah juga yang ngisikan tandon airnya dari sumur beliau supaya saya tidak susah harus mandi di sungai. Sungguh,saya terharu. Saya bahkan bukan orang yang selalu baik dengan orang, saya sering ngomel2 tapi Allah masih memberikan banyak kemudahan. Fabi ayyi aalaa irabbikumaa tukadzdzibaan..
Nih senja dibelakang rumah, cantik kan? It's beautiful life,watching that sunset with my lovely husband. Apalagi kalau ada backsoundnya lagunya Via Vallen "pikir keri"; hahaha...salah ya. Nggak cocok.

Ini nih mungkin cocok kalau sambil dengerin lagu Koes Plus
"...bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala bisa menghidupimu.."
Itu anak sama mamanya lagi ngambilin ikan. Enak kan?
Ikan melimpah dibelakang rumah, nggak usah beli. Pagi mau ngajar pasang pancing, siang pulang ngajar bisa langsung nggoreng ikan, makan pakai sambal. Mantap.

Mungkin awalnya nggak akan mudah karena jujur saya sendiri sudah biasa hidup di kota, biasa listrik terang benderang, internet lancar, mau makan apa bisa beli. Tapi inilah fase hidup yang baru. Mungkin saya akan lebih bermanfaat ditempat ini,di kota mah sudah banyak yang mau ngajarin,sudah banyak guru-guru pintar. Saya ini apalah cuma rerontokan aja. Tapi melihat binar di mata anak-anak di desa kemarin, saya harus memompa semangat lebih dalam diri saya. Kalau sesuai SK saya sih ngajar Bahasa Inggris SMP, tapi anak-anak SD kemarin dengan antusiasnya nanya "bu, boleh lah ulun (saya) belajar di rumah ibu?"
"Bu, bisalah belajar mengaji diwadah (dirumah) pian?"
Yup, boleh aja. Selama ibu ada dirumah, datang aja. Bawa aja kalau ada buku mengaji dan buku lainnya. Benar kata bapak kepala dinas kemarin, guru kalau di desa dikira serba bisa. Kalau ngajarin ngaji saya masih bisa aja pak, kalau disuruh nyanyi di acara nikahan warga saya nyerah.

Mudah-mudahan Allah menjaga anak saya juga. Bismillahirrahmanirrahim, let's fight a new battle my beter half and my only sunshine. Suami saya pun bilang "abang jatuh cinta dengan desanya"..ehemmmm... boleh nggak saya Ge-eR jatuh cintanya karena ada saya di desa? Hahaha...


Thursday, January 31, 2019

Gurunya baper atau siswanya yang bertingkah

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaiku warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam.

Saya mulai ngajar tahun 2012, pada waktu itu setelah melalui empat tingkatan tes akhirnya saya bisa bergabung di Lembaga Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang. Tiga tahun saya mengabdi disana. Menghadapi berbagai macam tipe mahasiswa. Waktu itu saya masih single (belum menikah bukan belum ada calon πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€). Selisih umur masih dikit aja dengan mahasiswa, the class was fun and I enjoyed my teaching carier back then. Tipe mahasiswa macam-macam dong, yang sweet sampai bikin dosennya kena gejala diabet, ada. Yang cuek nggak ketulungan, ada. Yang pinter dan populer, ada. Yang ndugal, ada. Perlakuan saya ke mereka? Beda. 

Sejak menikah pada akhir tahun 2015, saya pindah ke Kalimantan. Menikmati dirumah sebentar dan mulai ngajar lagi di UNDA tahun 2016. Kondisi kali ini berbeda, kebetulan saya ngajar kelas malam. Tapi mahasiswa dimana-mana tetap sama, macam-macam tipenya. 

