Saturday, April 13, 2019

It has to be good

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hi, universe.

Kenapa judulnya it has to be good? Karena postingan kali ini akan bercerita tentang dunia per-sekolahan saya yang baru. Kebanyakan sekolah yang bagus letaknya di kota, bagus disini bukan hanya gedung dan fasilitasnya saja. Pendidik dan tenaga kependidikannya juga peserta didiknya, semuanya bagus baik input maupun output-nya. Memang tidak semua tapi kebanyakan begitu, kenyataannya. Sekolah tempat saya ngajar sekarang ada di desa. SMP N Satap 3 Hanau. Sekolah ini dibangun atas kerjasama dengan pemerintah Australia pada tahun 2009. SMP ini sudah mempunyai gedung sendiri, tidak menempati gedung yang sama dengan SD.
Kompleks sekolah di desa Paring Raya

Gedung sebelah kanan adalah gedung SMP, terdiri dari 3 ruang kelas, dan toilet 3 pintu. Gedung sebelah kiri adalah gedung SD. Terdiri dari 4 kelas gedung lama dan 3 kelas gedung baru. Ditengah gedung lama dan baru ada toilet 2 pintu. Baik SD maupun SMP sudah punya genset masing-masing. Dan airpun bersih, air sumurnya berlimpah. Guru SMP nya ada 4, dan kami meng-handle semua mata pelajaran yang ada di SMP. Savage. πŸ˜€πŸ˜€

Saya yang pada dasarnya guru Bahasa Inggris dan tidak pernah megang mapel yang lain dulunya, langsung shock pas wakasek kurikulumnya bilang saya mengampu 3 mapel, Bahasa Inggris, Pendidikan Agama Islam, dan Seni Budaya. Oh My Gosh, saya langsung ingat pak Bahris, guru agama di SMK tempat saya mengabdi sebelum ini. Ingat betapa sabarnya beliau ngajarin agama, lahh saya??? Lalu saya berpikir, mungkin ini teguran dari Allah untuk saya yang sekarang kebanyakan surfing dunia maya daripada mengaji. Dan Seni Budaya? Apa pula ini. Honestly I'm not good at this subject. Terus siswanya mau saya ajarin apaan, kalau cuma baca di buku sih mereka juga bisa baca sendiri. Perlahan tapi pasti saya menyesali masa lalu saya di sekolah dulu, andai saya ini rajin dan menguasai banyak seni. 😒😒😒

Berdasarkan jadwal jam sekolah adalah jam 07.00-13.20 WIB tapi percayalah anak-anak sudah gelisah mau pulang setelah jam shalat dhuhur. Jam 11.15 mereka istirahat kedua dilanjutkan shalat dhuhur sampai jam 12.00. Good point nya adalah mereka langsung siap-siap shalat tanpa saya harus teriak-teriak nyuruh shalat. Siswa laki-lakinya cuma 4 dan merekalah yang gantian jadi imam? Kenapa bukan gurunya? Gurunya perempuam semua, kepala sekolahnya laki-laki tetapi kebetulan beragama lain. Tapi setelah pertama saya mendengarkan mereka adzan dan iqhomah saya pikir mereka bagus aja. And I'm happy seeing that. Saya nggak mengabadikan momen shalat ini sih, masak shalat saya foto-foto. Nanti dicontoh adik-adik mereka di SD kan saya yang salah. 

Pada dasarnya mereka siswa yang manis, nggak banyak komentar, protes ini itu. Seminggu ini saya sudah ngajar di kelas VII sampai IX. Kelas VII sebenarnya ada dua orang tapi kemarin satu orang sakit. Jadi saya cuma berduaan aja, saya sih seneng aja. Kaya private kan ya... 😁😁 dan anaknya kebetulan pemalu. Saya sih ngajarin ya kaya biasanya aja, nggak bisa saya ngajar duduk diem aja sambil nyuruh anak-anak baca. Harus ada spidol untuk coret-coret di papan atau ada ppt. Karena disini masih minimalis, cukup spidol aja. Ehh saya nggak tau kenapa malamnya mamanya ni anak datang kerumah, cerita-cerita sampai ngantuk saya. Besoknya saya dapat dah beras. 😊😊😊
Kelas VII

Dikelas IX lain lagi ceritanya. Ketika pertama saya datang ke sekolah, jadwal mereka lagi Ujian Sekolah. Nah Minggu ini mereka belajar seperti biasa. Setelah saya tanya, selama mereka kelas IX cuma pernah masuk kelas Bahasa Inggris satu kali aja. Degggg...sedangkan di sekolah saya yang dulu, saya masuk terus aja mereka masih ngrasa susah luar biasa ngerjakan soal ujian Bahasa Inggris. Iya sihh mereka diberi buku detik-detik Ujian Nasional, tapi ya ini kan anak-anak, susah bagi mereka kalau nggak ada guru yang bisa ditanyain. Jadi selama seminggu semua jadwal saya di kelas IX saya isi dengan Bahasa Inggris. Karena mereka mau Ujian Nasional saya cuma bahas soal-soal aja. Ngasih tips dan trik sebisa saya, mudah-mudahan membantu mereka. Kasian kan anak-anak, bayangin aja anak kita sekolah terus gurunya nggak ada? Ada orang tua siswa yang datang ke rumah cerita kalau anak-anak ada kecewa juga karena gurunya sering nggak ada. 😒😒😒
Kelas IX

Pertama ngajar disini sedih aja ngliat mereka. Saya sedih juga pas nyari2 presensi siswa juga jurnal dikelas nggak ada. Kata guru senior disana sih anak-anak sering nggak masuk, tapi saya belum lihat sih kan saya masih aktif ngajar seminggu aja. Mudah-mudahan kalau gurunya rajin, anak-anak ikut rajin juga. Bismillah, semoga sekolahnya bisa lebih baik kedepannya. Padahal mereka pakai buku LKS dari Intan Pariwara sebagai pendamping buku yang dari pemerintah. Sebelum kesana saya sudah ngecek bukunya dan LKS nya memang sesuai silabus dan lengkap. Sayang aja kalau mereka pada akhirnya jadi malas karena terbiasa. 

