Saturday, November 12, 2022

Demonstrasi kontekstual modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

Bismillah. Assalamu’alaikum wr.wb.

Salam guru penggerak.

Jika saya membayangkan diri saya sudah lulus dari program Pendidikan Guru Penggerak selama tiga tahun maka ada beberapa hal yang ada dalam benak saya terkait peran-peran saya yang mewujudkan nilai-nilai guru penggerak.

Nilai pertama yang harus dimiliki guru penggerak yaitu berpihak pada murid.

Murid sedang berkolaborasi membuat teks prosedur dalam bentuk poster


Dalam tiga tahun setelah lulus pendidikan guru penggerak gambaran peran saya adalah:

 a. Menyesuaikan pembelajaran dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara saya akan tetap dan terus mengembangkan pembelajaran berdasarkan kodrat alam dan kodrat zaman murid. Untuk itu saya terus belajar tentang teknologi yang dapat digunakan dalam pembelajaran, mengikuti perkembangan dunia pendidikan, terbuka pada perubahan baik dari dalam dan luar negeri akan tetapi tetap memperhatikan nilai-nilai sosial budaya lokal. Karena murid saya sekarang adalah gen Z yang memanglekat pada teknologi informasi maka saya harus juga mempelajari apa yang mereka senangi sehingga dapat saya manfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk menumbuhkan semangat dan motivasi belajar mereka. Dalam tiga tahun kedepan, saya melakukan pembelajaran inovatif yang berpihak pada murid.

 b.Menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada murid

Lingkungan belajar yang berpihak pada murid tentunya akan membuat mereka nyaman dalam belajar, selama ini posisi duduk murid dan guru biasanya monoton yaitu posisi meja guru di depan kemudian meja murid berbaris berbanjar. Kedepannya posisi duduk murid itu bisa di atur sesuai dengan kesepakatan dan keinginan murid, jadi saya atau guru lain dapat mengikuti keinginan posisi nyaman murid untuk belajar pada saat itu. Posisi-posisi tersebut tidak tetap dan dapat berubah sesuaid engan suasana belajar yang diinginkan. Selain dalam hal teknis seperti tempat duduk maka perlu diperhatikan juga interaksi dan komunikasi antara murid dan guru. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada murid saya akan memperbanyak interaksi dengan murid. Saya dapat membangun interaksi dua arah yang positif antara saya dan murid sehingga mereka merasa nyaman dengan saya. Murid-murid saya kebanyakan adalah anak-anak yang ditinggal kerja di kebun sawit atau di ladang dari pagi hingga sore oleh orang tua mereka, dan tidak cukup mendapat perhatian dan pendampingan dalam keseharian ataupun belajar mereka. Jika mereka merasa nyaman dengan saya, harapannya mereka punya tempat bersandar dalam menghadapi berbagai macam gejolak emosi dalam dirinya maupun permasalahan denga orang lain.

Murid duduk membentuk setengah lingkaran


c. Memahami latar belakang murid.

Beberapa cara akan dilakukan untuk dapat memahami latar belakang murid ini misalnya dengan observasi, memberikan angkat yang diisi oleh murid dan juga orang tua/wali murid. Selain itu bisa juga dengan wawancara terbuka dengan murid dan orang tua/ wali murid. Selain itu juga terus mengobservasi karakter murid di kelas, di sekolah, maupun ketika dalam lingkungan msyarakat.

4.      d. Memberi dukungan penuh pada semua murid.

Semua murid mempunya nilainya masing-masing sehingga tugas saya sebagai guru adalah memberi tuntunan pada mereka agar dapat hidup selamat dan bahagia. Saya akan menggali minat dan bakat murid dan menuntun mereka untuk mengembangkannya. Saya akan memberikan dukungan, apresiasi, dan semangat pada setiap kondisi mereka baik saat mereka sukses maupun saat mereka gagal.

5.      e. Mempunyai perasaan dan perhatian yang adil pada semua murid.

Saya akan tidak membeda-bedakan murid saya apapun dan bagaimanapun perilaku mereka. Jujur saja untuk saat ini terkadang masih ada perasaan condong pada murid yang berperilaku baik, dan masih ada perasaan kesal pada murid yang sering berbuat kurang baik. Dalam tiga tahun kedepan saya akan memberi perhatian yang adil pada mereka. Memperhatikan latar belakang dan kebutuhan mereka saya akan memberikan perasaan dan perhatian sesuai dengan kebutuhan mereka.  

Hal-hal tersebut di atas sesuai dengan peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid atau student agency. Dengan mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid maka murid dapat belajar dengan bebas dan bahagia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidupnya sebagai manusia merdeka. Dengan memberikan kebebasan dan tuntunan pada murid maka saya menjalankan peran untuk mewujudkan kepemimpinan murid itu sendiri.

Nilai yang kedua adalah nilai mandiri. 

Sebagai seorang guru saya akan terus belajar, sebagai seorang manusia saya akan belajar sepanjang hayat karena guru yang baik harus terus belajar. Karena zaman terus berkembang maka untuk dapat mengikuti perkembangan tersebut saya juga harus terus berkembang. Seperti yang sudah saya lakukan sampai saat ini saya bisa belajar dari manapun, tidak harus menunggu ada pelatihan dari dinas ataupun dari pihak lain. Saya akan terus belajar dari berbagai hal yang terjadi, mencari nilai-nilai positif dan memanfaatkannya untuk mewujudkan perubahan. Tidak hanya bertanya pada google, saya juga bisa memperlajari hal-hal baru dari media sosial. Dari media sosial anak-anak murid juga saya bisa mendalami karakter mereka yang dapat saya gunakan untuk menentukan pendekatan yang tepat pada kegiatan pembelajaran maupun kegiatan lain di sekolah. Saya akan terus mengembangkan diri untuk dapat menuntun perubahan yang positif bagi anak didik saya. Hal tersebut  sesuai dengan peran guru penggerak sebagai student agency.

Nilai yang ketiga adalah nilai reflektif. 

Sebagai seorang guru saya dituntut untuk dapat terus belajar, salah satu kegiatan belajar yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan refleksi dari pengalaman. Saya akan merefleksikan setiap kegiatan yang dilakukan di sekolah baik kegiatan praktik pembelajaran maupun program sekolah kami yang lain seperti program literasi, Kamis Beriman, Shalat berjamaah, apel pagi maupun kegiatan pramuka. Dan dari setiap kegiatan refleksi tersebut akan saya tindak lanjuti untuk perubahan pendidikan yang lebih baik di sekolah. Dalam kegiatan praktik pembelajaran saya akan rutin melakukan refleksi pembelajaran dengan murid maupun meminta umpan balik dari rekan guru. Program-program sekolah juga akan saya refleksikan bersama dengan rekan guru dan kepala sekolah untuk dapat ditindak lanjuti. Dengan menguatkan nilai reflekstif ini saya juga menjalankan peran saya dalam mendorong kolaborasi.

Nilai yang keempat adalah nilai kolaboratif. 

