Sunday, March 26, 2023

Koneksi Antar Materi Modul "Coaching untuk Supervisi Akademik"

 

Salam Guru Penggerak.
 

“Kreativitas adalah tentang membuat hubungan antara satu hal dengan hal lainnya. Ketika Anda bertanya pada orang-orang kreatif bagaimana mereka melakukan sesuatu, yang mereka lakukan adalah melihat hubungan antara berbagai pengalaman dan merumuskan hal baru.”

– Steve Jobs –

 

ruang kolaborasi II

Merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya ketika belajar tentang coaching pada modul 2.3. Bagaimana tidak, dulu saya berpikir bahwa coaching selalu berakhir dengan peningkatan kinerja atau dengan mendapatkan solusi dari permasalahan-permasalahan yang ada. Akan tetapi setelah belajar coaching pada eksplorasi konsep, diskusi dengan rekan CGP, dan juga elaborasi pemahaman dengan Pak Jacob Win selaku instruktur coaching untuk supervise akademik, saya mendapatkan pengetahuan baru bahwa coaching adalah kegiatan dimana coach dan coachee  berbicara untuk menguraikan permasalahan coachee. Dan dalam prosesnya posisi coach dan coachee adalah setara karena salah satu prinsip coaching adalah kemitraan. Coaching fokus pada tujuan bukan pada permasalahan.

 

Paradigma berpikir coaching adalah fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, mampu melihat peluang baru dan masa depan.

 

praktik coaching dengan skenario observer, coach, dan coachee




Saya memang sudah sering mendengarkan kata coaching tapi sering mendengar bukan berarti memahami. 

Ada tiga kompetensi inti dalam coaching  yaitu kehadiran penuh (presence), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot. 

Ketika membacanya saja saya sudah merasa ini akan lumayan sulit, dan ketika di praktikkan ternyata lebih sulit lagi. Dalam proses praktik yang pertama dengan rekan CGP di gmeet itu rasanya seperti “Oke aku akan coba yang terbaik versi aku.”. Sedangkan di praktik yang kedua, yang dilihat teman-teman sekelas dan fasilitator, perasaannya beda. “Aku bisa nggak ya?” “Nanti sesuai nggak ya?” “Eh, teman-teman ini biasanya pada jago nih”. Pikiran-pikiran itu berputar-putar seakan malah menciutkan nyali sendiri. Dan benar pada saat praktik coaching masih ada yang kelewatan meskipun saya berusaha sebaik mungkin. Dalam proses ini saya menyadari kesalahan saya dimana sehingga ada hal yang terlewat tersebut. Saya terlalu sibuk mengejar coachee dengan pertanyaan berbobot sehingga saya lupa menandai dalam catatan saya mana yang belum saya tanyakan. Padahal dalam catatan saya, sudah tertulis garis besar pertanyaan yang tidak boleh terlewatkan seperti “tujuan coaching hari ini?”, “hambatannya apa?”, “potensi yang bisa digunakan apa?”, “kapan rencana tersbeut di lakukan?”, “mulai kapan?”, “siapa yang bertanggung jawab?”, “apa yang akan dilakukan jika tidak berhasil?” dll. Setelah proses belajar modul 2.3 sampai kegiatan elaborasi konsep saya semakin yakin bahwa keterampilan coaching ini tidaklah di dapat secara instan, keterampilan akan meningkat seiring banyaknya jam terbang.

 

elaborasi materi modul 2.3

Kegiatan bersama yang terakhir dalam setiap modul adalah kegiatan elaborasi materi. Dalam elaborasi materi dengan instruktur ini saya juga mendapatkan hal yang baru. Ketika kegiatan sebelumnya dalam ruang kolaborasi praktik coaching dan praktik coaching untuk kegiatan demonstrasi kontektual saya masih menyebut diri saya sebagai coach atau coachee akan tetapi dalam elaborasi pemahaman saya mendapatkan hal baru bahwa dalam prinsip kemitraan ketika kita masih menyebut coach atau coachee  masih terasa tidak setara, sehingga perlu untuk memberikan suasana kesetaraan dengan atribut panggilan yang setara seperti saling memanggil “kak”.

Ada tiga tahapan dalam coaching yaitu pra-observasi, observasi, dan pasca observasi.

 Ketika instruktur menjelaskan tentang coaching dalam supervisi ademik, saya merasakan atmosfir yang berbeda. Salah satunya saya kira karena sayalah yang kebetulan dijadikan “objek” dalam praktiknya oleh Kak Jacob. Dalam kegiatan pra-observasi saya ditanya-tanya oleh Kak Jacob tentang kompetensi apa dalam diri saya yang ingin di observasi secara mendalam dari ketiga kompetensi inti coaching, kemudian kenapa saya memilih itu, dan apa indikator keberhasilan saya dalam kompetensi itu. Secara pribadi saya dan rekan sekelompok saya Bu Umi dan Bu Misnah sudah melakukan kegiatan pra-observasi ini dalam praktik demontrasi kontekstual kami tetapi rasanya berbeda sekali ketika praktik dengan Kak Jacob. Memang benar, pengalaman dan jam terbang pada suatu “hal” akan membuat keterampilan kita semakin baik. Ketika dengan Kak Jacob saya merasa kegiatan ini smooth sekali seperti ngobrol biasa sedangkan ketika saya dan rekan kelompok praktik rasanya seperti masih ada yang mengganjal dalam hati.

Ketika kak Jacob melakukan tahapan pasca-observasi pada saya di ruang gmeet elaborasi materi saya sadar bahwa ada beberapa poin penting yang ternyata belum saya dan teman sekelompok saya lakukan dalam kegiatan pasca observasi. Dalam praktik demonstrasi kontekstual saya hanya terpaku pada pertanyaan-pertanyaan yang akan masuk penilaian rubrik penilaian yang ada di LMS. Jadi saya dan teman-teman kelompok hanya menanyakan pada teman yang berperan sebagai coach tentang “menurutnya bagaimana praktik coaching tadi? Apakah sudah sesuai?”, menyampaikan hasil observasi, lalu menanyakan “kompetensi apalagi yang ingin dikembangkan.”  Jadi setelah elaborasi pemahaman, saya merasa lebih nyaman ketika observernya (Kak Jacob) mengatakan “bolehkah saya menyampaikan hasil observasi saya?” ketika akan emnyampaikan hasil observasinya. Itu terkesan lebih setara bagi saya. Dalam penyampaian observasi pun ternyata seharusnya urutannya adalah dari ‘apa yang sudah selaras dengan kompetensi yang ingin dikembangkan, apa yang melebihi kompetensi, baru menyampaikan apa yang kurang.” Dalam menyampaikan kekurangan pun observer harus menyertakan bukti yang jelas berdasarkan fakta ketika observasi misalnya menyebutkan jam dan menitnya kemudian apa yang dikatakan oleh coach. Hal-hal itulah yang nantinya akan saya praktikkan dalam kegiatan-kegiatan coaching  yang akan saya lakukan nanti.