Sebenarnya kalau saya perhatikan selama seminggu ini sih, faktor keluarga juga memegang peranan. Orang tua mereka yang rata-rata kerja di perusahaan sawit, pergi pagi pulang sore, mungkin kurang memotivasi atau kurang memperhatikan sekolah anak-anak. Tidak menyalahkan juga, karena pasti capek. Saya lihat anak-anak kalau siang cuma main-main aja. Saya sih sudah bilang ke mereka baik yang SD atau SMP, silahkan datang kerumah kalau mau belajar lagi. Dan sejauh ini masih belum ada yang datang untuk belajar. Anak-anak SD aja yang kerumah untuk belajar mengaji. Dan saya sudah cukup senang mereka mau datang. Mudah-mudahan kedepannya kakak-kakaknya mau juga kerumah untuk belajar. 

Bismillahirrahmanirrahim, semoga gurunya ini betah dan sabar. 😊😊😊

Kalau hidup sehari-harinya enak aja. Tetangga ramah, sayur dan ikan datang tiap hari. Sampai saya bingung sudah saya makan banyak-banyak belum habis juga ikannya. Mudah-mudahan saya bisa langsing karna saya ke sekolah jalan kaki, lumayan sekitar 300 meter, belum lagi kalau saya mau ke warung beli es. 😁😁

Have a good night, good people. Semoga setiap jalan yang kita tempuh memberikan manfaat. 




Friday, April 5, 2019

Fighting a new battle

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam.
Hi, good people.
Sudah beberapa bulan ini nggak nulis di blog. Singkat cerita saya lagi siap-siap pindah. Pindah kerja, kerjaannya sih sama masih jadi guru tapi feel-nya beda. Kenapa beda? Kalau sebelum ini saya ngajarnya di SMK dari pagi sampai siang trs beberapa sore ngajar di kampus, kali ini saya pindah ngajar di SMP. Yup, Sekolah Menengah Pertama. Menariknya sekolahnya bukan sekolah elit di kota, bukan juga sekolah favorit dengan segudang prestasi. Sekolah baru tempat saya mengajar ada di desa di kota sebelah (that's why I need to move out of town). Nama sekolahnya SMPN Satap 3 Hanau, ikut di kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Bagi temen-temen saya yang orang kota yang mungkin nggak tau, SMP Satap itu singkatan dari SMP Satu Atap, kenapa satu atap? gedungnya jadi satu wilayah dengan SD. Biasanya yang namanya Satap ini letaknya masih di desa, kelas dari masing-masing tingkatan pun hanya satu. Kalau di kota satu kelas bisa sampai 30 siswa atau lebih, di Satap ini siswanya lebih sedikit. Di SMP tempat saya ini siswanya ada 18, dan siswa SD nya 48. Ups, dikit ya? Iya. Yakin ngajar disini? Yakin aja.
Pertama sih agak ragu, gimana nanti. Tp kemarin, hari pertama saya ke sekolah saya langsung jatuh cinta aja sama anak-anaknya. Mereka semangat aja belajar. Nanti masalah sekolah ini akan saya tuliskan lebih lanjut di tulisan saya selanjutnya, minggu depan kalau saya sudah pulang kampung ke Sampit. Kenapa? Di tempat yg baru sinyal internet belum ada, bisanya teleponan doang. Tapi syukur alhamdulillah masih bisa teleponan.

Itulah penampakan "dermaga"belakang rumah dinas saya. Ceilehhh dermaga soalnya saya bingung istilahnya apa, kalau orang sini sih bilangnya "batang", ini tempat longboat atau perahu berhenti, tempat dipakai nyuci dll. Nama desanya adalah Desa Paring Raya, Hanau. Untuk ke desa butuh waktu dua jam naik mobil dengan kecepatan standar 80km/jam dari Sampit. Setelah itu saya masih harus menyeberang lagi naik longboat selama kurang lebih 30 menit untuk sampai ke desa dari dermaga di Hanau. Eits jangan dibayangkan itu menyeramkan, perjalanan air ini cukup menyenangkan, sepanjang jalan saya masih bisa melihat monyet gelantungan di pohon-pohon dipinggir sungai. Sesuatu yang saya nggak lihat di kampung saya di Jawa. Nahh di "batang" yang ada di foto itulah saya turun dari longboat. Biayanya cukup murah, dua puluh ribu saja kalau tidak pakai tiket dari dermaga, tiga puluh ribu kalau pake tiket. Lain kali akan saya foto longboatnya, kemarin nggak sempat.

Hari Rabu kemarin adalah kali pertama saya kesana naik longboat, dua bulan lalu saya ke desa saya pilih jalan yg nyeberang sungainya dekat aja, kemarin kebetulan ada guide nya dan udah ketinggalan longboat. Loh kok bisa? Yup, longboat nya dalam sehari hanya satu kali pulang pergi. Pagi sekitar jam 7.30 kalau mau ke desa dan aore sekitar jam 3 kalau mau ke kota. Tapi ada alternatif lain kalau situasi mendesak, kita bisa pakai perahu kecil milik warga desa.