Sebagai seorang guru penggerak saya menyadari bahwa tidak ada perubahan yang dapat dilakukan sendiri, untuk dapat membawa yang lebih baik dengan jangkauan yang lebih luas maka saya akan terus mendorong rekan guru untuk terus berkembang dan memajukan sekolah. Untuk mendorong kolaborasi tentu saja saya harus memulai dari diri sendiri sehingga rekan guru terdorong untuk mengembangkan dirinya juga untuk melakukan perubahan. Misalnya setelah saya menguikuti kegiatan Training of Trainer Read Aloud saya membagikan ilmu yang saya dapat dengan rekan-rekan disekolah dan bersama-sama mengembangkan kegiatan literasi di sekolah kami. Dengan melakukan hal sepertiitu maka saya juga menjalankan peran saya sebagai coach bagi guru lain. Selain itu kegiatan kolaborasi yang akan saya lakukan dalam tiga tahun kedepan adalah:

a.      a. Merencanakan dan melaksanakan program sekolah. Program yang sudah ada akan dipertahankan seperti program literasi di hari Senin-Rabu pagi, Program Kamis beriman di hari Kamis, Program Jumat sehat di hari Jumat, Program Shalat dhuhur berjamaah setiap hari, dan Kegiatan Pramuka di hari Sabtu. Selain itu di tiga tahun mendatang saya beharap program baru dapat dilaksanakan misalnya ekstrakurikuler berkebun (yang bisa diisi dengan menanam obat keluarga atau pengembangan hidroponik), program English day pada hari Jumat dan Hari Berbahasa Indonesia karena selama ini anak didik di sekolah terbiasa untuk memakai Bahasa Daerah bahkan ketika kegiatan pembelajaran berlangsung. Dengan program English day diharapkan mereka akan dapat menerapkan apa yang dipelajari di kelas Bahasa Inggris, sedangkan Hari berbahasa Indonesia dilaksanakan agar mereka dapat lebih cakap Berbahasa Indonesia. Jadi dengan menerapkan nilai guru penggerak kolaboratif ini juga saya menjalankan peran mendorong kolaborasi baik antara saya dengan murid maupun saya dengan rekan guru ataupun dengan kepala sekolah.

Anak-anak sedang beristirahat
Kegiatan apel pagi

Kegiatan senam pagi

Kegiatan shalat berjamaah

Kegiatan write around untuk literasi


b.           b. Berkolaborasi dengan orang tua murid. Disini orang tua murid dapat berperan sebagai sumber belajar sebagai praktisi seperti pada program pemerintah praktisi mengajar. Akan tetapi programnya lebih sederhana di sesuaikan dengan profesi orang tua/wali murid yang ada. Misalnya orang tua/wali murid di sekolah kebanyakan bertani, berkebun, ataupun bekerja di kebun sawit, memproduksi gula aren, ikan asin, atau kerupuk. Jadi sekali waktu orang tua dapat dilibatkan secara nyata dalam proyek bersama membuat kerupuk. Jadi dengan menerapkan nilai guru penggerak kolaboratif ini juga saya menjalankan peran mendorong kolaborasi antara  saya dengan orang tua/wali murid.

c.             c. Berkolaborasi dengan rekan guru dalam MGMP. Dalam tiga tahun ada kolaborasi dengan rekan-rekan sejawat di komunitas MGMP Comprehension tidak hanya sebatas pembuatan soal ujian akan tetapi hal lain. Yang bisa dilakukan seperti bersama-sama membuat modul pembelajaran yang dapat dipakai di wilayah kabupaten Seruyan. Dengan membuat modul ini diharapkan dapat menguatkan potensi-potensi yanga da pada anggota MGMP. Selain itu juga saya membayangkan ada kegiatan lomba yang dilakukan oleh MGMP Comprehension misalnya lomba building vocabularies, spelling Bee, storytelling, speech contest, singing contest, Make Poster, Write short story dan lain-lain. Jadi dengan menerapkan nilai guru penggerak kolaboratif ini juga saya menjalankan peran menggerakkan komunitas praktisi.

Intinya dalam kegiatan kolaborasi saya akan menguatkan kerja tim di sekolah dan  meningkatkan kolaborasi dengan orang tua murid sehingga dapat terjadi perubahan yang lebih baik di sekolah.

Sebagai guru penggerak nilai kelima yang harus saya miliki adalah nilai inovatif. 

Untuk dapat menghadirkan gagasan yang segar dan tepat guna maka saya selalu terbuka pada perkembangan zaman dan teknologi. Misalnya dalam kegiatan pembelajaran, media sosial yang biasa digunakan anak-anak dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Supaya anak-anak lebih tertarik pada kegiatan pembelajaran maupun tugasnya, guru bisa memberikan contoh tugas lewat tik tok, misalnya untuk prosedur teks pada mata pelajaran Bahasa, saya memberikan contoh nyata video guru membuat sesuatu dan mengunggahnya di tiktok, murid-murid bisa mengakses video tersebut supaya emndapatkan gambaraan yang nyata. Selain itu murid akan elbihs enang jika gurunya juga melakukan kegiatan sendiri sebagai contoh bagi mereka daripada hanya menugaskan murid untuk emlakukan sesuatu. Selain itu untuk skill writing guru juga bisa memanfaatkan blog atau canva untuk membuat pembelajaran lebih menarik. Untuk materi poster, greeting card, product label,atau invitation letter dapat memanfaatkan canva. Untuk membuat anak-anak bersemangat belajar Bahasa Inggris, saya juga membuat lomba sederhana misalnya lomba building vocabularies atau spelling bee. Jadi lomba ini saya adakah di akhir semester, selain supaya mereka dapat bersenang-senang di akhir semester, lomba ini juga bsa saya gunakan untuk mengetahui perkembangan kosakata mereka di awal dan akhir semester. Dalam lomba building vocabularies ini anak-anak diberikans elembar kertas jawaban dan mereka harus menuliskan sebanyak mungkin kosakata Bahasa Inggris tanpa menuliskan artinya dalam kurun waktu tertentu, untuk tingkat SMP biasanya saya memakai waktu 30 menit, untuk tingkat SMA bisa diperpanjang waktunya. Sedangkan untuk spelling bee bisa dilakukan berpasangan atau ebrkelompok 3 orang jika muridnya banyak. Jadi pada lomba ini anak-anak harus menyebutkan spelling dari kosakata yang diucapkan oleh pembawa acara lomba. Dengan menguatkan nilai inovatif ini maka saya juga menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran dan student agency.


Jadi sebagai guru saya akan memaksimalkan potensi yang ada di sekolah maupun di lingkungan sekitar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi murid. Tiga tahun kedepan saya akan tetap menyesuaikan dan memanfaatkan media dan teknologi yang dekat dengan anak supaya mereka dapat belajar dengan bebas dan bahagia. Dengan menerapkan nilai inovatif ini juga saya melaksanakan peran sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Semangat untuk terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan.

 

Monday, November 7, 2022

Refleksi Modul 1.1 Pendidikan Guru Penggerak

Assalamu’alaikum, wr.wb. 
Salam guru penggerak! 