 

Bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?

Sebagai seorang guru penggerak, peran saya sebagai seorang coach di sekolah adalah menemani rekan sejawat berbincang tentang permasalahan mereka sehingga benang-benang kusut yang ada dapat terurai. Berharap dengan peroses itu maka bersama-sama kami akan dapat mengembangkan keterampilan dalam mengajar dan meningkatkan pembelajaran di kelas maupun sekolah. Hal ini berkaitan dengan materi sebelumnya di paket modul 2, yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi, karena sebagai seorang coach, dengan kegiatan coaching untuk supervisi akademik saya berharap dapat dapat membantu memaksimalkan potensi-potensi rekan sejawat di sekolah. Dengan memaksimalkan potensi yang ada maka diharapkan kami dapat menerapkan strategi pembelajaran yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan murid yang beragam, serta membantu rekan sejawat dalam membangun lingkungan kelas yang inklusif dan memperhatikan aspek sosial dan emosi murid. Hal ini akan membantu murid untuk merasa lebih nyaman dan terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga mereka dapat belajar dengan lebih efektif.

Selain itu, saya juga dapat membantu rekan sejawat dalam mengidentifikasi kebutuhan murid yang berbeda dan memberikan saran untuk mengatasi tantangan pembelajaran yang mereka hadapi.

Selain membantu rekan sejawat, saya juga dapat menjadi coach bagi murid. Saya dapat membantu murid untuk mencapai tujuan mereka. Dalam kegiatan coaching saya dapat membantu dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosional mereka, seperti pengaturan emosi, kerja sama, dan komunikasi. Dengan begitu diharapkan saya dapat membantu murid untuk meraih potensi akademik dan pribadi mereka secara penuh. 

Keterampilan coaching yang diperlukan termasuk mendengarkan dengan aktif, memberikan umpan balik yang konstruktif, dan membantu rekan dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan perbaikan. Semua keterampilan ini sangat penting dalam membantu rekan sejawat dalam meningkatkan keterampilan mengajar dan meningkatkan hasil pembelajaran murid. Selain itu, sebagai seorang coach, saya dapat memfasilitasi diskusi reflektif dan kolaboratif di antara rekan sejawat untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam mengajar.

 

Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin  pembelajaran?

Keterampilan coaching sangat terkait dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam praktiknya seorang pemimpin pembelajaran yang baik harus mampu menjadi seorang coach yang efektif dalam membantu rekan sejawat dan murid untuk mencapai tujuan pembelajaran mereka.

Keterampilan coaching yang dapat membantu seorang pemimpin pembelajaran dalam pengembangan kompetensi meliputi kemampuan mendengarkan aktif, memberikan umpan balik yang efektif, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan memotivasi serta memberikan dukungan kepada rekan sejawat dan murid. Dengan memiliki kemampuan-kemampuan tersebut, seorang pemimpin pembelajaran dapat memahami kebutuhan dan harapan dari rekan dan murid, memberikan bimbingan dan dukungan yang tepat, serta membantu mereka mencapai tujuan pembelajaran.

Dengan mengembangkan keterampilan coaching, seorang pemimpin pembelajaran dapat membantu rekan sejawat untuk meningkatkan kinerja mereka dan mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Selain itu, seorang pemimpin pembelajaran yang efektif juga dapat menciptakan budaya kerja yang positif dan mendukung untuk guru dan staf pendidikan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas mereka.

 

Mari bergerak untuk kemajuan pendidikan.

 

Friday, March 10, 2023

Refleksi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional

 Salam Guru Penggerak.

Kegiatan pendidikan guru penggerak angkatan 7 sudah sampai pada modul 2.3. Sebelum belajar modul 2.3 saya menuliskan refleksi modul 2.2 dengan model 4P yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan. 

Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang terkoordinasi antara berbagai pihak dalam komunitas sekolah yang bertujuan untuk mendorong perkembangan anak secara positif. Integrasi PSE di kelas tidak hanya dapat meningkatkan pencapaian akademik, namun juga memberikan pondasi yang kuat bagi murid untuk sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik, termasuk kesejahteraan psikologis secara optimal.

Ada beberapa teknik yang dapat diterapkan salah satunya adalah teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed). Saat pertama melaksanakan teknik STOP, murid saya ada yang tertawa dan tetap tidak fokus, ada juga murid lain yang benar-benar mengikuti dan fokus pada instruksi saya. Setelah itu, dalam kegiatan inti saya meminta murid untuk berdiskusi dan mempresentasikan hasil diskusinya untuk menumbuhkan kesadaran sosial dan keterampilan berelasi mereka. Di akhir pembelajaran juga saya meminta mereka untuk mengisi refleksi dan umpan balik terhadap presentasi dan hasil karya temannya sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran dirinya.

Murid sedang menempelkan hasil karyanya


1.      Apa yang  Bapak/Ibu lihat dalam proses tersebut?  (Peristiwa)

Dalam proses tersebut, terlihat bahwa beberapa murid mungkin tidak sepenuhnya terlibat dan membutuhkan lebih banyak dukungan dan bimbingan. Namun, beberapa murid lainnya dapat berpartisipasi dengan aktif dan fokus pada instruksi. Murid-murid yang dapat fokus tersebut setelahnya berada pada kesadaran penuhnya untuk mengikuti kegiatan selanjutnya dalam proses pembelajaran. Selain itu, diskusi dan presentasi juga membantu meningkatkan keterampilan sosial dan berelasi di antara para murid. Tentu saja sebagai seorang guru saya harus dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi mereka agar tercipta well-being.

 

2.      Apa yang Bapak/Ibu rasakan sehubungan dengan proses yang Anda alami? (Perasaan)

Sebagai guru sudah biasa rasanya merasakan berbagai macam perasaan jika menghadapi murid-murid. Ketika belajar pembelajaran sosial emosional di modul 2.2 saya merasa senang karena mendapatkan hal baru. Sedangkan dalam praktiknya terkadang tidak semudah memahami teorinya. Sehubungan dengan proses tersebut saya merasa senang dan bangga melihat beberapa murid yang aktif berpartisipasi dan terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Di sisi lain, sejujurnya ada sedikit kecewa terhadap beberapa murid yang tidak sepenuhnya terlibat dan tidak memperhatikan instruksi. Terkadang juga saya merasa frustasi dan kebingungan memikirkan bagaimana caranya agar mereka semua terpenuhi kebutuhan belajarnya sehingga tercapai tujuan belajarnya.