Beberapa kemudahan saya dapatkan, beberapa bantuan datang tanpa saya minta. Alhamdulillahirabbil aalamiin.
Pertama waktu nunggu longboat di dermaga, saya ketemu bapak pengawas SD di desa saya yang kebetulan adalah teman sekolah mama mertua saya. Kepala Sekolah saya juga ada disana. Ketika sudah naik longboat, ternyata yang duduk di belakang saya adalah pak RT dan istrinya dan beliaulah yang membantu mengangkat barang-barang saya ke rumah dinas. Allah masih memberi saya kemudahan, sesampainya dirumah, anak-anak desa yang sekolah SMP datang kerumah dan merekalah yang bersih-bersih rumah. Ada teman guru dan salah satu penduduk desa yang kerja di kantor desa yang nyediain minuman. Bukannya saya pelit, saya baru datang dan belum bongkar-bongkar bawaan, saya juga orang baru nggak tau dimana letak warung buat beli es untuk mereka. Bantuan lain datang menjelang sore, pak sekdes datang melihat PLTS dirumah, apa lampunya bisa nyala. Beliau juga yang ngecek aki dan segala macamnya, karena saya ini apalah, nggak berilmu dalam perlistrikan tenaga surya.
keesokan harinya, ada bapak "pembekal" atau dulunya kepala desa datang kerumah, berterimakasih sudah mau datamg ke desa menjadi guru. Beliau cerita, di desa kasian anak-anak nggak ada gurunya, sering libur karena guru SD nya cuma ada 1. Bayangkan aja, 6 kelas dengan satu guru. Rasa menetes airmata ini di hati, malu sih mau nangis di depan beliau. Sedangkan di kota, guru-guru sampai pusing karena kekurangan jam, banyak gurunya. Nggak cuma itu, anak-anak juga yang pagi-pagi sudah rela masuk dalam tandon dan menyikatnya sampai cling. Tetangga sebelah juga yang ngisikan tandon airnya dari sumur beliau supaya saya tidak susah harus mandi di sungai. Sungguh,saya terharu. Saya bahkan bukan orang yang selalu baik dengan orang, saya sering ngomel2 tapi Allah masih memberikan banyak kemudahan. Fabi ayyi aalaa irabbikumaa tukadzdzibaan..
Nih senja dibelakang rumah, cantik kan? It's beautiful life,watching that sunset with my lovely husband. Apalagi kalau ada backsoundnya lagunya Via Vallen "pikir keri"; hahaha...salah ya. Nggak cocok.

Ini nih mungkin cocok kalau sambil dengerin lagu Koes Plus
"...bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala bisa menghidupimu.."
Itu anak sama mamanya lagi ngambilin ikan. Enak kan?
Ikan melimpah dibelakang rumah, nggak usah beli. Pagi mau ngajar pasang pancing, siang pulang ngajar bisa langsung nggoreng ikan, makan pakai sambal. Mantap.

Mungkin awalnya nggak akan mudah karena jujur saya sendiri sudah biasa hidup di kota, biasa listrik terang benderang, internet lancar, mau makan apa bisa beli. Tapi inilah fase hidup yang baru. Mungkin saya akan lebih bermanfaat ditempat ini,di kota mah sudah banyak yang mau ngajarin,sudah banyak guru-guru pintar. Saya ini apalah cuma rerontokan aja. Tapi melihat binar di mata anak-anak di desa kemarin, saya harus memompa semangat lebih dalam diri saya. Kalau sesuai SK saya sih ngajar Bahasa Inggris SMP, tapi anak-anak SD kemarin dengan antusiasnya nanya "bu, boleh lah ulun (saya) belajar di rumah ibu?"
"Bu, bisalah belajar mengaji diwadah (dirumah) pian?"
Yup, boleh aja. Selama ibu ada dirumah, datang aja. Bawa aja kalau ada buku mengaji dan buku lainnya. Benar kata bapak kepala dinas kemarin, guru kalau di desa dikira serba bisa. Kalau ngajarin ngaji saya masih bisa aja pak, kalau disuruh nyanyi di acara nikahan warga saya nyerah.

Mudah-mudahan Allah menjaga anak saya juga. Bismillahirrahmanirrahim, let's fight a new battle my beter half and my only sunshine. Suami saya pun bilang "abang jatuh cinta dengan desanya"..ehemmmm... boleh nggak saya Ge-eR jatuh cintanya karena ada saya di desa? Hahaha...


Thursday, January 31, 2019

Gurunya baper atau siswanya yang bertingkah

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaiku warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat malam.

Saya mulai ngajar tahun 2012, pada waktu itu setelah melalui empat tingkatan tes akhirnya saya bisa bergabung di Lembaga Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang. Tiga tahun saya mengabdi disana. Menghadapi berbagai macam tipe mahasiswa. Waktu itu saya masih single (belum menikah bukan belum ada calon πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€). Selisih umur masih dikit aja dengan mahasiswa, the class was fun and I enjoyed my teaching carier back then. Tipe mahasiswa macam-macam dong, yang sweet sampai bikin dosennya kena gejala diabet, ada. Yang cuek nggak ketulungan, ada. Yang pinter dan populer, ada. Yang ndugal, ada. Perlakuan saya ke mereka? Beda. 

Sejak menikah pada akhir tahun 2015, saya pindah ke Kalimantan. Menikmati dirumah sebentar dan mulai ngajar lagi di UNDA tahun 2016. Kondisi kali ini berbeda, kebetulan saya ngajar kelas malam. Tapi mahasiswa dimana-mana tetap sama, macam-macam tipenya. 

Awal tahun 2017 saya mulai ngajar juga di salah satu SMK Negeri di kota ini. Pengalaman pertama. Empat tahun cuma dikelas dengan mahasiswa, dikelas dengan siswa rupanya jauh berbeda. Saya sih sudah memprediksi bahwa jadi guru butuh lebih banyak stok sabar. Tapi benar-benar beyond my expectation karena ternyata SMK lebih seru-seru sedap daripada SMA (dulu saya PPL nya di SMA, jadi tau sedikit lah). Selain sabar, jadi guru menurut saya harus lebih pintar. Kenapa? Kalau ngajar mahasiswa, mereka sudah lebih matang dan bisa menggunakan lebih banyak nalar mereka sehingga dosennya seringkali tidak harus menjelaskan banyak. Tugas. Quiz. Paper. Deadline. Nilai keluar, meskipun nggak lulus ya rektornya nggak protes, kaprodinya ok aja asal memang ada buktinya. Di sekolah, mau ngasih tugas, harus njelasin panjang sepanjang jalan kenangan, udah gitu pas udah dikasih tugas, besoknya on the due date banyak yang lupa. Alasannya macam-macam, banyak tugas lah, mati listrik lah, nggak bisa lah, minggu kemarin nggak masuk lah. Pokok e alasan e sak kresek kalau kata orang jawa. 