Setelah dua minggu mengikuti pendidikan guru penggerak, banyak hal yang saya pelajari baik dari modul, dari rekan-rekan calon guru penggerak, facilitator, maupun instruktur. Dalam refleksi modul 1.1 ini saya akan menuliskan refleksi dengan menggunakan model 4F yaitu Facts, Feelings, Findings, Future. 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal): 
Kegiatan praktik pembelajaran


1. Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut? Minggu ini adalah minggu pertama saya masuk sekolah setelah saya mengikuti PPG mulai bulan Juli hingga 16 Oktober 2022. Selama PPG saya mendapatkan izin untuk melaksanakan kegiatan PPG di kota dan ke sekolah saat kegiatan PPL, dan tugas mengajar saya di sekolah sementara id gantikan oleh guru yang lain. Hal tersebut karena sinyal internet di sekolah kami tidak memadai sedangkan kegiatan PPG ada kegiatan sinkronus setiap hari. Setelah PPG harusnya saya bertugas kembali di sekolah, akan tetapi ada bencana banjir. Sekolah kami terdampak banjir dan tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran selama hampir tiga minggu. Jujur saja saya dan anak-anak harus kembali saling menyesuaikan setelah 4 bulan kami tidak bertemu dalam kelas, kami hanya bertemu dalam kegiatan PPL di akhir September dan awal Oktober. Senin tanggal 7 November ini adalah minggu kedua perjumpaan kami dan saat saya melakukan aksi nyata modul 1.1. Jadwal saya adalah mengajar di kelas 7 dan kelas 9, dan saya melakukan aksi nyata ini di kelas 9. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih kelas 9, yang pertama ketika kegiatan PPL saya juga melakukan praktik pembelajaran di kelas 9 sehingga saya juga ingin tahu apakah mereka masih mengingat apa yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Kedua, karena jumlah siswa kelas 9 lebih banyak yaitu 7 siswa (kelas 7 di sekolah kami hanya ada 2 siswa) sehingga kegiatan kolaborasi kelompok lebih memungkinkan di lakukan. Ketika pelaksanaan PPL menggunakan model pembelajaran inovatif mereka terlihat lebih semangat belajar, sehingga saya berharap dalam pelaksanaan aksi nyata ini mereka lebih senang belajar. Materi pembelajaran minggu ini terkait dengan kegiatan yang sedang berlangsung baik di masa sekarang, masa lampau, atau masa yang akan datang, akan tetapi untuk aksi nyata kali ini saya hanya mengambil satu topik yaitu kegiatan yang sedang berlangsung saat ini di kelas, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar (continuous activities in the present). Hal baik yang saya alami dalam proses tersebut adalah kegiatan praktik pembelajaran dapat terlaksana meskipun tidak semua siswa masuk kelas pada hari 7 November 2022. Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung, anak-anak mulai antusias ketika masuk dalam game atau permainan. Anak-anak yang awalnya kurang ceria akhirnya terlihat senang ketika kegiatan game baik ketika game tebak aktivitas dengan kartu ataupun ketika tebak kegiatan dari video. Anak-anak merasa senang dan terlihat tertantang untuk memenangkan game-nya. Apalagi ketika mereka mengetahui jika yang menang dalam permainan akan mendapatkan hadiah. Anak-anak tetaplah anak-anak, mereka senang bermain dan mendapat hadiah. Kesulitan yang saya hadapi adalah mindset anak-anak yang menganggap bahwa Bahasa Inggris itu sulit. Oleh karena itu saya merancang pembelajaran inovatif menggunakan model Problem Based Learning (PBL), kemudian melakukan ice breaking supaya mereka semangat, dan kegiatan pembelajaran dengan game atau permainan. Dalam praktik pembelajaran ini anak-anak bebas memilih apa yang akan mereka buat terkait dengan materi continuous activities in the present. Saya memang memberikan pilihan seperti mereka bisa membuat story board atau poster sederhana dengan kertas sampul, membuat dialog tertulis, membuat komik ataupun membuat video terkait dengan kegiatan yang sedang berlangsung di kelas, sekolah, maupun lingkungan sekitar. Tugas ini akan mereka kerjakan dirumah dan akan secara bersama-sama dilihat pada pertemuan selanjutnya. Permasalahan kedua dalam pembelajaran minggu ini adalah dari 7 siswa kelas IX, ada dua siswa yang tidak masuk tanpa keterangan yang jelas. Setelah saya telusuri dari teman-temannya mereka kelelahan dan mengantuk karena pada malam sebelumnya yaitu malam Senin ada acara pernikahan sampe tengah malam. Biasanya jika terjadi hal seperti ini maka saya akan menasihati anak yang bersangkutan. Sebagai guru saya berusaha mendekatkan diri pada anak-anak agar mereka dapat mengutarakan apa yang menjadi permasalahan atau kesulitan mereka. Masalah dua anak yang tidak masuk itu sebenarnya sudah dapat saya prediksi, yang membuat saya hampir hilang kesabaran adalah ketika ada dua anak yang terlambat masuk. Saya sempat termenung dan bingung harus bagaimana menghadapi mereka. Saya merasa tidak sesuai jika saya memulai pelajaran dengan tiga siswa yang tersisa sedangkan kami akan belajar dengan bermain dalam kelompok. Bagaimana caranya saya membentuk kelompok jika siswanya hanya tiga? Akhirnya saya menunggu dua anak yang belum masuk kelas tersebut sambal bercerita dengan tiga siswa yang ada. Sebenarnya memang sulit mencegah anak-anak untuk terlambat masuk ketika waktu istirahat hanya lima belas menit dan tidak ada kantin di sekolah sehingga mereka harus berjalan ke warung di tengah desa untuk membeli minuman. Sebagai guru saya sudah menyarankan agar mereka membawa minuman sendiri dari rumah akan tetapi hal tersebut belum berhasil untuk mencegah mereka membeli es di warung. 

2. Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut. Awalnya jujur saja saya kecewa, pelajaran Bahasa Inggris dijadwalkan setelah jam istirahat pertama dan sebelum mereka istirahat saya sudah berpesan agar jangan terlambat masuk akan tetapi tetap saja ada dua anak yang terlambat. Akan tetapi pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung perasaan kecewa itu berangsur-angsur menghilang berganti dengan rasa senang. Senang karena meski terlambat dimulai mereka tetap memperhatikan apa yang sedang dipelajari. Meski awalnya sedikit tegang, mereka akhirnya lebih menikmati kegiatan pembelajaran ketika masuk pada kegiatan game yang pertama guessing game atau kegiatan game yang kedua menebak kegiatan dari video dengan memilih pilihan jawaban yang tepat.
Game babak pertama: Siswa mempraktikkan aktifitas yang ada di kartu dan teman sekelompoknya
menebak aktifitas tersebut dalam kalimat lengkat present continuous tense


Game babak kedua: Siswa menebak aktifitas yang ada di video dalam 


3. Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini? Setelah kejadian hari ini saya merasa bahwa sebagai guru saya harus lebih banyak bersabar dan tidak mudah kecewa. Jika saya sudah pada tahap ingin marah atau kecewa, saya harus mengingat kembali hakikat pendidikan berdasarkan pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara. Tugas saya adalah menuntun, jadi bagaimana saya bisa menuntun anak didik saja jika saya belum selesai dengan emosi saya sendiri? Setelah kelas hari ini saya menemukan bahwa saya bisa lebih bersabar, dan keadaan akan baik-baik saja. Jika tadi saya marah karena dua anak yang terlambat lebih dari lima belas menit tadi mungkin keadaan tidak akan lebih baik, dan mungkin saja saya menyakiti perasaan mereka. Saya memberikan apresiasi pada diri saya karena dapat menahan diri dan menasihati mereka setelah kelas selesai. 


4. Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa. Kedepannya saya harus bisa mengantisipasi kejadian serupa dan mencari berbagai alternatif solusi. Anak-anak terlambat lebih dari lima belas menit dapat merugikan teman-teman sekelasnya sehingga saya harus mencari solusi agar anak-anak dapat lebih disiplin. Menebalkan karakter baik anak adalah salah satu tugas guru, oleh karenanya saya berharap bisa belajar lebih banyak dari guru-guru rekan calon guru penggerak, facilitator, dan juga instruktur agar kelas saya berjalan lebih baik dan anak didik saya tumbuh menjadi anak yang berkarakter baik.

Mari wujudkan merdeka belajar!

Friday, November 4, 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.1 PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

Salam guru penggerak!
Assalamu'alaikum wr.wb.

Apa kabar bapak ibu/guru hebat? Kali ini saya akan menuliskan tentang koneksi antar materi pada modul 1.1 pendidikan guru penggerak. Ada tiga pertanyaan yang harus terjawab dalam pemaparan koneksi antar materi ini yaitu:
  1. Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda  mempelajari modul 1.1?
  2. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?
  3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?
Sebagai guru kita tidak bisa berhenti belajar. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa saya ikut seleksi guru penggerak. Setelah mengikuti serangkaian kegiatan seleksi akhirnya luluslah saya menjadi calon guru penggerak angkatan 7. Sebelum mengikuti pendidikan guru penggerak ada beberapa hal yang masih saya percayai meskipun saya sudah emngikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dalam kegiatan PPG memang diajarkan bagaimana untuk membuat perangkat pembelajaran yang baik, apa saja model pembelajaran inovatif. Kegiatan tersebut juga diawali dengan identifikasi masalah, ekplorasi penyebab masalah, penentuan masalah utama hingga akhirnya membuat solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut dalam bentuk perangkat pembelajaran yang diterapkan dalam kegiatan PPL. Untuk kegiatan pembelajaran inovatif dan bagaimana menyusunnya saya sudah mempunyai pemahaman, akan tetapi masih ada beberapa hal yang saya percayai bahkan sebelum saya mempelajari modul 1.1 yaitu:
  1. modul, strategi, dan metode pembelajaran yang dipilih guru adalah untuk mengantarkan murid agar tuntas memenuhi KKM;
  2. guru dapat memilih untuk menentukan media belajar yang akan digunakan murid dalam kegiatan belajarnya.
  3. murid harus tuntas dalam semua mata pelajaran. 
Kegiatan belajar building vocabularies

Kegiatan belajar menggunakan media video 

2.             Jadi anak-anak belum mendapatkan kebebasannya dalam belajar. Setelah mempelajari modul 1.1 pada kegiatan guru penggerak, pemikiran saya terkait kegiatan pembelajaran dan murid tersebut telah berubah. Yang pertama, pendidik harus dapat menerapkan trilogi pendidikan Ing Ngarso Sung Tolodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Dalam perannya sebagai guru maka seorang guru di depan harus dapat memberikan contoh atau teladan bagi muridnya. Seorang guru tidak dapat hanya mengatakan bahwa murid dapat emlakukan A atau B untuk dapat mencapai tujuannya tapi guru harus memberikan contoh. Misalnya seorang guru mengatakan bahwa murid harus datang ke sekolah tepat waktu, maka guru harus terlebih dahulu mencontohkan dengan datang lebih awal dari muridnya. Kemudian di tengah guru harus dapat memberikan semangat pada murid-muridnya. Dalam setiap kesempatan hendaknya guru dapat membangkitkan semangat agar anak muridnya dapat mempunyai keinginan kuat dan tenaga untuk mencapai tujuan hidupnya. Di belakang guru harus memberikan dorongan pada muridnya agar senantiasa dapat mengembangkan diri untuk mencapai kebahagiaan hidupnya. 

Kegiatan pembelajaran menggunakan model PJBL


            Yang kedua, seorang guru harus menghamba pada murid. Jadi apapun yang dilakukan seorang guru dalam kegiatan pendidikannya haruslah berorientasi pada murid. Praktik pembelajaran yang dilakukan haruslah memikirkan kebutuhan dan keinginan murid bukan keinginan guru. Guru bukan lagi pusat dalam kegiatan tapi murid lah yang menjadi tujuan dalam pendidikan. Murid mempunyai kodratnya masing-masing sehingga guru tidak dapat memaksakan kehendaknya pada murid.

Presentasi hasil karya label sederhana

             Yang ketiga pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman jadi dalam mendidik anak tidak dapat dipisahkan dari dunianya. Pendidikan di suatu daerah mungkin berbeda dengan pendidikan di daerah yang lain. Dalam pendidikan, guru tidak dapat memisahkan anak dari dunianya. Misalnya untuk murid di pedesaan daerah 3T seperti sekolah saya, dalam kegiatan pembelajaran procedure text maka akan lebih mengena pada anak murid jika yang dicontohkan adalah "how to make Juhu Rimbang" (Juhu Rimbang adalah makanan khas daerah Kalimantan), atau "how to operate Kelotok" daripada mencontohkan "how to make honey garlic Salmon" atau "how to operate microwave" karena mereka di tempat kami mereka tidak akan menemukan ikan Salmon atau Microwave. Akan tetapi mereka juga dapat dicontohkan hal-hal yang diluar kearifan lokal daerahnya untuk memberikan wawasan global. Jadai guru dapat menggunakan media seperti video untuk membuat kegiatan pembeljaran lebih menarik.

     Yang keempat anak harus dapat kemerdekaannya dalam belajar sehingga mereka dapat belajar dengan bahagia. Berdasarkan pemikiran KHD, anak merdeka untuk belajar, anak dapat bebas memilih untuk belajar dengan cara mereka sendiri untuk mencapai tujuannya. Guru tidak lagi dapat menentukan murid harus belajar dengan cara A atau B, tugas guru hanyalah menuntun murid untuk dapat mengembangkan minat dan bakatnya sehingga dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan dalam hidupnya. Dalam kemerdekaannya belajar, murid haruslah tetap emndaparkan tuntunan dari guru hingga seorang murid dapat menjadi manusia yang merdeka nantinya. 


          Yang kelima dalam pendidikan haruslah terjadi perubahan perilaku. Berdasarkan teori Convergentie disebutkan bahwa watak ada dua, yang dapat diubah yaitu yang berhubungan dengan kecerdasan dan yang tidak dapat diubah yaitu yang berhubungan dengan dasar hidup manusia. Watak yang tidakd dapat dibubah tersebut misalnya adalah rasa takut, malu, kecewa, iri, egois, dll karena rasa ini tidak akan hilang, hanya dapat tertutup dan masih dapat muncul secara tiba-tiba. Oleh karena itu tugas guru adalah memberikan pendidikan yang baik sehingga murid dapat menguasai diri secara tetap dan kuat yang nantinya akan dapat melenyapkan tabiat-tabiat yang tidak baik.  

        Setelah memahami bagaimana pendidikan berdasarkan pemikiran KHD maka haruslah ada yang berubah dari praktik pembelajaran yang diterapkan di kelas maupun di sekolah.  Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas anda mencerminkan pemikiran KHD?