 

3.      Apa  hal yang bermanfaat dari proses tersebut? (Pembelajaran)

Dari praktik pembelajaran sosial emosional tersebut memungkinkan para murid untuk mempraktikkan keterampilan sosial dan berelasi, mempromosikan kesadaran diri dan kesadaran sosial, serta membantu membangun kemampuan berbicara di depan umum. Bagi saya seorang guru, proses tersebut juga merupakan tempat bertumbuh, dari berbagai respon anak-anak saya juga belajar manajemen diri, keterampilan sosial, keteramilan berelasi dan juga pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

4.      Apa umpan balik yang Anda dapatkan? (Pembelajaran)

Dalam praktik pembelajaran, perlu adanya variasi dalam penerapan teknik-teknik yang dapat digunakan ddi dalam kelas. Guru dapat menyesuaikan Teknik yang digunakan dengan kompetensi sosial emosional yang ingin ditumbuhkan selama proses pembelajaran. Jika satu Teknik atau satu cara kurang tepat maka dapat mencoba Teknik lain dalam kegiatan selanjutnya.

 5.      Apa yang ingin Anda perbaiki atau tingkatkan agar ini berdampak lebih luas? (Penerapan)

Untuk meningkatkan dampaknya, saya dapat mencoba mengintegrasikan lebih banyak teknik pembelajaran sosial emosional ke dalam praktik pembelajaran sehari-hari, seperti teknik meditasi atau permainan peran. Saya juga dapat memberikan lebih banyak dukungan dan bimbingan kepada para murid yang membutuhkan, serta memastikan bahwa kegiatan pembelajaran difasilitasi dengan cara yang positif dan terstruktur untuk meningkatkan partisipasi dan keterlibatan murid secara keseluruhan.

“Jarak antara cita-cita dan kenyataan adalah aksi nyata” 
- Anonim -



Wednesday, February 22, 2023

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

Salam Guru Penggerak. 

Pembelajaran berdiferansiasi digadang-gadang dapat membantu murid untuk mencapai tujuan belajarnya, jadi tidak ada lagi murid yang tidak mencapai tujuan belajarnya. Lalu apakah demikian? Apa sebenarnya pembelajaran berdiferensiasi? Bagaimana guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas? 

 Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. (Tomlinson, 1999:14) 

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan keputusan-keputusan yang di ambil oleh seorang guru berdasarkan kebutuhan murid dan bagaimana guru tersebut merespon kebutuhan muridnya. Pembelajaran berdiferensiasi adalah strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan murid untuk membantu murid mencapai tujuan belajar. Seorang guru harus memperhatikan berbagai aspek agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diterapkan seperti tujuan pembelajaran yang jelas, bagaimana menanggapi dan merespon kebutuhan belajar muridnya, bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang dapat menumbuhkan keinginan murid untuk belajar dan mencapai tujuannya, manajemen kelas yang efektif, dan penilaian berkelanjutan. 

Bersama Kepala Sekolah dan murid setelah menari Manasai


Pembelajaran diferensiasi tidak bisa dilakukan begitu saja, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh guru. Karena pembelajaran berdiferensiasi mengacu pada pemenuhan kebutuhan belajar murid maka guru terlebih dahulu harus memetakan kebutuhan belajar murid-muridnya. 

Ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh guru terkait kebutuhan belajar murid yaitu kesiapan belajar, minat murid, dan profil belajar murid. 

Setiap murid mempunyai kesiapan yang berbeda sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran. Kesiapan Belajar (Readiness) ini terkait dengan kesiapan untuk mempelajari materi atau konsep baru. Kesiapan belajar ini penting untuk di identifikasi karena dengan mempertimbangkan kesiapan belajar dapat membantu murid untuk menguasai materi/atau keterampilan baru, tentu saja dengan dukungan lingkungan belajar yang positif. 

Selain kesiapan, minat murid juga berbeda. Lalu apakah guru tidak dapat membuat murid berminat dalam belajar? Tentu saja bisa. Akan tetapi guru hanya dapat menciptakan minat situasional dalam kelas. Minat situasional adalah minat seseorang yang berkembang atau muncul sebagai hasil dari situasi tertentu. Ini adalah minat yang tidak stabil dan tidak bersifat permanen. Minat situasional dapat timbul sebagai hasil dari kegiatan atau proyek yang sedang dilakukan, dan dapat berubah atau hilang setelah situasi berubah. Jadi seorang guru dapat menumbuhkan minat situasional dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Sedangkan minat yang konsisten dan permanen adalah minat individu yang berkembang dari dalam diri individu dan mempengaruhi identitas kepribadian mereka. Seorang guru harus memahami kedua jenis minat ini agar dapat menentukan cara terbaik untuk memfasilitasi dan meningkatkan minat seseorang dalam bidang tertentu. 

Hal terakhir terkait kebutuhan belajar murid yang harus diperhatikan adalah profil belajarnya. Profil belajar murid adalah deskripsi dari gaya belajar, preferensi, dan kemampuan murid dalam proses belajar. Ini termasuk informasi tentang bagaimana mereka menyerap, memahami, dan mengaplikasikan informasi baru. Jadi dengan memperhatikan profil belajar murid, seorang guru diharapkan mampu memberikan kesempatan pada murid untuk belajar secara alami dan efisien sehingga dapat memenuhi kebutuhan belajarnya.

Seorang guru dapat melakukan berbagai cara untuk mengetahui kebutuhan belajar muridnya. Bisa saja dengan bertanya langsung pada murid-murid tentang apa yang mereka sukai, apa yang mereka inginkan dalam belajar, bagaimana cara mereka belajar, apa yang mereka ketahui tentang materi yang akan di pelajari dan lain-lain. Bisa saja dengan memberikan angket terkait gaya belajar mereka, atau melakukan asesmen diagnostik awal. Yang saya lakukan untuk mengetahui profil belajar dan minat murid adalah dengan memberikan mereka angket. Ada banyak contoh angket yang bisa gunakan. Untuk tes diagnostik awal dapat dilaksanakan ketika penerimaan murid baru sehingga di awal semester semua guru sudah mendapatkan data tentang profil belajar murid sehingga guru dapat menyesuaiakn pembelajarannya. Setelah mengidentifikasi kebutuhan belajarnya, seorang guru dapat memetakan murid-muridnya. 
Murid mengisi angket gaya belajar

Sebagai manusia kita punya kecenderungan untuk lebih baik dalam melakukan segala sesuatu tersebut sesuai dengan diri kita, begitu juga dengan murid kita. Mereka dapat belajar lebih maksimal jika kegiatan pembelajarannya terkait dengan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya, memicu rasa ingin tahu mereka tapi tetap memberikan mereka kesempatan untuk melakukan apa yang mereka sukai. 


Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal? Guru dapat menyesuaikan kebutuhan murid dengan model dan metode pembelajarannya. 

Ada tiga jenis diferensiasi yang dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran yaitu differensiasi konten, differensiasi proses, dan diferensiasi produk. 