Itu sih sebagian kecil sisi akademik nya, dari segi sikap pun beda. Di sekolah jadi wali kelas, wowww...emejing. Daebak!! Hari-hari berlalu dengan panggilan-panggilan. Belum lagi keluar masuk kantor kepala sekolah. Nggadem. Di kantor kepsek aja yang berAC. hahaha. Enggak ya, mendampingi anak buah yang bermasalah. 

Lalu apakah perlakuan saya sama kepada semua siswa? Tidak. Itu jawaban jujur saya. Saya yang kurang ilmu ini cenderung condong pada siswa-siswa baik, atau yang terlihat baik dimata saya. Saya bilang "terlihat" karena setelah beberapa kejadian razia di sekolah dan lain sebagainya beberapa siswa baik itu ternyata sikapnya kurang baik. Kecewa dong saya. Padahal kita memang sudah dilarang berharap pada sesama manusia supaya tidak kecewa karena bagaimana bisa kita kecewa kalau tidak berharap. 

Setelah saya renungkan kembali, saya cenderung bersikap berbeda kepada beberapa siswa tersebut. Dan beberapa hari ini saya berpikir, harusnya seorang guru bersikap sama pada setiap siswa bagaimanapun siswa tersebut telah mengecewakan. Am i wrong? Bukan bersifat subjektif, tapi apalah saya ini...Apakah adil kalau siswa-siswa yang bermasalah itu akhirnya kita kurang perhatikan karena sudah males audah capek sudah bosan dengan kelakuannya? Jadi apakah gurunya yang baperan atau siswanya memang bertingkah diluar nalar? Sedangkan konsep adil sendiri kan nggak harus sama.
Mungkin dengan kasih sayang dan kelapangan hati gurunya, siswa-siswa tersebut bisa kembali baik. Tapi apakah mudah? Let's see. I'm trying my best. 

-curhatan sambil nunggu mahasiswa yang lagi lomba nulis vocabularies-

Monday, January 14, 2019

Siswa Gen Z dan Guru Gen Y dan X di sekolah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat sore
Semester baru sudah mulai aktif sejak senin kemarin. Harapannya sih semester baru semangat baru. Sebagai guru dan wali kelas saya berharap anak didik saya yang imut dan lucu itu bersikap lebih baik.
Tapi yang namanya harapan kadang jadi kenyataan kadang tidak. Sebagian memang tetap bersikap baik as usual, sebagian yang bersikap "semau gue" as usual juga. Baru beberapa hari masuk sekolah, ngecek daftar hadir siswa, gurunya sudah sakit mata. Itu banyak banget "A", kalau nilai maka banyak C. Dan surprise-nya adalah ketika ditanya "kenapa kemarin nggak masuk nak?" Jawabannya luar biasa "mengelandau bu." (Bangun siang bu.)
Sedih kan? Saya gurunya sedih juga. Masak sekolah sebercanda itu? Setidakbertanggungjawab itukah anak umur 17 tahun-an?

Kalau anda pernah membaca tentang teori generasi, dalam teori generasi (Generation Theory) yang dikemukakan Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin, (2004) generasu dibedakan menjadi 5 berdasarkan tahun kelahirannya, yaitu: 
1. Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964; 
2. Generasi X, lahir 1965-1980; 
3. Generasi Y, lahir 1981-1994, sering disebut generasi millennial;
4. Generasi Z, lahir 1995-2010 (disebut juga iGeneration, GenerasiNet, Generasi Internet); 
5. Generasi Alpha, lahir 2011-2025. 
Masing-masing generasi tentu berbeda tumbuh kembangnya.

Dari teori tersebut, mayoritas anak didik di sekolah saya masuk Gen Z dan guru-gurunya gen X dan Y. Lalu masalahnya apa? 
Berdasarkan teori tersebut disimpulkan bahwa tahun-tahun ketika gen X ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Penyimpanan data nya pun menggunakan floopy disk atau disket. MTV dan video games sangat digemari masa ini. Sedangkan gen Y yang dikenal dengan generasi millenial banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Tanggung jawab mereka masih cukup besar untuk hal-hal mendasar dalam hidup. 

Disisi lain, gen Z yang kerennya disebut iGeneration sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Mereka mampu melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan dunia maya dalam satu waktu. Ibarat kata no gadget and internet no life. 

😒😒😒

Banyak siswa disini yang lebih rela beli paket internet daripada beli buku. Masalah? Iya. Kalau internetnya dipakai untuk menunjang belajar sih oke aja. Tapi mereka lebih aktif dengan sosmed dan hal-hal receh lain. Di sekolah tempat saya mengabdi, sering kejadian HP siswa disita guru. Kenapa? Jelas dong alasannya, mereka menggunakan HP itu untuk sesuatu diluar pelajaran di waktu yang salah.  Padahal jika kita mengikuti perkembangan dunia teknologi informasi, gadget bisa digunakan sebagai sarana untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang inovatif sekaligus menyenangkan. Jika siswa menggunakannya untuk tujuan belajar, mereka bisa mendapatkan informasi dari berbagai sumber daripada cuma sekedar mendapatkan apa yang diberikan oleh guru di kelas. Kuncinya apa? Menurut saya sih nggak gaptek dan mau membaca. 