Awal tahun 2017 saya mulai ngajar juga di salah satu SMK Negeri di kota ini. Pengalaman pertama. Empat tahun cuma dikelas dengan mahasiswa, dikelas dengan siswa rupanya jauh berbeda. Saya sih sudah memprediksi bahwa jadi guru butuh lebih banyak stok sabar. Tapi benar-benar beyond my expectation karena ternyata SMK lebih seru-seru sedap daripada SMA (dulu saya PPL nya di SMA, jadi tau sedikit lah). Selain sabar, jadi guru menurut saya harus lebih pintar. Kenapa? Kalau ngajar mahasiswa, mereka sudah lebih matang dan bisa menggunakan lebih banyak nalar mereka sehingga dosennya seringkali tidak harus menjelaskan banyak. Tugas. Quiz. Paper. Deadline. Nilai keluar, meskipun nggak lulus ya rektornya nggak protes, kaprodinya ok aja asal memang ada buktinya. Di sekolah, mau ngasih tugas, harus njelasin panjang sepanjang jalan kenangan, udah gitu pas udah dikasih tugas, besoknya on the due date banyak yang lupa. Alasannya macam-macam, banyak tugas lah, mati listrik lah, nggak bisa lah, minggu kemarin nggak masuk lah. Pokok e alasan e sak kresek kalau kata orang jawa. 

Itu sih sebagian kecil sisi akademik nya, dari segi sikap pun beda. Di sekolah jadi wali kelas, wowww...emejing. Daebak!! Hari-hari berlalu dengan panggilan-panggilan. Belum lagi keluar masuk kantor kepala sekolah. Nggadem. Di kantor kepsek aja yang berAC. hahaha. Enggak ya, mendampingi anak buah yang bermasalah. 

Lalu apakah perlakuan saya sama kepada semua siswa? Tidak. Itu jawaban jujur saya. Saya yang kurang ilmu ini cenderung condong pada siswa-siswa baik, atau yang terlihat baik dimata saya. Saya bilang "terlihat" karena setelah beberapa kejadian razia di sekolah dan lain sebagainya beberapa siswa baik itu ternyata sikapnya kurang baik. Kecewa dong saya. Padahal kita memang sudah dilarang berharap pada sesama manusia supaya tidak kecewa karena bagaimana bisa kita kecewa kalau tidak berharap. 

Setelah saya renungkan kembali, saya cenderung bersikap berbeda kepada beberapa siswa tersebut. Dan beberapa hari ini saya berpikir, harusnya seorang guru bersikap sama pada setiap siswa bagaimanapun siswa tersebut telah mengecewakan. Am i wrong? Bukan bersifat subjektif, tapi apalah saya ini...Apakah adil kalau siswa-siswa yang bermasalah itu akhirnya kita kurang perhatikan karena sudah males audah capek sudah bosan dengan kelakuannya? Jadi apakah gurunya yang baperan atau siswanya memang bertingkah diluar nalar? Sedangkan konsep adil sendiri kan nggak harus sama.
Mungkin dengan kasih sayang dan kelapangan hati gurunya, siswa-siswa tersebut bisa kembali baik. Tapi apakah mudah? Let's see. I'm trying my best. 

-curhatan sambil nunggu mahasiswa yang lagi lomba nulis vocabularies-

Monday, January 14, 2019

Siswa Gen Z dan Guru Gen Y dan X di sekolah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore
Semester baru sudah mulai aktif sejak senin kemarin. Harapannya sih semester baru semangat baru. Sebagai guru dan wali kelas saya berharap anak didik saya yang imut dan lucu itu bersikap lebih baik.
Tapi yang namanya harapan kadang jadi kenyataan kadang tidak. Sebagian memang tetap bersikap baik as usual, sebagian yang bersikap "semau gue" as usual juga. Baru beberapa hari masuk sekolah, ngecek daftar hadir siswa, gurunya sudah sakit mata. Itu banyak banget "A", kalau nilai maka banyak C. Dan surprise-nya adalah ketika ditanya "kenapa kemarin nggak masuk nak?" Jawabannya luar biasa "mengelandau bu." (Bangun siang bu.)
Sedih kan? Saya gurunya sedih juga. Masak sekolah sebercanda itu? Setidakbertanggungjawab itukah anak umur 17 tahun-an?

Kalau anda pernah membaca tentang teori generasi, dalam teori generasi (Generation Theory) yang dikemukakan Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin, (2004) generasu dibedakan menjadi 5 berdasarkan tahun kelahirannya, yaitu: 
1. Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964; 
2. Generasi X, lahir 1965-1980; 
3. Generasi Y, lahir 1981-1994, sering disebut generasi millennial;
4. Generasi Z, lahir 1995-2010 (disebut juga iGeneration, GenerasiNet, Generasi Internet); 
5. Generasi Alpha, lahir 2011-2025. 
Masing-masing generasi tentu berbeda tumbuh kembangnya.