Dalam diferensiasi konten guru dapat menyediakan berbagai macam sumber yang dapat di akses oleh murid sesuai dengan kebutuhan belajarnya misalnya dalam bentuk teks, video, atau cerita bergambar. Dalam pembelajaran Bahasa dengan materi teks Deskriptif, guru dapat menyediakan materi dalam bentuk tulis ataupun video. Selain itu guru juga dapat memvariasikan bentuk teks deskriptif dalam level kesulitan kosakata dan tata bahasa sesuai dengan kebutuhan murid. Untuk murid yang pengetahuan awalnya baik maka guru dapat memebrikan teks deskriptif dengan tingkat yang lebih sulit, sedangkan untuk murid yang kurang dapat diberikan teks dengan kosakata yang lebih mudah. 

Sedangkan diferensiasi proses dapat dilakukan untuk mengakomodir perspektif belajar murid yang beragam. Ada murid yang mempunyai kesiapan belajar baik sehingga memerlukan sedikit tuntunan saja, ada juga murid yang kesiapan belajarnya kurang baiks ehingga memerlukan lebih banyak tuntunan dari guru salam proses belajarnya. Dalam hal lain ada murid yang cepat ada juga yang lambat dalam belajar sehingga guru perlu memberikan variasi waktu penyelesaian tugas. Guru juga dapat mengembangkan kegiatan bervariasi yang mengakomodasi berbagai gaya belajar. Misalnya saja untuk murid yang gaya belajarnya kinestetik guru perlu menyediakan kegiatan yang memerlukan aktivitas gerak, sedangkan untuk murid visual guru memberikan kegiatan yang menarik mereka secara visual. 
Proses belajar murid sesuai kebutuhannya

Dalam kegiatan pembelajaran murid memahami materi secara berkelompok


Kegiatan pembelajaran selalu mempunyai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Ada sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang ingin dicapai. Untuk mencapai suatu keterampilan, guru dapat memvariasikan “produk” dalam kegiatan belajarnya. Misalnya saja untuk pelajaran Bahasa dengan materi Teks Deskriptif, guru dapat memvariasikan tugas muridnya dalam berbagai bentuk misalnya “menulis cerita deskripsi” bagi murid yang suka menulis, “membuat video mendeskripsikan sesuatu” untuk murid yang audio visual, bahkan “membuat vlog tentang suatu tempat” untuk murid yang kinestetik dan membutuhkan pelibatan aktivitas gerak dalam tugasnya. Murid dapat memilih untuk membuat produk yang mana guna menerapkan pengetahuan yang didapatnya dari kegiatan pembelajaran dengan materi Teks Deskriptif. 
Murid dapat membuat produk sesuai minatnya



Lalu apakah semua harus dilakukan? Bisakah semua itu diterapkan? Semua tergantung pada Bapak/Ibu guru dan kebutuhan belajar muridnya. Guru bisa saja hanya menerapkan diferensiasi konten, proses, atau produknya saja atau dua diantara tiga atau bahkan ketiganya. Bapak/Ibu guru sendiri yang dapat memutuskannya setelah emngidentifikasi kebutuhan murid. Dengan mempertimbangkan kebutuhan murid tersebut dan menindaklanjutinya dalam kegiatan pembelajaran berdiferensaisi diharapkan murid mendapatkan hasil belajar yang optimal. 

Kegiatan pembelajaran berdiferensiasi ini sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa guru hanya menuntun tumbuh kembang anak yang mempunyai keunikan beragam sesuai kodratnya. Selain itu, menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan anak juga sesuai dengan pemikiran KHD bahwa kegiatan pembelajaran harus berpusat pada anak. Dalam kegiatan pembelajaran berdiferensiasi anak mendapatkan kemerdekaannya dalam belajar, mereka dapat belajar sesuai dengan gaya belajar, minat dan juga profil belajarnya masing-masing. 


Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu cara untuk menjalankan peran guru penggerak yaitu menjadi pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid (student agency). Selain itu dalam pembelajaran berdiferensaisi ini guru juga menerapkan nilai dirinya sebagai guru penggerak yaitu selalu berpihak pada murid, inovatif, dan reflektif. Jika dapat menjalankan peran dan nilai tersebut maka diharapkan semua kebutuhan belajar murid dapat terpenuhi. 

Pembelajaran berdiferensiasi membuat murid menggali potensi yang ada dalam dirinya sehingga tercapai tujuan belajarnya. Dalam kegiatan pembelajaran berdiferensiasi guru menghargai keberagaman murid sehingga murid akan terpenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima, kesenangan, penguasaan, dan juga kebebasan. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut akan menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri murid untuk mencapai tujuan belajarnya. Pada akhirnya hal-hal tersebut dapat menumbuhkan disiplin positif dalam diri murid. 

Memang “tak ada gading yang tak retak” tapi sebagai guru sudah seharusnya kita berusaha untuk selalu memperbaiki kegiatan pembelajaran kita. Sebagai guru teruslah berusaha untuk emmenuhi kebutuhan belajar murid-murid seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara “Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik, Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.” 

Salam Merdeka Belajar.

Wednesday, December 21, 2022

Refleksi Modul 1.4 Budaya Positif

Selamat siang…

Salam Guru Penggerak.

Kali ini saya akan menuliskan refleksi setelah mempelajari modul 1.4 dari pendidikan guru penggerak yaitu terkait dengan budaya positif. Refleksi ini saya tulis dengan model Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C). Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam merefleksikan materi pembelajaran.

 

Bersama murid-murid di halaman sekolah

Ada beberapa pertanyaan yang digunakan dalam refleksi model 4C ini yaitu:

1) Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak?

Dalam modul 1.4 ini ada beberapa konsep yang dipelajari yaitu disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Dari modul 1.4 ini saya mendapat ilmu baru bahwa memberikan penghargaan kepada murid memberikan efek yang negatif juga pada murid, efek yang hamper sama dengan efek dari memberikan hukuman. Hal tersebut sedikit mengejutkan buat saya, karena dalam praktiknya selama ini saya sering memberikan penghargaan pada murid-murid saya. Begitupun juga dengan posisi kontrol yang harus diambil olehs eorang guru untuk dapat menumbuhkan kebiasaan positif murid, saya baru mengetahui ada 5 macam posisi berdasarkan teori. Materi tentang budaya positif ini saya rasa sangat relevan dengan peran saya sebagai guru penggerak kedepannya. Dengan mempelajari tentang bagaimana menciptakan lingkungan yang positif untuk menumbuhkan budaya positif saya merasa bahagia karena mendapat pencerahan tentang praktik-praktik apa yang harus saya lakukan untuk merubah paradigma yang kurang tepat selama ini. Kedepannya sebagai guru penggerak saya dituntut untuk menjalankan 5 peran yaitu sebagai pemimpin pembelajaran, coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mendorong kepemimpinan murid (student agency), dan menggerakkan komunitas praktisi. Materi dalam modul 1.4 budaya positif ini akan sangat membantu saya dalam menjalankan peran mewujudkan kepemimpinan murid (student agency).

 

Murid SMPN Satap 3 Hanau ketika apel pagi

2) Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini?