Sebagai siswa apalagi sudah jenjang sekolah menengah atas atau kejuruan, harusnya taunya nggak cuma main sosmed dong. Jangan sampai sosmed nya aktif tp sama sekali nggak tau domain-domain sumber belajar online. Belajar bahasa Inggris misalnya, gurunya kan bukan native speaker ya jadi untuk lebih mendalami Bahasa Inggris dari native speaker para siswa bisa lihat-lihat di engvid.com, british council, american english, dll. Kalau tidak paham kan bisa munculkan subtitle-nya. Tapi itu tidak akan mudah kalau tidak ada motivasi dari siswa itu sendiri. Hal lain adalah, jika belajar Bahasa Inggris mau tidak mau mereka butuh kamus. Sebenarnya sekarang bisa akses kamua online atau instal kamus offline di HP nya tapi banyak yang memilih nggak memilih dua-duanya (kan HP siswa ini bagus-bagus yaa...tapi kenyataannya kalau disuruh beli buki atau fotocopy bilangnya nggak punya uang...sedih kah?). Banyak siswa yang memilih tidak bawa kamus cetak dan kamus di HP nggak ada juga. Greget kan ngajar Bahasa Inggris disini? 

Pengaruh lainnya adalah, siswa iGeneration ini sering acuh. Bukan cuma acuh pada tugas dan kuwajibannya tapi juga pada lingkungannya. Mereka rela main online game sampai tengah malah bahkan sampai nggak tidur. Demi apa? Demi "range". Rela tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah. Demi apa? Demi samadengan temennya yang main game. Supaya apa? Supaya dibilang keren juga. 

Lalu apakah semua peserta didiknya begitu? Tidak. Yang tidak ini jadi penghiburan bagi para guru disini. Paling tidak diantara 36 siswa dikelas adalah dua sampai lima orang yang bisa dibilang good student. Gurunya yang sekolah lebih dulu dengan kurikulum yang berbeda, masih selalu berharap bahwa apapun kurikulum yang diterapkan, sikap dan karakter siswa adalah hal yang utama. 

Bagaimana jika tidak? Kadang, bapak/ibu guru sesekali ngomel di kelas boleh dong. Kenapa? Karena gurunya peduli. 

Teknologi informasi boleh maju, tapi sikap dan karater kita harus tetap pada hakikatnya. Manusia. Beda generasi wajar, tapi apapun generasinya, sikap yang baik tidak boleh hilang dari kita, manusia.


- Dari ibu guru Bahasa Inggris yang hari ini ijin tidak masuk sekolah karena suatu urusan -




Friday, January 4, 2019

Perjuangan lain, ASI eksklusif

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Good morning...

Kali ini saya akan menuliskan tentang menyusui atau yang biasa disebut mengASIhi oleh mamud mamud dan bunda-bunda ketcehh. Kenapa menyusui saya tuliskan disini? Kalau mungkin ada yang mbatin "halah menyusui aja ditulis. Sudah kodratnya kaliiii"
Eitsss...memang sudah kodratnya, tapi menyusui tidak se-simple tulisannya gaessss. Ada banyak ibu yang tidak berhasil menyusui, bukan karena mereka tidak ingin, tapi situasi dan kondisi yang membuat mereka gagal menyusui. Ada juga kelompok ibu-ibu yang lain, yang memang menganggap menyusui atau mengASIhi itu bukan hal yang penting-penting amat untuk diperjuangkan. Ada juga tipe ibu-ibu yang lain lagi, yaitu ibu yang setengah mati bertekad dan akhirnya berhasil menyusui bayinya sampai 2 tahun bahkan lebih. Nggak percaya? Please look at every mother in your environment. Am I wrong?

Lalu tipe yang manakah saya??? Saya tipe yang ketiga. Alhamdulillah saya mendapatkan nikmat menyusui itu sampai dua tahun bahkan sampai sekarang anak saya dua tahun tiga bulan. Kalau ada yang berpikir saya menuliskan ini karena mau pamer, please stop. Saya cuma ingin berbagi, siapa tau ada ibu-ibu di luar sana yang saat ini sedang galau karena keadaan dan situasinya tidak memungkinkan untuk menyusui padahal mereka ingin. Let's support each other. Every mother is special. Believe that we can make it. 

Okay, pertama saya ceritakan dulu situasi dan kondisi saya. Saya, ibu rumah tangga berusia 29 tahun, saya istri, saya guru di sebuah SMk Negeri di kota Sampit dengan jumlah jam mengajar 30 jam per minggu, saya juga ngajar di sebuah perguruan tinggi swasta 6x seminggu, saya dirumah nggak punya pembantu dan saya tinggal dengan ibu mertua. Cukup padat merayap kan ya jadwal?

Menyusui bukan cuma keinginan ibu saja, tapi lingkungan dan dukungan juga berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Pertama dukungan suami, alhamdulillah saya beruntung suami saya mendukung dengan sepenuh jiwa dan raganya. Saya dan suami kebetulan sepakat. Kedua, dukungan dari orang terdekat lain, seperti orang tua atau mertua. Kalau ini, saya belum sepenuhnya dapat. Kenapa saya bilang belum sepenuhnya? Mereka tidak melarang saya menyusui tapi tidak juga estrim harus ASI. Di awal-awal saya kembali bekerja setelah cuti, mertua saya bilang untuk kasih susu formula saja. Praktis katanya. Betul nggak? Pendapat beliau tidak sepenuhnya salah. Karena kalau susu formula beliau gampang buatnya, kalau anak saya minum ASIP ketika saya kerja, kan prosesnya agak lama untuk nunggu ASIP tadi siap diminum si baby. Tapi saya bersikeras untuk tetap memberi ASI. Kalau mama saya sih agak slow, no matter what I choose she will support. Biar bagaimanapun dukungan dari orang-orang terdekat saya dapatkan. Mendukung bukan hanya sekedar kata "iya saya dukung", tapi ada tindak lanjutnya. Suami dan mama mambantu saya menjaga si baby jadi saya punya cukup waktu untuk istirahat. Mama juga sering masak, dan saya dong yang makannya paling banyak dirumah. πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Saya pakai pompa manual aja