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu:  

  •    Merancang pembelajaran yang berpusat pada murid menggunakan strategi, model, metode pembelajaran yang inovatif. Dalam merancang kegiatan pembelajaran, guru dapat menyesuaikan model dan strategi pembelajaran dengan karakteristik materi dan karakteristik murid sehingga praktik pembelajaran menyenangkan.
  •    Membuat kesepakatan kelas. Dengan membuat kesepakatan kelas maka murid dapat bebas mengutarakan pendapatnya tentang bagaimana mereka ingin kegiatan belajar berlangsung
  •       Melakukan ice breaking. Agar murid tidak bosan maka guru dapat emlakukan ice breaking tidak hanya di awal kegiatan pembelajaran tetapi menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di kelas.
  •      Membuat Yel-yel yang menumbuhkan semangat belajar murid. Guru dapat mengajak murid untuk emmbuat yel-yel kelasnya sehingga setiap kelas mempunyai ciri khasnya masing-masing.
  •    Menguatkan karakter baik pada anak dengan merefleksikan kembali program sekolah seperti kegiatan literasi pada Senin-Rabu, Kamis beriman, Shalat berjama’ah dan Jumat Sehat, Salam dan salim. Setelah dilakukan refleksi maka dapat di analisis apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus di perbaiki dan di tindak lanjuti.
Dalam pendidikan berdasarkan pemikiran KHD, pendidikan harus berpihak pada murid. Dan guru harus dapat menjalankan trilogi pendidikan
 Ing Ngarso Sung Tolodho, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Mari wujudkan merdeka belajar. 

 

Thursday, September 1, 2022

Potret Visi Misi Pendidikan Pada Karnaval Pembangunan di Kotawaringin Timur Tahun 2022

Hi, good people. 😄

Setelah selama dua tahun pandemi dan tidak ada perayaan untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia, bersyukur tahun ini sudah bisa merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke-77 dengan tema Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat.

Ditempat aku tinggal sekarang, Sampit-Kotawaringin Timur, ada karnaval pembangunan yang diadakan pada Minggu, 21 Agustus 2022 lalu. Mengingat ini adalah karnaval pertama setelah pandemi, karnaval ini cukup meriah diikuti oleh sekitar 319 kelompok dari berbagai kalangan baik institusi pendidikan, pemerintahan, maupun umum. Penontonnya banyaaaaakkk.... kenapa aku rela nonton padahal biasanya mager di rumah? Ada anak TK yang belum pernah nonton karnaval jadi perlu ditunjukkan seperti apa sih karnaval itu. 

Selama lihat karnaval aku fokus pada sekolah-sekolah yang ikut karnaval, duhhhh cantik-cantik dan ganteng-ganteng....eh...bukan ya...fokusnya bukan itu. Satu, aku fokus pada visi misi dan tema yang diusung masing-masing sekolah dan yang kedua aku fokus pada hasil karya yang ditampilkan. Masya Allah, visi misi sekolah ini bagus semua, nggak ada yang nggak bagus. 

Misalnya visi dari SMA Negeri 3 Sampit "Terwujudnya Insan Yang Beriman, Berakhlakul Mulia, Cerdas, dan Berwawasan Lingkungan."

Karya yang di tampilkan juga karya yang mengangkat tema lingkungan sekitarnya yaitu berhubungan dengan buah nanas. Dari info gizi AKG FKM UI ada beberapa manfaat buah nanas yaitu memiliki antioksidan, mengandung enzim bromelin, mencegah inflamasi, mempercepat pemulihan, dapat mengurangi gejala artritis, dan meningkatkan sistem imun. Nah...pas banget dong dikonsumsi di masa-masa virus bertebaran kayak gini. Udah banyak manfaatnya, harganya murah, dan buahnya segar pula. Iya kan? Nggak harus buah yang mahal, buah yang dekat dengan lingkungan kita aja cukup kok. 

Kemudian tema dan visi misi dari SMA  Negeri 1 Sampit ini "Mencintai dan Melestarikan Budaya Tradisional. Wujudkan Karakter Profil Pelajar Pancasila Berkebhinekaan Global di Era Global Abad 21."


Ini sungguh visi misi yang luar biasa menurutku. Tuntutannya berat ini, berat untuk muridnya juga berat di pundak gurunya. 😁 Seperti kurikulum yang mulai diterapkan di tahun pembelajaran 2022/2023 ini yaitu kurikulum merdeka, guru dan juga peserta didiknya harus siap dengan segala perubahan yang ada dalam kegiatan belajar pembelajaran. Di kurikulum merdeka ini ada muatan Profil Pelajar Pancasila dan pengembangan softskill yang didasarkan pada pembelajaran berbasis proyek. Selain itu di kurikulum merdeka ini juga fokus pada materi esensial dan guru dapat menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kemampuan dan minat peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. 

Sedangkan untuk Abad 21 sendiri tuntutan untuk guru udah banyak kan ya? Mulai dari kegiatan pembelajaran harus inovatif, pemanfaatan ICT (Information and Communication Technology), Pendekatan STEAM (Scientific Technology Engineering Art Mathematics) - TPACK (Technological, Pedagogical Content Knowledge), dll. Dan peserta didik abad 21 harus memiliki keterampilan 4C kan, Cakap, Cantik, Cukup, dan Cocok... bukan ya... 4C yang jadi fokus disini tetap pada Creative Thinking, Critical Thinking and Problem Solving,  Communication Skills, and Collaboration. Tuntutan untuk peserta didik berat juga, dan keempat keterampilan itu tidak bisa didapatkan secara tiba-tiba, bukan sulap. Perlu kerjasama dari semua pihak lho, bukan cuma tanggung jawab guru dan kepala sekolah saja, orang tua dan msyarakat juga punya tanggung jawab. 

Nggak bisa seorang anak itu tiba-tiba dia tumbuh menjadi anak yang kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif dan ceriwis...(yang terakhir nggak ya...) kalau nggak ada stimulusnya dari kecil. Dari kecil lho ya...bukan dari SD, dari SMP, dari SMA apalagi dari kuliah. Contohnya aja ibu-ibu yang punya anak balita, biasanya anak-anak ini kan suka perasaran nanya ini itu... ya tolonglah dijawab.. dijawab dengan jawaban yang logis bukan malah dibilang " udah diem, jangan tanya-tanya terus." Buyarrrrrr.....

Terus kalau nggak tau jawabannya gimana? Ya bilang aja "Eh bunda lupa jawabannya, nanti habis ini kita cari sama-sama ya dibuku atau cari di internet." that's okay, itu bagus juga karena ngajarin mereka untuk belajar. Dan juga ngajarin mereka bahwa bundanya, mamanya, ibunya, emaknya itu bukanlah orang yang tahu segalanya. 

Yang mau aku tekankan disini adalah pendidikan itu tanggung jawab bersama, bukan tanggungan guru aja. That's all. 😇

Balik lagi ke visi misi yang di atas, semoga bisa terwujud. Fighting!!!! 💪💪💪💪

Kemudian ada barisan adek-adek yang gagah dari SMK Negeri 1 Sampit dengan membawa spanduk " Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat. Kita Bangun Kotawaringin Timur menjadi Lebih Tangguh dan Kuat".

Dari pengalaman pribadi, mengajar anak SMK ini syedap sekaliiiiii... apalagi kalau kena ngajar di Teknik Sepeda Motor, stok sabarku harus banyaaaaaaaaaakkkkkkk. Tapi tetep jadi guru itu seru dan jalannya berdebu! 😅

Ada juga lembaga pendidikan dan pelatihan terpadu yang ikut memeriahkan karnaval yaitu dari LPP Quantum Siap kerja, Cepat Kerja...!