Beberapa ide memang berbeda dari praktik yang saya lakukan selama ini. Salah satunya adalah materi tentang posisi kontrol guru. Dalam praktiknya selama ini saya lebih banyak menjalankan perans ebagai teman untuk murid saya,s edangkan dalam teorinya seharusnya seorang guru mengambil peran sebagai manager bagi muridnya. Mengambil peran sebagai teman bukanlah hal yang buruk akan tetapi dalam jangka panjang akan membuat murid bergantung pada guru. Sedangkan posisi kontrol manager dapat menumbuhkan motivasi intrinsik dalam diri murid, juga dapat menumbuhkan kemandirian dan tanggup jawab dalam diri murid.

Yang kedua, selama ini saya sering memberikan penghargaan kepada murid saya entah dalam bentuk pujian maupun imbalan seperti hadiah-hadiah. Saya beranggapan bahwa itu akan emmbuat mereka senang dan bersemangat untuk belajar lebih giat. Akan tetapi berdasarkan teorinya, justru penghargaan ini akan memberikan dampak yang negatif pada murid. Penghargaan juga bahkan dapat menjadi sebuah hukuman, dapat membunuh kreatifitas, dan juga menurunkan kualitas murid itu sendiri. Ketika mengetahui ini tentu saja saya sedih. Apa yang sudah saya lakukan selama ini ternyata akan memberikan dampak yang buruk pada anak didik saya.


3) Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?

Yang menurut saya penting dan harus dibawa adalah seorang guru harus mengambil posisi kontrol manager. Memang dalam praktiknya tidak mudah langsung beralih dari posisi teman, pemantau, penghukum, atau pembuat merasa bersalah ke posisi kontrol manager akan tetapi seorang guru harus berubahd ari waktu ke waktu. Penerapan segitiga restitusi untuk menuntun murid menyelesaikan permasalahannya juga harus terus dibawa dan diterapkan.

 

4) Change: Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini?

Setelah mendapat materi ini yang ingin saya lakukan adalah tidak lagi memberikan imbalan-imbalan kepada murid ketika mereka melakukan kebaikan ataupun berprestasi. Selain itu juga saya perlahan merubah posisi saya yang semula lebih banyak sebagai teman ke posisi kontrol manager. Sebagai seorang guru saya akan fokus untuk menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik dalam diri murid-murid saya dengan menciptakan lingkungan sekolah yang positif bagi mereka. Dengan menciptakan lingkungan belajar yang positif pada mereka maka mereka akan mendapatkan kemerdekaannya dalam belajar.

Bersama kepala sekolah dan murid-murid

Manusia tidak dapat mengontrol orang lain akan tetapi dapat mengontrol dirinya sendiri. Manusia yang dapat mengontrol dirinya untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal maka telah memiliki disiplin positif dalam dirinya. Semangat untuk bapak/ibu guru dalam mewujudkan merdeka belajar untuk mewujudkan profil pelajar pancasila.

Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.

Happy holiday! 😀



Saturday, November 19, 2022

Refleksi modul 1.2

 

Assalamu’alaikum, wr.wb.

Salam guru penggerak!

Setelah selama kurang lebih dua minggu mempelajari modul 1.2 dengan metode MERDEKA, dalam refleksi modul 1.1 ini saya akan menggunakan model 4F yaitu Facts, Feelings, Findings, Future. 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal):

1.      Facts (Peristiwa)

Modul 1.2 ini mulai di pelajari dari tanggal 7 November. Pertama kali membaca topik di modul 1.2 saya merasa kebingungan karena saya belum memahami apa itu nilai dan peran guru penggerak, jangankan nilai guru penggerak nilai diri saya sendiri pun saya belum pernah menggali kembali nilai apa saja yang dapat dikuatkan dalam diri saya. Setelah membaca modul 1.2 pada kegiatan eksplorasi materi semakin lama saya semakin tertarik dengan pembahasan did alam modul. Saya mendapat pengetahuan baru tentang apa dan bagaimana seorang guru penggerak dapat menguatkan nilai dalam dirinya yang sejalan dengan nilai guru penggerak. Setelah mempelajari konsep pada eksplorasi kemudian diskusi di ruang kolaborasi dan penguatan dari instruktur saya semakin menyadari bahwa sangat penting bagi seorang guru untuk menggali nilai-nilai dalam dirinya sehingga dapat menjalankan perannya sebagai seorang guru penggerak.

Proses pembelajaran pada modul 1.2 ini berjalan lebih lancar dari modul 1.1 bagi saya, karena saya sudah lebih memahami ritme pembelajaran pendidikan guru penggerak di LMS. Dalam penerapan konsep nilai dan guru penggerak di kelas maupun di sekolah juga berjalan lancar. Saya melakukan kegiatan pembelajaran yang berpihak pada murid, saya tidak menuntut mereka untuk lulus KKM akan tetapi lebih fokus pada kebebasan dan kesenangan mereka dalam belajar.

 

2.      Feelings (Perasaan)

Kegiatan pembelajaran pada minggu ini berjalan cukup menyenangkan, pada materi prosedur teks anak-anak berdiskusi dan menuangkan pemahamannya dalam bentuk tulisan teks prosedur yang dibuat sesuai keratifitas mereka masing-masing. Saya bangga dengan anak-anak karena mereka berusaha menuliskan apa yang mereka pahami. Meskipun ada dua anak yang asal-asalan saja membuatnya tapi saya tetap bersabar karena percaya bahwa seiring berjalannya waktu jika saya konsisten menuntun mereka maka mereka akan dapat menjadi murid yang lebih baik.

Kemudian terkait program di sekolah seperti program apel pagi yang kami isi dengan menyanyikan lagu daerah dan lagu nasional, membiasakan tari daerah; program literasi yang diisi dengan read aloud dan write around; dan program Jumat sehat berjalan dengan sangat baik. Setelah selama dua minggu dibiasakan apel pagi dan menyanyikan lagu daerah dan lagu nasional, mereka akhirnya sudah mulai terbiasa untuk berbaris jikas udah waktunya, mulai hafal lagu-lagu daerah (sementara ini kami masih mengajarkan lagu-lagu daerah Kalimantan tengah dan baru lagu Isen Mulang dan Manasai). Pada kegiatan literasi juga mereka sudah mulai menyesuaikan kembali setelah beberapa waktu kegiatan literasi terhenti karena sekolah kami terdampak banjir. Untuk kegiatan shalat berjamaah masih perlu banyak perubahan karena anak=anak masih sering saling tunjuk untuk menjadi imam maupun muadzin meskipun sudah dijadwalkan.