Selain dukungan, tekad juga memegang peran penting. Jika memang ingin full ASI eksklusif bahkan sampai dua tahun, please jangan mudah goyah. Biarpun halangan rintangan menghadang tetaplah pada tujuan. Bagi ibu yang bekerja, solusi yang paling pas menurut saya adalah memompa ASI saat sedang bekerja. Sebenarnya bisa saja ibu pulang pergi untuk menyusui anak setiap dua atau tiga jam, tapi kadang itu tidak bisa kita lakukan. Kadang tidak semua situasi dan kondisi memungkinkan. Memompa ASI pun butuh keuletan dan kesabaran. Di kota-kota besar, perusahaan-perusahaan sudah menyediakan tempat untuk ibu-ibu memompa ASI (ibu-ibu bisa cari peraturannya ada), tapi untuk yang tinggal dikota kecil seperti saya, di sekolah tempat saya bekerja tidak ada disediakan tempat untuk itu jadi saya biasa memompa ASI di UKS. What?? Iya di UKS. Saya kunci. Kalau sedang ada anak-anak sakit saya malah sanggup memompa di ruang guru. Lhooo??? Kan ada apron menyusui, atau kalau ibu pakai jilbab yang besar itu cukup membantu. Dan rekan-rekan kerja sudah paham aktivitas rutin saya tersebut jadi everything runs well. 
Nah salah satu saksi bisu saya di sekolah.


Well, capek? Ribet? Malas? Semua itu harus kita singkirkan kalau kita mau tetap menyusui ASI eksklusif dan kita kerja. ASI adalah kuwajiban kita, tanggung jawab ibu, dan hak anak. Bagi ibu yang beragama Islam, di Al-Qur'an juga aa ayatnya tentang menyusui ini. 

Surat Al Baqarah ayat 233 yang mengandung arti “Para Ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban Ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kemampuannya. Janganlah seorang Ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang Ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

surat Al Ahqaf ayat 15 yang berbunyi “ Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa”Ya Allah tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan Ibu Bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan kebaikan kepada naak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau an sesungguhnya aku termasuk orang orang yang berserah diri”.

Surat Lukman ayat 14 yang berbunyi “ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah tambah dan menyusuinya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kamu kembali.

Jadi berbekal dari itu saya berusaha semampu saya untuk menyusui Ziya ASI eksklusif. Ibu harus kuat mental juga. Ada sekelompok orang yang tidak paham akan pentingnya menyusui dan bahkan mencibir, saya senyumin aja. Dalam hati sih bilang "lihat aja anakku sehat, tumbuh kembangnya baik". Sempat sih karena jengkel dikomentarin saya bilang aja "harga susu formula mahal, nggak kuat beli"... hahahaha...

Selama saya menyusui saya tidak pernah punya stok lebih dari satu freezer. Kenapa? Karena saya selalu usahakan menyusui langsung selama saya bisa. Tapi meskipun stok ASIP tidak satu freezer khusus ASI full, anak saya tidak pernah kehabisan stok ASI. Jadi ibu-ibu yang nggak bisa nyetok ASIP banyak, jangan berkecil hati. Selama anak kita masih menyusu langsung dengan kita semua akan baik-baik saja. Kalau ada yang bilang ASI ibu sedikit, anaknya tu nggak kenyang jadi nangis, dikasih susu formula aja supaya cepet kenyang. Ibu lempar aja pakai daun katuk. Ehhh..jangan bu, daun katuknya disayur aja. Ibu senyumin aja, anak kita nangis bukan melulu karena pengen nenen. 
Itu adalah stok ASIP saya di freezer. 
(Saya pilih pakai botol karena ekonomis)

Hal lain adalah, waktu dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kita menyusui. Jadi konsistensi kita sebagai ibu juga diuji. Kita sebagai ibu harus bertekad paling kuat, untuk siapa? Untuk anak kita, juga untuk kita. Supaya sebagai ibu kita memberikan contoh yang baik, bahwa hak setiap orang harus kita berikan. Mungkin anak-anak masih belum paham apa itu hak dan kuwajiban, tapi anak-anak akan merasakan kasih sayang dan ketulusan kita. Anak-anak akan dekat dengan kita. Anak-anak akan berbakti pada kita. IBU. IBU.IBU. AYAH. 

Terakhir ini tips dari saya supaya ASI ibu tetap melimpah:
1. Berpikiran positif. Selalu berpikir bahwa ASI kita cukup. Karena berpikiran negatif akan emmbawa energi yang negatif pula. Akan membuat ibu stress dan akan berpengaruh pada produksi ASI.
2. Makan sayuran hijau, kacang-kacangan dan juga buah-buahan. Sayuraan seperti daun katuk, bayam, daun kelor dipercaya bisa memperlancar ASI. Kacang-kacangan seperti kacang kedelai atau olahan kacang kedelai juga bagus. Saya rutin mengkonsumsi susu kedelai home made. (Lain kali akan saya tuliskan bagaimana membuatnya supaya rasanya enak dan tidak langu). Makanlah secara teratur dan jangan batasi asupan makanan karena takut gemuk dll. Tapi kalau udah kenyang berhenti ya bu ibuuuuu..  
3. Istirahat. Bagi ibu, cukup istirahat akan mengembalikan tenaga dan kondisi ibu setelah kelelahan beraktifitas. Dengan istirahat yang cukup tubuh ibu akan lebih bugar.
4. Minum suplemen pelancar ASI. Jika memang ibu tidak sempat masak sayur-sayuran, ibu bisa mengkonsumsi suplemen pelancar ASI. Sekarang sudah banyak macam dari mulai yang pil sampai yang minuman dengan berbagai varian rasa. Pilih yang ibu suka. 
5. Terakhir ini oke banget bagi saya. Hahahaha. Tanggal muda, gajian plus transferan dari suami. Jadi ada ASI tanggal muda yang dua kali lipat dari biasa... πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜€

Semoga tulisan saya ini bermanfaat, paling tidak buat saya sendiri supaya ingat nanti kalau anak kedua. Dan saya menulis ini bukan berarti saya nyinyirin ibu-ibu yang ngasih susu formula. Saya tetap mendukung apapun keputusan ibu-ibu karena apapun itu pasti sudah dipertimbangkan dengan baik. 