Dari teori tersebut, mayoritas anak didik di sekolah saya masuk Gen Z dan guru-gurunya gen X dan Y. Lalu masalahnya apa? 
Berdasarkan teori tersebut disimpulkan bahwa tahun-tahun ketika gen X ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan data nya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari masa ini. Sedangkan gen Y yang dikenal dengan generasi millenial banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Tanggung jawab mereka masih cukup besar untuk hal-hal mendasar dalam hidup. 

Disisi lain, gen Z yang kerennya disebut iGeneration sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Mereka mampu melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan dunia maya dalam satu waktu. Ibarat kata no gadget and internet no life. 

😒😒😒

Banyak siswa disini yang lebih rela beli paket internet daripada beli buku. Masalah? Iya. Kalau internetnya dipakai untuk menunjang belajar sih oke aja. Tapi mereka lebih aktif dengan sosmed dan hal-hal receh lain. Di sekolah tempat saya mengabdi, sering kejadian HP siswa disita guru. Kenapa? Jelas dong alasannya, mereka menggunakan HP itu untuk sesuatu diluar pelajaran di waktu yang salah.  Padahal jika kita mengikuti perkembangan dunia teknologi informasi, gadget bisa digunakan sebagai sarana untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang inovatif sekaligus menyenangkan. Jika siswa menggunakannya untuk tujuan belajar, mereka bisa mendapatkan informasi dari berbagai sumber daripada cuma sekedar mendapatkan apa yang diberikan oleh guru di kelas. Kuncinya apa? Menurut saya sih nggak gaptek dan mau membaca. 

Sebagai siswa apalagi sudah jenjang sekolah menengah atas atau kejuruan, harusnya taunya nggak cuma main sosmed dong. Jangan sampai sosmed nya aktif tp sama sekali nggak tau domain-domain sumber belajar online. Belajar bahasa Inggris misalnya, gurunya kan bukan native speaker ya jadi untuk lebih mendalami Bahasa Inggris dari native speaker para siswa bisa lihat-lihat di engvid.com, british council, american english, dll. Kalau tidak paham kan bisa munculkan subtitle-nya. Tapi itu tidak akan mudah kalau tidak ada motivasi dari siswa itu sendiri. Hal lain adalah, jika belajar Bahasa Inggris mau tidak mau mereka butuh kamus. Sebenarnya sekarang bisa akses kamua online atau instal kamus offline di HP nya tapi banyak yang memilih nggak memilih dua-duanya (kan HP siswa ini bagus-bagus yaa...tapi kenyataannya kalau disuruh beli buki atau fotocopy bilangnya nggak punya uang...sedih kah?). Banyak siswa yang memilih tidak bawa kamus cetak dan kamus di HP nggak ada juga. Greget kan ngajar Bahasa Inggris disini? 

Pengaruh lainnya adalah, siswa iGeneration ini sering acuh. Bukan cuma acuh pada tugas dan kuwajibannya tapi juga pada lingkungannya. Mereka rela main online game sampai tengah malah bahkan sampai nggak tidur. Demi apa? Demi "range". Rela tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah. Demi apa? Demi samadengan temennya yang main game. Supaya apa? Supaya dibilang keren juga. 

Lalu apakah semua peserta didiknya begitu? Tidak. Yang tidak ini jadi penghiburan bagi para guru disini. Paling tidak diantara 36 siswa dikelas adalah dua sampai lima orang yang bisa dibilang good student. Gurunya yang sekolah lebih dulu dengan kurikulum yang berbeda, masih selalu berharap bahwa apapun kurikulum yang diterapkan, sikap dan karakter siswa adalah hal yang utama. 

Bagaimana jika tidak? Kadang, bapak/ibu guru sesekali ngomel di kelas boleh dong. Kenapa? Karena gurunya peduli. 

Teknologi informasi boleh maju, tapi sikap dan karater kita harus tetap pada hakikatnya. Manusia. Beda generasi wajar, tapi apapun generasinya, sikap yang baik tidak boleh hilang dari kita, manusia.


- Dari ibu guru Bahasa Inggris yang hari ini ijin tidak masuk sekolah karena suatu urusan -




Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Salam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”   ( Teach...