 

3.      Findings (Pembelajaran)

Dari semua proses hingga aksi nyata, saya memahami bahwa kita harus mengerti nilai diri kita terlebih dahulu agar dapat menjalankan peran kitas ebagai guru. Sebagais eorang guru kita harus memahami pada tahap mana perkembangan anak didik kita sehingga kita dapat menyesuaikan diri dengan tahap perkembangan mereka. Dan dari modul 1.2 ini saya semakin yakin bahwa jika kita secara konsisten melakukans esuatu maka perubahan porsitif dapat terjadi. Sebagai seorang guru harus selalu berpihak pada murid, mandiri, reflektif, inovatif dan kolaboratif. Nilai kolaboratif penting karena tidak ada perubahan berarti yang bisa kita capai seorang diri, kita harus berkolaborasi dengan berbagai pihak.

 

4.      Future (Penerapan)

Di masa depan saya harus tetap konsisten menjalankan nilai dan peran guru penggerak. Tidak da suatu perubahan yang terjadi secara instan, saya perlu lebih bersabar dan terus melakukan refleksi dan tindak lanjut dari setiap Tindakan yang saya lakukan baik dari kegiatan pembelajaran maupun dalam menjalankan program-program di sekolah bersama rekakn guru lain.

 


 

Wednesday, November 16, 2022

Koneksi Antar Materi Modul 1.2 Pendidikan Guru Penggerak

 

Asssalamu'alaikum. wr.wb.

Salam guru penggerak.

Kali ini saya akan menuliskan koneksi antar materi modul 1.2 dengan model reflelksi 4P yaitu Peristiwa, perasaan, Penerapan ke depan (Rencana). 

1.      Peristiwa

Selama mempelajari modul ini saat yang paling penting adalah saat pemahaman konsep dan penerapannya, karena sebelum penerapan kita haruslah memahami konsepnya agar tidak terjadi kesalahan pada proses penerapannya. Setelah menguasai konsepnya maka haruslah kita terapkan dan  proses penerapan inilah bagian yang menantang dalam kegiatan di sekolah baik kegiatan praktik pembelajaran maupun kegiatan lain di sekolah. Jika ketika mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru saya sudah belajar bagaimana membuat perangkat pembelajaran yang baik dan sesuai, ketika lanjut program Pendidikan Guru Penggerak ini saya harus merancang kegiatan pembelajaran yang lebih berpihak pada murid bukan hanya sesuai dengan kurikulum saja.

Murid kelas IX sedang membuat pamflet untuk 

Ketika mempelajari modul ini juga saya menggali kembali nilai-nilai apa yang ada dalam diri saya yang sesuai dengan nilai-nilai yang harus dimiliki guru penggerak untuk dapat membawa perubahan pendidikan ke arah yang lebih baik. Setelah mengetahui nilai-nilai dan peran yang harus saya laksanakan maka tantangannya kembali pada bagaimana penerapannya dalam di kelas maupun di sekolah. Menggerakkan orang lain tidaklah semudah menggerakkan diri sendiri karena kita tidak punya kendali atas diri orang lain.

Kaitan antara Modul 1.1 dan 1.2 yang saya fahami adalah setelah mempelajari modul 1.1 dan 1.2 ada beberapa pencerahan yang saya dapatkan terkait dengan pendidikan, nilai-nilai dan peran sebagai guru penggerak juga bagaimana manusia dapat tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Di modul 1.1 saya telah belajar filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu menuntun anak untuk mengembangkan kodratnya masing-masing agar dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan dalam hidupnya. Seorang guru haruslah dapat menjalankan trilogi pendidikan KHD Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Seorang guru juga mempunyai nilai-nilai dalam dirinya yang dapat digunakan untuk mengembangkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai-nilai yang ada pada diri seorang guru inilah yang mempengaruhi bagaimana seorang guru dapat menjalankan perannya. Semakin kuat nilai yang dimiliki seorang guru baik nilai berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, maupun inovatif ini akan dapat membawa semakin baik juga membawa perubahan yang positif. Hal itu dapat terjadi jika guru dapat menjalankan perannya sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach  bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid (student agency) maupun dalam menggerakkan komunitas praktisi dengan baik. Jadi untuk dapat menjalankan filosofi pendidikan KHD pendidikan yang berpihak pada murid, seorang guru harus menggali nilai dalam dirinya sehingga dapat menjalankan perannya. 

2.      Perasaan

Saat momen itu terjadi saya merasa seperti bagaikan peibahasa Berguru ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.

Banyak sekali yang harus saya pelajari dan perbaiki mulai diri saya sendiri. Dengan segala keterbatasan di sekolah kami, saya merasa bahwa selama ini saya telah terlena oleh keadaan sehingga sedikit usaha untuk berinovasi. Setelah belajar sampai modul 1.2 ini saya merasa bersemangat kembali untuk terus meningkatkan nilai diri saya sebagai seorang guru untuk dapat menjalankan peran saya dengan lebih baik.

Setelah belajar sampai modul 1.2 ini saya semakin sadar bahwa belajar dapat dilakukan sedikit demi sedikti dan diterapkan, seperti peribahasa sehari selembar benang, setahun sehelai kain. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik.

 

3.      Pembelajaran

Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa saya sudah cukup memperhatikan murid-murid saya, sekarang saya berpikir bahwa seharusnya saya bisa lebih memperhatikan mereka tidak hanya dalam hal belajar saja akan tetapi juga mengikuti perkembangan sosial emosi mereka. Sebelum momen itu terjadi saya berpikir bahwa praktik pembelajaran saya selama ini sudah cukup baik untuk mendampingi mereka belajar, sekarang saya berpikir bahwa saya seharusnya dapat melaksanakan praktik pembelajaran dengan lebih berpihak pada mereka sehingga mereka dapat belajar dengan bebas dan bahagia. Sebelum momen tersebut saya bingung nilai apa yang ada pada diri saya yang bisa saya kembangkan untuk menjalankan peran saya sebagai guru, sekarang saya berpikir untuk menguatkan kembali nilai-nilai yang ada dalam diri saya untuk dapat membawa perubahan baik di kelas maupun di sekolah.  

4.      Penerapan ke depan (Rencana)

Ada beberapa rencana pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak yaitu:

a.     Mengikuti pelatihan atau diklat atau belajar mandiri dari sumber-sumber yang dapat di temukan baik di jurnal maupun praktik baik guru lain.

b.      Mengembangkan media pembelajaran yang berpihak pada murid.

c.      Melakukan refleksi kegiatan pembelajaran yang saya lakukan dan menindaklanjuti hasil refleksi dalam pembelajaran.

d.    Berkolaborasi dengan rekan guru di sekolah untuk membawa perubahan yang baik di sekolah yaitu melaksanakan program-program yang ada dan mengkaji kembali program-program di sekolah.


Kegiatan Apel Pagi

Mari wujudkan Merdeka belajar!




 

Saturday, November 12, 2022

Demonstrasi kontekstual modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

Bismillah. Assalamu’alaikum wr.wb.

Salam guru penggerak.

Jika saya membayangkan diri saya sudah lulus dari program Pendidikan Guru Penggerak selama tiga tahun maka ada beberapa hal yang ada dalam benak saya terkait peran-peran saya yang mewujudkan nilai-nilai guru penggerak.