Ini ada link jua buat dibaca-baca sambil makan pisang goreng

Mari bersama menjadi Ibu yang lebih baik. 
Selamat akhir pekan. Happy weekend. 😊😊😊




Tuesday, December 25, 2018

Lipstick Vs Alat Pancing

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh everybody. 😊

Postingan ini uneg-uneg saya yang saya tujukan untuk semua orang di dunia ini yang sudah punya pasangan, dan yang akan punya pasangan. Jadi jomblo-ers bisa aja nimbrung kalau mau. πŸ˜€πŸ˜€

Kenapa sih kok judulnya gitu amat???
Sebenarnya sih not literaly lipstick Vs Alat Pancing, cuma itu pengalaman saya aja. Kalau lipstick pasti hubungannya dengan cewek ya, perempuan, wong wadon, awewe, women. Sedangkan alat pancing identik dengan laki-laki.

Sebagai perempuan saya nggak begitu berwawasan luas soal alat pancing, bagi saya ya pokoknya bisa dibuat mancing. Setelah saya nikah, kebetulan suami suka mancing dan saat itu memang sudah punya alat pancing. Katanya sih harganya nggak sampe satu juta. Dan katanya juga itu masih yang biasa. Setelah saya browsing, googling, juggling (hehehe..ini enggak) memang iya sih, harga segitu itu yang biasa. Doi sih biasanya mancing kalau pas libur aja, hari Minggu, seminggu sekali aja dengan teman-temannya. Saya sih nggak masalah ya...itu hobinya. Suatu hati doi bilang mau beli pancing lagi. Saya nanya dong "lahhh..kan udah punya pancing dirumah yank?"
Kata dia "ini pancingnya lain, buat mancing ikan yang stick pancingnya bisa dipanjang pendekin".7
Masuk akal juga, jadi cuma saya sahutin "ohhh..."
Di lain waktu pas kami jalan doi mampir lagi ke toko alat-alat pancing, mau beli umpan katanya. Saya yang nggak paham pancing memancing nanya lagi "dirumah kayaknya udah banyak umpan yank,kenapa beli lagi?"
Jawabannya sebenernya panjang sih, tapi dari panjangnya penjelasan doi bisa saya simpulkan bahwa umpan memancing yang dibutuhkan berbeda tergantung pada apa yang akan dipancing, apakah udang, ikan atau yang lain (mancing mahasiswinya misalnya...😁😁😁
Kalau ini mahhh saya tang terpancing emosi)
Sejauh ini sih saya masih oke aja, selama kewajiban doi kepada keluarga sudah terpenuhi.

Emmm..tapi alat-alat pancingnya saya nggak bisa foto, takut nggak bisa balikin lagi ketempatnya dan ntar malah kena omel. πŸ˜‚πŸ˜‚

Di sisi yang lainnya ada lipstick. Kenapa lipstick? Karena itu adalah alat make up yang paling sering saya beli. Kalau yang lainnya sih punya satu aja cukup, maklum saya nggak begitu suka dandan yang macem-macem. Pelembab, bedak, dan lipstik sudah cukup. Kenapa saya nggak dandan? Nggak bisa pemirsahhhh yang budiman.... 😁😁😁
Balik lagi ke lipstick tadi, saya sudah punya lipstick dan kalau pas lagi belanja bulanan dengan doi saya masih juga beli lipstick, jadi doi nanya dong "lipstick yang kemarin udah habis yank?"
Dengan ekspresi nggak salah gitu "masih. Ini lain warnanya."
(Dalam hati sihh ini bilang please don't complaint, I'll do the same for your things)
Doi nggak punya pilihan selain setuju dan langsung ndorong keranjang belanjaan ke kasir.
Eitsss....ini bukan pemborosan ya, saya beli lipsticknya yang murah-murah aja kok, dibawah 100rb, dibawah 50rb ada juga. Masih mahalan alat pancing kaliiiiii.... 😩😩
Nahhh bener kan yang murah-murah aja saya belinya.

Warnanya pun meskipun beda ya kisaran warna nude sampe pink aja. 