Beberapa anak yang lulus SMA punya pilihan untuk kuliah, ikut LPP, kerja, atau langsung nikah... 😁

Eits nggak boleh protes, karena kenyataannya disini memang gitu. Meskipun mereka termasuk gen Z tapi nggak semua Gen Z punya privilege untuk kuliah dan hidup enak. Ada yang harus kerja keras demi keluarga, ada yang terpaksa harus nikah. 

Apapun itu, sebagai guru aku juga tidak punya kuasa untuk mengharuskan anak-anak begini atau begitu, kuasaku hanya bisa mendoakan mereka, doa yang baik. 

Masih banyak sebenarnya visi misi sekolah yang ikut karnaval cuma nggak sempat di foto karena nonton sama anak TK, lebih fokus menjawab pertanyaan dia aja. 😂

Fokusku yang kedua adalah karya-karya yang ditampilkan saat karnaval. Keren dan penuh kreativitas. 

Kostumnya dibuat dari plastik
 

kostum pepaduan antara batik khas daerah dengan plastik 




Sepeda hias


Sebenarya masih banyak lagi yang lainnya tapi yang kefoto cuma itu. Tapi intinya dalam setiap karnaval, pasti peserta karnaval berusaha menampilkan hasil karya terbaik mereka. Yang menggelitik buatku adalah persiapan semua itu pasti panjang dan melelahkan. Menghabiskan banyak waktu dan tenaga. memang sudah dari zaman aku sekolah dulu, persiapan karnaval ini luar biasa. Dulu waktu aku SMP, peserta yang terpilih karnaval juga harus sama-sama membuat karya yang di tampilkan. Jadi sepulang sekolah harus mempersiapkan kostum dan lain sebagainya, kadang bahkan memakai jam belajar karena waktu karnaval sudah mepet. Termasuk juga jika harus berhias dan lain sebagainya, kalau sekolah tidak menyediakan biaya maka harus keluar biaya dari kantong sendiri. Makanya dulu aku sering ngumpet kalau ada pemilihan siswa yang ikut karnaval. Kenapa? Nggak cinta tanah air? BUKAN. I realized at that time my mom didn't have enough money to spend for such event. Jadi aku pikir kalau aku harus keluar uang ini itu waktu ikut karnaval, aku nggak mampu, masih ada hal lain yang lebih penting. Itulah kenapa aku pribadi tidak pernah memaksa anak didikku untuk keluar modal dari kantongnya, lebih baik aku keluarkan dari kantongku selama masih dalam batas kemampuanku. 

Berpartisipasi dalam karnaval dalah hal yang baik, tapi menurut aku harus dikaji lagi untuk persiapan karnavalnya. Kan setahun sekali? I know it's once in a year tapi jangan karena cuma sekali dalam setahun itu lalu kita ugal-ugalan. Menurutku sih ya... pendapat lain diterima juga.

Penampilan lain yang termasuk banyak dalam karnaval kali ini adalah marching band.  Sebelumnya aku udah tahu sih beberapa sekolah di Sampit memang punya marching band but it surprised me Sampit has many nggak cuma tiga empat sekolah. Dari tingkat SMP sampai SMA, banyak banget marching band-nya mulai dari yang baru sampai yang udah lama. 
Salah satu marching band dalam karnaval kebudayaan Kotawaringin Timur

Banyak marching band di karnaval pembangunan kemarin dan they are utstanding tapi sayangnya nggak ke-capture aku. Honestly, ketika aku melihat karnaval kebudayaan Kotawaringin Timur ini dalam hatiku berdoa semoga nggak lama lagi Seruyan juga punya yang seperti ini. Ya karena sekarang aku nggak ngajar di Kotawaringin Timur lagi tapi di Kabupaten Seruyan jadi tetap saja sebagai guru aku berkewajiban untuk memajukan pendidikan di Seruyan, that's my responsibility. Bingung juga aku, KTP Kotawaringin Timur, ngajarnya di Seruyan jadi ya kaki kanan di Kotim kaki kiri di Seruyan. 

Two Thumbs up untuk karnaval pembangunan kali ini, ditengah panasnya cuaca hari itu acara tetap berjalan dengan meriah. Penontonnya banyak, bapak Bupati dan jajarannya sumringah di panggung kehormatan dan para pedagang  mendapat rezeki. Ingat banget di tahun 2018 waktu masih jadi guru di SMK N 3 Sampit dan ikut karnaval, malamnya kakiku rasanya kaya diiket pakai rantai kapal. 

in the end jadilah guru yang terus belajar, majukan pendidikan kita. Semoga visi misi setiap sekolah bisa tercapai.
Welcome September, please be nice. 😉






Sunday, August 21, 2022

Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan, Seberapa Jauh Kita Berkembang?

Hi, good people.

Days in my life, sekarang masih sibuk jadi mahasiswa PPG. Jadi mahasiswa lagi setelah sekian lamaa, rasanya refreshing, challenging sekaligus pusing. 😄😄

Sebenarnya PPG ini sudah jadi issue in my life since 2018. Jadi aku lulus kuliah akhir 2011, tahun 2012 sampai 2015 ngajar di Language Center Universitas Muhammadiyah Malang, 2016 pindah ke Sampit Kalimantan tengah ngajar Bahasa Inggris untuk mahasiswa tahun pertama di Universitas Darwan Ali Sampit, Januari 2017 baru mulai ngajar di sekolah di SMKN 3 Sampit dan tahun 2018 ikut tes akademik (yang waktu itu disebut pre-test PPG) dan lulus. Tapi karena satu dan lain hal baru bisa ikut PPG di tahun 2022. Just skip the story in 2019-2022 before July.

Sudah dua tahun terakhir ini PPG dilaksanakan secara daring karena pandemi covid-19. Apa sulit PPG daring?  Sulit atau tidaknya menurutku tergantung pribadi masing-masing ya. Tapi sejauh kita berusaha dan berdoa, Tuhan akan memberikan jalan. 

Let's check what should we prepare before joining online classes!

Kita harus belajar mandiri dengan merangkum modul pembelajaran yang bisa kita download di SIM PKB saat jadwal lapor diri. Di tahap ini ada 4 modul pedagogi dan 6 modul profesional yang harus kita rangkum. Di tahap ini menurut saya tantangan terbesarnya ada pada bagian merangkum modul pedagogi. Why? Karena banyak banget halamannya. 😅 
Bisakah kita skip bagian merangkum ini? Atau bisakah kita nyontek aja punya teman? Big no! Karena pengetahuan yang kita dapat dari merangkum ini akan kita pakai nanti sewaktu belajar di kelas online. 
And you have to make a clear summary. Buatlah ringkasan yang sesuai dan pahamilah ringkasannya. Jangan cuma meng-copy bagian-bagian awalnya saja.

Ini salah satu contohnya, saya kasih satu aja rangkuman saya untuk modul 3 pedagogik dan modul 1 profesional:



After that, what should we do when joining the class?