Nilai pertama yang harus dimiliki guru penggerak yaitu berpihak pada murid.

Murid sedang berkolaborasi membuat teks prosedur dalam bentuk poster


Dalam tiga tahun setelah lulus pendidikan guru penggerak gambaran peran saya adalah:

 a. Menyesuaikan pembelajaran dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara saya akan tetap dan terus mengembangkan pembelajaran berdasarkan kodrat alam dan kodrat zaman murid. Untuk itu saya terus belajar tentang teknologi yang dapat digunakan dalam pembelajaran, mengikuti perkembangan dunia pendidikan, terbuka pada perubahan baik dari dalam dan luar negeri akan tetapi tetap memperhatikan nilai-nilai sosial budaya lokal. Karena murid saya sekarang adalah gen Z yang memanglekat pada teknologi informasi maka saya harus juga mempelajari apa yang mereka senangi sehingga dapat saya manfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk menumbuhkan semangat dan motivasi belajar mereka. Dalam tiga tahun kedepan, saya melakukan pembelajaran inovatif yang berpihak pada murid.

 b.Menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada murid

Lingkungan belajar yang berpihak pada murid tentunya akan membuat mereka nyaman dalam belajar, selama ini posisi duduk murid dan guru biasanya monoton yaitu posisi meja guru di depan kemudian meja murid berbaris berbanjar. Kedepannya posisi duduk murid itu bisa di atur sesuai dengan kesepakatan dan keinginan murid, jadi saya atau guru lain dapat mengikuti keinginan posisi nyaman murid untuk belajar pada saat itu. Posisi-posisi tersebut tidak tetap dan dapat berubah sesuaid engan suasana belajar yang diinginkan. Selain dalam hal teknis seperti tempat duduk maka perlu diperhatikan juga interaksi dan komunikasi antara murid dan guru. Untuk menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada murid saya akan memperbanyak interaksi dengan murid. Saya dapat membangun interaksi dua arah yang positif antara saya dan murid sehingga mereka merasa nyaman dengan saya. Murid-murid saya kebanyakan adalah anak-anak yang ditinggal kerja di kebun sawit atau di ladang dari pagi hingga sore oleh orang tua mereka, dan tidak cukup mendapat perhatian dan pendampingan dalam keseharian ataupun belajar mereka. Jika mereka merasa nyaman dengan saya, harapannya mereka punya tempat bersandar dalam menghadapi berbagai macam gejolak emosi dalam dirinya maupun permasalahan denga orang lain.

Murid duduk membentuk setengah lingkaran


c. Memahami latar belakang murid.

Beberapa cara akan dilakukan untuk dapat memahami latar belakang murid ini misalnya dengan observasi, memberikan angkat yang diisi oleh murid dan juga orang tua/wali murid. Selain itu bisa juga dengan wawancara terbuka dengan murid dan orang tua/ wali murid. Selain itu juga terus mengobservasi karakter murid di kelas, di sekolah, maupun ketika dalam lingkungan msyarakat.

4.      d. Memberi dukungan penuh pada semua murid.

Semua murid mempunya nilainya masing-masing sehingga tugas saya sebagai guru adalah memberi tuntunan pada mereka agar dapat hidup selamat dan bahagia. Saya akan menggali minat dan bakat murid dan menuntun mereka untuk mengembangkannya. Saya akan memberikan dukungan, apresiasi, dan semangat pada setiap kondisi mereka baik saat mereka sukses maupun saat mereka gagal.

5.      e. Mempunyai perasaan dan perhatian yang adil pada semua murid.

Saya akan tidak membeda-bedakan murid saya apapun dan bagaimanapun perilaku mereka. Jujur saja untuk saat ini terkadang masih ada perasaan condong pada murid yang berperilaku baik, dan masih ada perasaan kesal pada murid yang sering berbuat kurang baik. Dalam tiga tahun kedepan saya akan memberi perhatian yang adil pada mereka. Memperhatikan latar belakang dan kebutuhan mereka saya akan memberikan perasaan dan perhatian sesuai dengan kebutuhan mereka.  

Hal-hal tersebut di atas sesuai dengan peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid atau student agency. Dengan mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid maka murid dapat belajar dengan bebas dan bahagia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidupnya sebagai manusia merdeka. Dengan memberikan kebebasan dan tuntunan pada murid maka saya menjalankan peran untuk mewujudkan kepemimpinan murid itu sendiri.

Nilai yang kedua adalah nilai mandiri. 

Sebagai seorang guru saya akan terus belajar, sebagai seorang manusia saya akan belajar sepanjang hayat karena guru yang baik harus terus belajar. Karena zaman terus berkembang maka untuk dapat mengikuti perkembangan tersebut saya juga harus terus berkembang. Seperti yang sudah saya lakukan sampai saat ini saya bisa belajar dari manapun, tidak harus menunggu ada pelatihan dari dinas ataupun dari pihak lain. Saya akan terus belajar dari berbagai hal yang terjadi, mencari nilai-nilai positif dan memanfaatkannya untuk mewujudkan perubahan. Tidak hanya bertanya pada google, saya juga bisa memperlajari hal-hal baru dari media sosial. Dari media sosial anak-anak murid juga saya bisa mendalami karakter mereka yang dapat saya gunakan untuk menentukan pendekatan yang tepat pada kegiatan pembelajaran maupun kegiatan lain di sekolah. Saya akan terus mengembangkan diri untuk dapat menuntun perubahan yang positif bagi anak didik saya. Hal tersebut  sesuai dengan peran guru penggerak sebagai student agency.

Nilai yang ketiga adalah nilai reflektif. 

Sebagai seorang guru saya dituntut untuk dapat terus belajar, salah satu kegiatan belajar yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan refleksi dari pengalaman. Saya akan merefleksikan setiap kegiatan yang dilakukan di sekolah baik kegiatan praktik pembelajaran maupun program sekolah kami yang lain seperti program literasi, Kamis Beriman, Shalat berjamaah, apel pagi maupun kegiatan pramuka. Dan dari setiap kegiatan refleksi tersebut akan saya tindak lanjuti untuk perubahan pendidikan yang lebih baik di sekolah. Dalam kegiatan praktik pembelajaran saya akan rutin melakukan refleksi pembelajaran dengan murid maupun meminta umpan balik dari rekan guru. Program-program sekolah juga akan saya refleksikan bersama dengan rekan guru dan kepala sekolah untuk dapat ditindak lanjuti. Dengan menguatkan nilai reflekstif ini saya juga menjalankan peran saya dalam mendorong kolaborasi.

Nilai yang keempat adalah nilai kolaboratif. 