Terus apa hubungannya ini dengan kalimat pertama saya di postingan ini. Apa hubungannya dengan pasangan? Daritadi ngomongin mancing lipstick aja. 
Let's take a deep breath...
Sama seperti saya beli lipstick; doi beli alat pancing; itu dua hal berbeda tapi sama. Sama-sama kesukaan; iya kesukaan masing-masing. ΔΆarena laki-laki dan perempuan itu beda jadi akan sulit kalau kita harus selalu menyukai hal-hal yang sama dengan pasangan kita. There's nothing we can do about that. Yang bisa kita lakukan ya saling memahami, memaklumi bahkan kalau hobby pasangan kita kaya anak-anak misalkan main game. Masih bersyukur aja daripada hobinya mainin anak gadis orang. Eaaaaahhhh... πŸ˜…πŸ˜…
Meskipun sesekali kita akan jengkel juga, sayapun bukannya nggak pernah jengkel dengan hobi doi. Saya jengkel tapi saya milih diem aja, paling saya sentil sesekali kalau momennya oke. Momen yang tepat itu penting, sama kaya saya pas lagi asik nonton drakor atau baca novel terus doi marah-marah kan mood saya langsung jelek. Hal yang sama berlaku juga buat pasangan kita. Jadi kalau mau ngomong kalau saya nggak suka ini atau nggak suka itu, ngomongnya pas doi lagi happy (habis gajian misalnya....hahaha )
Karena kita sudah menikah bukan berarti kita harus kehilangan hobi atau kesukaan kita kan? Ada hal-hal yang kita sukai bersama ada yang enggak itu wajar. Jadi ini reminder buat saya juga supaya jangan maunya menang sendiri, jangan maunya hobinya aja yang disetujui tapi nggak mau menyetujui hobi doi. Jangan ya.. diluar sana banyak lo yang siap menampung aspirasi doi...(ups...) tapi iya kan?? πŸ˜‡πŸ˜‡
Karena sebagai pasangan kita harus selalu rukun, no matter what happen. Kalau mama papanya, abah mamanya, ayah bundanya kerjaannya ribut mulu apalagi cuma gara-gara hobi kan kasian anak. Kenapa? Karena orang tua adalah contoh pertama yang dilihat anak. So, let's try to be a good one.

Have a nice holiday... 😊😊😊
Kalau kitanya happy, happy juga dedek






Monday, December 24, 2018

Komentar, saran atau kritikan?

Assalamu'alaikum, Wr.Wb.
Good evening... 😊😊

Well, masih nglanjutin postingan saya sebelumnya ya. Masih seputar ibu dan anak. Dipostingan saya sebelumnya saya tuliskan beberapa alasan kenapa saya nulis dengan topik itu ya...
Yang belum baca postingan saya bisa cek dulu, biar saya maskeran dulu. πŸ˜„ yaelah usaha banget ya pengen cantik. 
.
.
 .
Okay, let's start talking.
Pertama, saya sudah melewati berbagai saran, kritikan, dan nyinyiran. 
Tentang apa ini? Dulu waktu masih hamil, tentang kehamilan. Well, sebenarnya sih saya open aja terhadap saran dan kritik. Cuma kalau menurut saya it doesn't make sense ya akhirnya akan cuma lewat ditelinga saya aja. Misalnya ni jangan duduk di pintu nanti bayinya susah keluar, atau jangan makan pedas nanti anaknya belek'an, dll. Ibu-ibu yang sudah pernah hamil mungkin sudah familiar dengan hal-hal tersebut. Tapi saya mah cuek aja, saya nggak makan terlalu pedas waktu hamil bukan karena takut anak saya belek'an tapi takut sakit perut. 😁 
Hal lain lagi adalah kalau hamil rajin-rajinlah belajar supaya pintar...ehh bukan. rajin minum air kelapa muda supaya anaknya bersih dan putih. Emmm....saya emang rajin minum air kelapa muda sih, tapi lebih karena doyan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Setelah si baby udah lahir, muncul lagi pro kontra di sekitar. Apa? Apalagi kalau bukan ASI vs sufor. Sejak tau kalau hamil sih saya sudah bertekad bulat untuk full ASI. Tapi pas ziya lahir dan saya harus kerja lagi, ada suara-suara yang bilang "dikasih sufor aja" tapi saya tetep kekeuh dengan pendirian saya, dan alhamdulillah sekarang Ziya sudah 2 tahun 2 bulan dan masih ASI. (Kisah perjuangan per-ASIan ini akan saya tulis di lain waktu, spesial, beserta tips and trick nya supaya sukses full ASI). 
Nahh biasanya kalau kenyang nen langsung tidur, dimanapun dan kapanpun.


Setelah masalah ASI, ada lagi suara soal MPASI. Kan ada yang home made ada yang kemasan nih bu ibu. Nah, beberapa orang menyarankan supaya diberi MPASI kemasan aja supaya nggak ribet katanya. Well, yang ngasih MPASI siapa yang ribet siapa? πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…
Dan Ziya ini sehati dengan mamanya, maunya MPASI home made. Jadi seneng dong ya emaknya, Ziya minum ASI dan makan MPASI home made. Bersoraklah riang gembira mama dan abahnya. Kenapa? Hemat beibbbbb.... πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜πŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜‚πŸ˜…
Kasian kan abahnya sudah kurus gitu, nanti mamanya lagi dikomen nggak bisa ngurus suami. 😒😒



Kedua, saya malas kalau menanggapi orang-orang yang nyinyir dengan cara yang sama. Lah kan kalau disini bisa jadi orang yang bersangkutan malah nggak baca? Emmmm.. iya sih, tapi ada kemungkinan juga beberapa orang akan membacanya. Dan mudah-mudahan terbuka hatinya untuk lebih menjaga lisan. Sebenarnya bisa aja sih kita membalas dengan nyinyir balik, toh setiap manusia pasti punya kelemahan. Cuma ya, apa manfaatnya? Bikin laper ajaaahhh... (makanan lagi...lagi... 😁) Lagian kalau ditulis itu akan long last. Iya nggak chingudeul? 

Ketiga, karena saya ingin mengasah kembali kemampuan menulis saya. Nahh...kalau yang ini saya juga menerima kritik dan saran yang membangun. Feel free to comment on my writing. πŸ˜‡πŸ˜‡

Jadi apa sih ini?
I just wanna say that you have the right to keep your life in your way as long as you do right. Kita punya hak untuk hidup dengan jalan kita sendiri selama itu benar. Benar itu yang gimana? Kalau menurut saya benar itu ya sesuai dengan ajaran agama yang kita anut dan tidak melanggar norma sosial. That's it. 

Good night good mom. Have a sweet dream. 😊
Yang nggak diucapin good night or have a sweet dream sama suaminya nggak usah ngambek, itu sudah saya ucapin. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Salam Guru Penggerak. “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”   ( Teach...