Karena kita kuliah jadi pasti ada tugas-tugas yang harus kita kerjakan. Yang kedua seperti ketika kita kuliah dulu, atau ketika sekolah dulu, kita juga harus aktif di kelas. Aktif seperti apa sih yang diharapkan? Sama seperti kita ketika ngajar di kelas, aktif yang baik ya aktif yang sesuai dengan konteks. Ada dosen di kelas bilang bahwa ketepatan pertanyaan dan ketepatan jawaban juga menjadi salah satu kriteria penilaian. Jadi kalau kita menanyakan sesuatu yang sudah di jelaskan (yang seharusnya sudah kita pahami) berarti kemampuan kita menyimak bisa dipertanyakan, is that right? Jadi intinya kita harus punya pengetahuan awal yang cukup supaya di kelas nanti nggak ketinggalan, paling nggak bisa save our face- lah yaaa....

Jadi PPG daring itu belajarnya di LMS (Learning Management System) yang nanti ada sinkronus dan asrinkronus, sinkronusnya kelas online via zoom meeting, asinkronusnya diskusi di LMS. Semua tugas juga nanti harus di upload di LMS ya, tenang nggak usah khawatir yang nggak punya printer, sekarang udah nggak musim print-out. 😁

Di LMS nanti ada 5 yang harus di lalui, apa aja?
1. Pendahuluan 
Di pendahuluan ini nanti ada dibagi dua bagian yaitu pendahuluan dan orientasi, dibaca aja kalau mau. kalau enggak bisa di skip aja. Karena materinya kan sudah kita dapat waktu masa orientasi.

2. Pendalaman Materi
Di bagian ini nanti melakukan identifikasi masalah, eksplorasi penyebab masalah dan menentukan penyebab masalah.

Nah, masalah semua kan isinya? 😆

Di bagian ini teman-teman harus menganalisis permasalahan pemeblajaran yang ditemui di skeolah masing-masing. Di bagian ini juga temean-teman harus siap jadi interviewer yang baik karena nanti harus mewawancara beberapa orang supaya bisa mengisi tagihan LK yang harus di upload  di LMS. Belajar jadi wartawan juga ya, kejar tayang soalnya ini. 

Nah LK yang sudah teman-teman kerjakan waktu belajar mandiri (LK 0.1) itu di uploadnya di bagian pendalaman materi ini, jadi kalau teman-teman tidak meng-upload LK 0.1 ini tahap selanjutnya di LMS tidak terbuka. 

FYI, semua tagihan yang ada di LMS itu adalah prasyarat untuk kita bisa ikut kelas selanjutnya. Jadi usahakan selalu tepat waktu meng-upload semua tugas.


Kalau sudah upload tugas nanti warnanya akan hijau dengan keterangan "Selesai: Buat Pengajuan". Lalu baru bisa membuka link untuk kelas selanjutnya atau tahap selanjutnya.

Tahap pendalaman materi ini waktunya cukup panjang dan banyak yang harus kita kerjakan, total ada 4 LK yang harus kita selesaikan yaitu LK. 1.1 sampai LK. 1.4. Fightinggggggg!!!! 💪💪💪💪💪

3. Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Tahap ketiga ini yang lumayan menguras pikiran dan tenaga, tapi nggak menguras kantong, tenang. 


Bagian pengembangan perangkat pembelajaran ini ada 4 hal yang harus dikerjakan:
1. eksplorasi alternatif solusi;
2. penentuan solusi;
3. pembuatan rencana aksi;
4. pembuatan rencana evalusi.

Nah lhooo..banyak kan. Produk dari tahap ini adalah Perangkat Pembelajaran Lengkap yaitu RPP, Bahan Ajar, Media Pembelajaran, Kisi-kisi Soal, Instrumen Soal, Kunci Jawaban, Rubrik Penilaian, Lembar Kerja peserta Didik (LKPD) juga Rencana Evaluasi. Untuk tahun ini model pembelajaran yang ditekankan adalah Problem Based Learning dan Project Based Learning. 

Dan untuk membuat perangkat pembelajaran lengkap itu aku perlu banyak waktu dan inspirasi. Tapi santai aja, inspirasi bisa datang kapanpun dan dimanapun, kalau stress duluan malah inspirasinya kabur.... ya nggak?

Aku aja kadang pas masak, sambil goreng-goreng gitu muncul ide...oh bisa aja nih bikin soal model A supaya in line dengan indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajarannya. Kadang lagi njemur cucian juga bisa datang inspirasi. 😋

Mau bocoran RPP Lengkap? Emmmm.. nanti aja ya...


Nah setelah melewati tahap pembuatan perangkat pembelajaran ini, harus ikut Uji Komprehensif dulu baru bisa ikut PPL. Apa yang diujikan? Nanti di blog aku yang selanjutnya ya...lanjutannya dan juga bocoran RPP lengkapnya.


Intinya, usahakan yang terbaik (terbaik itu ya bukan berarti ahh terserah aja deh, terbaik itu ya usahakan punya persiapan, baru boleh bilang apapun yang terjadi terserah), dan juga selalu berdoa. Apapun hasilnya setelah usaha dan doa tadi, itulah takdir Tuhan untuk kita..

Untuk Ujian Komprehensif dan PPL nya next chapter ya...

Have a great day. 💚💚💚







Tuesday, June 28, 2022

Literasi Tak Selalu Hanya Membaca. Yuk Menulis dengan Metode Write Around!

 

Hi, morning good people!

Manjadi guru artinya harus selalu belajar. Entah meng-update ilmu pengetahuan terkait bidang kita masing-masing, meng-upgrade kemampuan diri atau juga meng-update drama dan novel terhits tahun ini. (dua terakhir sih kelakuanku aja ya…)

Di sisi lain, menjadi guru artinya juga jadi muda dan jadi dewasa di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak, kita harus paham seluk beluk siswa yang artinya kita harus masuk ke dunia mereka. Kalau nggak tahu dunianya gimana caranya kita bisa memahami mereka? Tapi disaat yang bersamaan kita juga adalah orang dewasa yang seharusnya bisa jadi sandaran, tumpuan, acuan, tempat keluh kesah, dan lain sebagainya bagi mereka (kadang kita juga jadi bahan untuk mereka menggosip di grup kelas, ye kan?? Hehehe…)

Beberapa kegiatan terkadang memang melelahkan, ya jujur saja disaat-saat tertentu bahkan kadang aku merasa kehilangan semangat. Salah satu kegiatan yang aku mulai dan sudah rutin dilaksanakan di sekolah adalah kegiatan literasi. Sejak sekolah kami diizinkan untuk mengadakan pertemuan tatap muka, kegiatan literasi ini rutin kami lakukan. Harapanku nggak muluk-muluk, nggak setinggi langit, sementara aku cuma berharap beberapa siswaku yang kurang lancar membaca ini akan lancar membaca, siswa-siswaku yang buta nada (entah titik, entah koma, entah tanda tanya semua nadanya sama) itu bisa membaca dengan intonasi yang benar, siswaku yang kemarin membacanya masih mengeja (iya, nggak salah baca. Siswaku kelas VII ada yang membacanya masih macam gini) bisa membaca tanpa mengeja. Apa harapanku terlalu tinggi?