Sebagai seorang guru penggerak saya menyadari bahwa tidak ada perubahan yang dapat dilakukan sendiri, untuk dapat membawa yang lebih baik dengan jangkauan yang lebih luas maka saya akan terus mendorong rekan guru untuk terus berkembang dan memajukan sekolah. Untuk mendorong kolaborasi tentu saja saya harus memulai dari diri sendiri sehingga rekan guru terdorong untuk mengembangkan dirinya juga untuk melakukan perubahan. Misalnya setelah saya menguikuti kegiatan Training of Trainer Read Aloud saya membagikan ilmu yang saya dapat dengan rekan-rekan disekolah dan bersama-sama mengembangkan kegiatan literasi di sekolah kami. Dengan melakukan hal sepertiitu maka saya juga menjalankan peran saya sebagai coach bagi guru lain. Selain itu kegiatan kolaborasi yang akan saya lakukan dalam tiga tahun kedepan adalah:

a.      a. Merencanakan dan melaksanakan program sekolah. Program yang sudah ada akan dipertahankan seperti program literasi di hari Senin-Rabu pagi, Program Kamis beriman di hari Kamis, Program Jumat sehat di hari Jumat, Program Shalat dhuhur berjamaah setiap hari, dan Kegiatan Pramuka di hari Sabtu. Selain itu di tiga tahun mendatang saya beharap program baru dapat dilaksanakan misalnya ekstrakurikuler berkebun (yang bisa diisi dengan menanam obat keluarga atau pengembangan hidroponik), program English day pada hari Jumat dan Hari Berbahasa Indonesia karena selama ini anak didik di sekolah terbiasa untuk memakai Bahasa Daerah bahkan ketika kegiatan pembelajaran berlangsung. Dengan program English day diharapkan mereka akan dapat menerapkan apa yang dipelajari di kelas Bahasa Inggris, sedangkan Hari berbahasa Indonesia dilaksanakan agar mereka dapat lebih cakap Berbahasa Indonesia. Jadi dengan menerapkan nilai guru penggerak kolaboratif ini juga saya menjalankan peran mendorong kolaborasi baik antara saya dengan murid maupun saya dengan rekan guru ataupun dengan kepala sekolah.

Anak-anak sedang beristirahat
Kegiatan apel pagi

Kegiatan senam pagi

Kegiatan shalat berjamaah

Kegiatan write around untuk literasi


b.           b. Berkolaborasi dengan orang tua murid. Disini orang tua murid dapat berperan sebagai sumber belajar sebagai praktisi seperti pada program pemerintah praktisi mengajar. Akan tetapi programnya lebih sederhana di sesuaikan dengan profesi orang tua/wali murid yang ada. Misalnya orang tua/wali murid di sekolah kebanyakan bertani, berkebun, ataupun bekerja di kebun sawit, memproduksi gula aren, ikan asin, atau kerupuk. Jadi sekali waktu orang tua dapat dilibatkan secara nyata dalam proyek bersama membuat kerupuk. Jadi dengan menerapkan nilai guru penggerak kolaboratif ini juga saya menjalankan peran mendorong kolaborasi antara  saya dengan orang tua/wali murid.

c.             c. Berkolaborasi dengan rekan guru dalam MGMP. Dalam tiga tahun ada kolaborasi dengan rekan-rekan sejawat di komunitas MGMP Comprehension tidak hanya sebatas pembuatan soal ujian akan tetapi hal lain. Yang bisa dilakukan seperti bersama-sama membuat modul pembelajaran yang dapat dipakai di wilayah kabupaten Seruyan. Dengan membuat modul ini diharapkan dapat menguatkan potensi-potensi yanga da pada anggota MGMP. Selain itu juga saya membayangkan ada kegiatan lomba yang dilakukan oleh MGMP Comprehension misalnya lomba building vocabularies, spelling Bee, storytelling, speech contest, singing contest, Make Poster, Write short story dan lain-lain. Jadi dengan menerapkan nilai guru penggerak kolaboratif ini juga saya menjalankan peran menggerakkan komunitas praktisi.

Intinya dalam kegiatan kolaborasi saya akan menguatkan kerja tim di sekolah dan  meningkatkan kolaborasi dengan orang tua murid sehingga dapat terjadi perubahan yang lebih baik di sekolah.

Sebagai guru penggerak nilai kelima yang harus saya miliki adalah nilai inovatif. 

Untuk dapat menghadirkan gagasan yang segar dan tepat guna maka saya selalu terbuka pada perkembangan zaman dan teknologi. Misalnya dalam kegiatan pembelajaran, media sosial yang biasa digunakan anak-anak dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Supaya anak-anak lebih tertarik pada kegiatan pembelajaran maupun tugasnya, guru bisa memberikan contoh tugas lewat tik tok, misalnya untuk prosedur teks pada mata pelajaran Bahasa, saya memberikan contoh nyata video guru membuat sesuatu dan mengunggahnya di tiktok, murid-murid bisa mengakses video tersebut supaya emndapatkan gambaraan yang nyata. Selain itu murid akan elbihs enang jika gurunya juga melakukan kegiatan sendiri sebagai contoh bagi mereka daripada hanya menugaskan murid untuk emlakukan sesuatu. Selain itu untuk skill writing guru juga bisa memanfaatkan blog atau canva untuk membuat pembelajaran lebih menarik. Untuk materi poster, greeting card, product label,atau invitation letter dapat memanfaatkan canva. Untuk membuat anak-anak bersemangat belajar Bahasa Inggris, saya juga membuat lomba sederhana misalnya lomba building vocabularies atau spelling bee. Jadi lomba ini saya adakah di akhir semester, selain supaya mereka dapat bersenang-senang di akhir semester, lomba ini juga bsa saya gunakan untuk mengetahui perkembangan kosakata mereka di awal dan akhir semester. Dalam lomba building vocabularies ini anak-anak diberikans elembar kertas jawaban dan mereka harus menuliskan sebanyak mungkin kosakata Bahasa Inggris tanpa menuliskan artinya dalam kurun waktu tertentu, untuk tingkat SMP biasanya saya memakai waktu 30 menit, untuk tingkat SMA bisa diperpanjang waktunya. Sedangkan untuk spelling bee bisa dilakukan berpasangan atau ebrkelompok 3 orang jika muridnya banyak. Jadi pada lomba ini anak-anak harus menyebutkan spelling dari kosakata yang diucapkan oleh pembawa acara lomba. Dengan menguatkan nilai inovatif ini maka saya juga menjalankan peran sebagai pemimpin pembelajaran dan student agency.


Jadi sebagai guru saya akan memaksimalkan potensi yang ada di sekolah maupun di lingkungan sekitar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi murid. Tiga tahun kedepan saya akan tetap menyesuaikan dan memanfaatkan media dan teknologi yang dekat dengan anak supaya mereka dapat belajar dengan bebas dan bahagia. Dengan menerapkan nilai inovatif ini juga saya melaksanakan peran sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Semangat untuk terus tergerak, bergerak, dan menggerakkan.

 

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Salam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”   ( Teach...