Dalam kegiatan literasi ini aku belum pernah memakai buku-buku science fiction atau non-fiction, bisa-bisa mereka kabur duluan. Aku cuma memakai buku-buku fiksi yang aku ambil dari beberapa situs online seperti www.letsreadathome.org , https://storyweaver.org.in/ , atau https://buku.kemdikbud.go.id/ . Kegiatannya pun nggak sulit, kami membaca nyaring di kelas, kemudian biasanya aku tanya-tanya tentang kosakatanya (kalau ada kosakata yang menurutku sulit atau baru bagi mereka selalu aku tuliskan di papan dan aku jelaskan artinya), kalau satu buku sudah habis kami baca biasanya ada satu atau dua siswa menceritakan Kembali di kelas. Satu buku bisa baru habis kami baca dalam lima hari literasi. Kelihatannya mudah kan? Kelihatannya aja…

Berhasilkah tujuan yang ingin kucapai? Well, nggak semua tapi lumayan. Satu siswaku masih sulit banget membaca, aku bingung sudah harus gimana. Apalagi dihadapkan dengan tangisannya, subhanallah, semoga aku selalu awet muda macam Son Ye Jin (hahahahaha….).

Aku paham anak-anak adalah makhuk yang gampang bosan (aku juga sih), jadi kegiatan literasi ini biasa aku selingi dengan kegiatan menulis. Ya tak bis akitapungkiri keterkaitan antara kemampuan kita memahami bacaan dan kemampuan kita menuangkan ide. Beberapa kegiatan menulis aku sesuaikan dengan buku yang sedang kami baca, misalnya:

1.      1. enuliskan satu kesulitan hidup mereka dan bagaimana cara mereka mengatasinya (ketika selesai membaca buku berjudul “Sang Penyembuh oleh Allyson Curro”)

2.        2. Menuliskan mereka ingin jadi apa 10 tahun kedepan (ini kami lakukan ketika selesai membaca buku “Sang Doctor oleh Allyson Curro”)

3.      3. Menuliskan 3 kelebihan dan 3 kelemahan mereka dan bagaimana itu berpengaruh dalam kegiatan mereka sehari-hari.

4.      Menulis bebas dengan metode write around (disini aku menuliskan sebuah kalimat pembuka di papan tulis, kemudian siswa secara bergiliran melanjutkan kalimat yang aku tulis di papan supaya nantinya jadi satu cerita, setiap siswa bertanggung jawab menuliskan satu kalimat yang kalimatnya seharusnya terkait dengan kalimat selanjutnya dan nggak keluar dari topik.)

Riwan (siswa kelas VII) sedang melanjutkan cerita.


Sofi (siswa kelas VIII) menutup cerita

Write around ini yang biasanya seru, setelah beberapa siswa sudah menulis indah terkait kalimat sebelumnya, kadang ada aja siswa yang nulis out of topic dan itu jelas mengacaukan jalan cerita. Kadang bisa jadi kelahi juga ini, kawan yang dapat giliran setelahnya bisa ngamuk. (geli juga aku baca cerita mereka.)

 

Siswanya sedikti tapi suaranya "banyak"

Ceritanya berliku-liku meskipun kalimat awal yang aku tulis sangat sederhana

Yaaaa, apapun hasilnya aku berusaha tetap semangat. Mencapai sesuatu sering tidak mudah, sering aku harus menguatkan diriku sambil mikirin gimana caranya supaya tujuan-tujuan pembelajaran ini tercapai (kadang sambal kutinggal nonton drama, baca novel atau nge-rant di blog sih biar aku tetap waras aja).

Nah beberapa tips dari aku untuk kegiatan menulis write around ini:

1. Untuk bapak/ibu guru, tulislah kalimat pertama yang sederhana. Sungguh nggak usah muluk-muluk menulis kalimat kompleks atau compound complex. Perhatikan kemampuan siswa kita, aku yakin bapak/ibu guru ini paling jago memahami.

2. Pilihlah topik yang menarik untuk siswa kita, topik yang sedang hits. Bisa juga disesuaikan dengan suasana. Nggak usah terlalu serius topiknya, ini bukan menulis essay, ini cuma salah satu usaha supaya anak-anak belajar menulis dengan mengembangkan ide.

3. Jangan lupa Bapak/ Ibu guru siapkan mental, siapa tahu tulisan siswanya melenceng dari jalur. Meskipun ini bisa saja terjadi (seperti di kegiatan write around kami yang pertama) tapi mohon bapak/ibu jangan marah-marah nanti cepat tua. Sabarlah, bimbing siswa kita. 

Membaca dan menulis bisa seiring sejalan. Banyak buku bagus yang bisa kita akses online and free, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya saja. 

Happy Weekdays! (Tapi ini lagi libur semester Genap ya... )


Sunday, February 6, 2022

Modul Bahasa Inggris Kelas VII. Cheer Up!


Hari-hari di sekolah nggak selalu mulus kayak kulit Karina Aaespa atau Taehyung BTS. Sama kayak ibu-ibu yang sibuk memikirkan menu masakan hari ini, apalagi kalau si bapak maunya menunya beda tiga kali sehari dan harus homemade pula. Bingung kan? Kalau aku langsung ambil spatula dan nyanyi.....
  
....... jujuuuur aku tak kuasaaaa......

Ngajar juga kurang lebih gitu kalau aku. Kadang pas aku udah semangat 45 mau menegakkan sila ke-5, anak-anak muridku disini yang semangatnya entah pergi kemana. Jangankan kurikulum prototype, k13 aja disini masih merangkak. 

Kalau inginku sih, pengen ngajar pakai media belajar berbasis digital, memanfaatkan teknologi yang ada. Tapi apalah daya, PLN aja nggak sampai disini. Untungnya kominfo berbaik hati memberi bantuan Wifi Bakti Aksi jadi kami di sekolah bisa nih mengakses info-info online. Meski mengandalkan PLTS tapi setidaknya kami masih bisa mencari informasi meski hanya online sekitar 7 jam sehari, paling lama (kalau hari panas membara, kalau hujan ya sudahlah offline aja). 

Ngajar di desa, anak SMP. Mata pelajaran kesukaannya adalah Olahraga. Kalau sudah olahraga itu mereka merdeka, meskipun nggakk ada guru olahraganya, ya olahraga seadanya. Entah main bola, main voli, main kasti yang penting happy. Apa kabar belajar di kelas mata pelajaran lain? Ada satu dua anak yang memang cepat menangkap apa yang di sampaikan guru. Dari 16 murid di SMP, nggak sampai setengahnya yang bisa diajak diskusi. Tapi kalau gurunya patah semangat, gimana jadinya? 💗

Senam pagi. SMPN Satap 3 Hanau. SDN 1 Paring Raya


Sempat aku patah semangat, tapi akhirnya memilih untuk tetap semangat. Tidak harus memakai peralatan canggih, online dan A,B, C,D,E... yang penting anak-anak belajar. Disaat teman-temanku sudah M.Ed., P.hd. dan kesana kamari, akunya masih disini, di desa ini, kadang ngomel-ngomel dengan anak-anak. Tapi tak apa, aku sedang menjalankan kewajibanku sebagai WNI. Mengabdi pada negara. Semoga hakku sebagai warga negara terpenuhi juga. 😁

Kadang malas, kadang rajin. Itu aku. Semoga guru-guru di luar sana selalu rajin. Aamiin.💚💚💚

Kalau waktunya aku rajin mode on, aku bisa nulis modul. Salah satunya ini, modul Bahasa Inggris untuk kelas VII . 
Siapa tahu perlu referensi bisa diunduh disini  👇

Happy Weekdays!!! 


Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Salam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”   ( Teach...